Tahu? Kegemukan Bikin Otak 10 Lebih Tua

Penulis: Darmansyah

Senin, 8 Agustus 2016 | 15:56 WIB

Dibaca: 0 kali

Kegemukan itu merusak otak.

Itulah hasil terbaru yang diungkap laman situs “the independent,” Senin, 08 Agustus 2016, mengutip  hasil penelitian  Universitas Cambridge.

Para peneliti di kampus terkenal Inggris itu  menemukan, obesitas membuat usia otak sepuluh tahun lebih tua dibanding otak orang yang memiliki berat badan ideal.

Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan orang obesitas atau indeks massa tubuh di atas dua pulouh lima dan menemukan  struktur otaknya terlihat jauh lebih tua atau sama seperti struktur orang yang lebih tua.

Selain itu ada bagian otak yang menyusut, yaitu materi putih di otak. Penyusutan bagian otak itu berkaitan dengan penurunan kognitif dan demensia.

Akan tetapi, dalam tes IQ tidak ada perbedaan kemampuan kognitif antara orang yang obesitas dan tidak.

Seiring bertambahnya usia, otak manusia memang menyusut, tetapi obesitas dinilai dapat mempercepat penuaan otak.

“Kami menemukan, orang-orang yang kelebihan berat badan memiliki volume materi putih yang lebih kecil dibanding mereka yang bertubuh ramping. Penyusutannya sangat signifikan,” kata peneliti utama, dokter Lisa Ronan dari Departemen Psikiatri di Universitas Cambridge.

Profesor Sadaf Farooqi, dari Wellcome Trust-Medical Research Council Institute of Metabolic Science di Cambridge mengatakan, sejauh ini penelitian belum menemukan dampak dari penuaan struktur otak yang lebih cepat itu.

“Ini harus menjadi titik awal bagi kita untuk mengeksplorasi lebih mendalam efek berat badan, diet dan olahraga pada otak dan memori ” kata dia.

Obesitas bukan masalah sepele. Obesitas pun harus dicegah sejak anak-anak dengan pemberian makanan seimbang dan rutin aktivitas fisik.

Obesitas mungkin termasuk penyakit otak yang diperparah pola makan gaya Barat. Ini kata sebuah penelitian baru.

Satu faktor kunci yang membantu mengontrol berapa banyak porsi makan adalah perasaan lapar atau kenyang, dan seberapa baik otak mengingat hal ini.

Para akademisi di Australia menguji sekelompok orang yang mengadopsi pola makan kaya gula dan lemak tetapi rendah sayur, buah dan serat. Kelompok lain makan lebih sehat.

Mereka yang menganut pola makan Barat ternyata lebih lambat dalam belajar, memiliki memori lebih lemah dibandingkan yang makan sehat.

Kelompok makan kurang sehat ini juga terlihat mengalami penurunan lebih kecil pada nafsu akan ngemil ketika perut penuh dibandingkan saat lapar.

Penemuan ini dilaporkan pada pertemuan tahunan Study of Ingestive Behaviour di Portugal. Efek serupa juga pernah terlihat pada eksperimen pada hewan sebelumnya.

Diperkirakan efek pola makan Barat itu mempengaruhi daerah hippocampus di otak. Hal itu bakal menghalangi kemampuan memblokir memori yang tak lagi diperlukan.

Normalnya memori akan makanan ada di garis terdepan pikiran ketika kita lapar. Namun memori ini terhalangi ketika tubuh terasa kenyang.

Tetapi proses ini tampaknya tidak bekerja dengan baik di kalangan yang makan tinggi lemak dan gula.

Peneliti Tuki Attuquayefio dari Macquarie University berkata,”Meskipun kenyang, mereka masih ingin makan manis dan berlemak.”

“Hal yang lebih menarik, efek ini sangat kuat terhubung dengan kemampuan belajar dan tugas memori. Hal ini menyimpulkan ada hubungan di antara keduanya lewat hippocampus,” katanya.

Riset sebelumnya menemukan orang dewasa paruh baya yang gemuk dan obesitas berisiko lebih besar kena Alzheimer’s dan bentuk penyakit kepikunan lain, dibandingkan mereka yang punya berat badan normal.

Anak kecil berusia paling muda tujuh tahun mungkin mengalami gangguan memori karena pola makan kaya lemak dan gula ini.

Studi-studi pada tikus sudah membuktikan bahwa pola makan ala Barat ini memperlemah pembatas darah-otak yang membantu melindungi otak dari zat berbahaya dalam aliran darah.

Anak yang gemuk memang terlihat menggemaskan.

Namun, jangan biarkan anak terus tumbuh ke samping sehingga kelebihan berat badan atau obesitas.

Anak yang obesitas lebih berisiko terkena penyakit jantung di kemudian hari.

Saat berusia sepuluh tahun, dalam tubuh anak obesitas sudah bisa terbentuk foam cell atau sel busa, yaitu sel berisi lemak.

Sel busa itu adalah cikal bakal terbentuknya plak yang bisa menyumbat pembuluh darah

Antonia mengatakan, anak seharusnya dibiasakan konsumsi makanan sehat sejak kecil. Anak juga perlu dibiasakan melakukan aktivitas fisik.

Kebiasaan orangtua dapat memengaruhi anak menjadi obesitas.

Anak yang obesitas hingga usia dewasa berisiko mengembangkan berbagai penyakit, seperti diabetes dan penyakit jantung. Timbunan lemak bisa mengganggu sistem metabolisme tubuh.

Penyakit jantung mulai banyak muncul pada usia dini akibat gaya hidup yang tidak sehat, seperti pola makan tidak sehat dan berlebihan, kurang aktivitas fisik, dan merokok.

Salah satu faktor risiko penyakit jantung memang adanya riwayat keluarga. Namun, dengan gaya hidup sehat, penyakit jantung bisa tidak muncul.

 

Komentar