close
Nuga Sehat

Tahu Dampak Kala Anda Cuti Olahraga?

Cuti olahraga?

Ya, ketika Anda memutuskan untuk berhenti sementara dari  rutinitas olahraga

Hal ini Anda lakukan karena  cidera, menderita penyakit, atau tak bisa mencari waktu di tengah padatnya aktivitas.

Tidak hanya warga “biasa,” atlet pun terkadang mengalami periode di mana mereka tidak bisa berlatih olahraga.

Namun, berapa lama jeda yang boleh kita lakukan sebelum terjadi perubahan pada fisik?

Bagian tubuh yang pertama-tama mengalami dampak dari cuti olahraga ini adalah sistem pembuluh darah dan jantung

Saat kita berhenti melakukan latihan kardio selama sepuluh hingga dea belas hari, volume pukulan, kapasitas olahraga dan output jantung akan menurun.

Pengukuran standar untuk penggunaan oksigen, VO2 max, juga akan turun sampai 20 persen dalam dua minggu.

Dampaknya akan sangat terasa ketika kita akan mulai berolahraga lagi. Penelitian menunjukkan, penurunan V)2 max akan mencapai level dasar setelah delapan  minggu tidak aktif.

Untuk atlet, penurunannya sekitar dua puluh lima persen setelah jeda tiga  minggu.

Jumlah itu signifikan untuk mereka yang harus melakukan kompetisi olahraga.

Perubahan pada massa otot biasanya baru tampak setelah tiga minggu jeda latihan beban.

Pada atlet, mereka baru akan mengalami perubahan setelah empat minggu, kecuali jika mereka memang butuh kekuatan dan koordinasi yang kuat, penurunannya akan terjadi dalam dua minggu.

Massa otot akan berkurang dalam dua hinga tiga minggu.

Sebagian orang menganggap ketika kita berhenti olahraga, bukan otot yang hilang, tetapi air dan glikogen atau dikenal sebagai cadangan energi di otot.

Kadar glikogen memang akan turun sampai lima puluh persen dalam dua minggu.

Sebuah penelitian menunjukkan, setelah tiga  minggu akan terjadi penurunan otot  satu setengah  pound karena berkurangnya air.

Meski otot terlihat lebih kecil, tetapi faktanya hal itu terjadi karena berkurangnya cairan. Namun, faktor usia berpengaruh besar pada seberapa banyak otot yang hilang.

Makin tua usia, makin cepat penurunannya.

Thyfault, PhD,  seorang profesor di Kansas University Medical Center, yang mengkhususkan dirinya belajar tentang efek olahraga terhadap kesehatan menegaskan, olahraga dan aktivitas fisik

Bukan sesuatu yang ekstra di dalam hidup Anda, dan bukan untuk mendapat bonus kesehatan.

Sebaliknya, olahraga dan aktivitas fisik adalah sesuatu yang memang harus ada dan dilakukan supaya tubuh kita bisa berfungsi normal,” katanya.

Thyfault menambahkan, aktivitas fisik termasuk olahraga bukan juga sekadar kegiatan membentuk, mengencangkan otot dan membakar lemak.

Fungsinya jauh lebih banyak dari itu semua dan Thyfault  pernah merekrut beberapa orang yang konsisten berjalan kaki setidaknya sepuluh ribu langkah setiap hari dan meminta mereka untuk mengurangi porsi aktivitas fisiknya tersebut menjadi sekitar lima ribu langkah sehari.

Hasilnya, Thyfault melihat perubahan dalam cara  pembuluh darah mereka bekerja dan seberapa baik mereka bisa mengendalikan gula darah setelah makan.

Nampaknya, setelah mengurangi porsi aktivitas fisik, tubuh para relawan tidak lagi bisa mengendalikan gula darah sebaik ketika mereka masih berjalan sebanyak sepuluh ribu langkah perhari.

Penelitian menunjukkan, mereka sedang dalam ‘perjalanan’ menuju diabetes tipe-2.

“Jika hal ini diteruskan, bukan tidak mungkin mereka akan benar-benar menderita diabetes,” kata Thyfault.

Hasil pengamatan Thyfault ini sejalan dengan hasil sebuah studi yang disponsori oleh pemerintah AS, yang disebut Program

Pencegahan diabetes. Para peneliti  merekrut lebih dari tiga ribu orang dewasa yang kelebihan berat badan dan dalam kondisi pradiabetes, kemudian mereka dibagai menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama dibantu untuk  menerapkan pola makan yang lebih baik dan berolahraga lebih banyak, yaitu seratus lima puluh menit dalam seminggu.

Kelompok kedua diminta mengonsumsi obat  metformin, yaitu obat yang membantu  tubuh merespon insuln dengan lebih baik.

Kelompok ketiga diberi pil plasebo.

Hasilnya, setelah empat tahun, kelompok pertama menunjukkan kemajuan yang lebih baik dari dua kelompok lainnya.

Sementara itu, Laurie J. Goodyear, PhD,  peneliti senior di Joslin diabetes Center dan profesor di Harvard Medical School juga mempelajari  efek olahraga pada lemak, khususnya jaringan lemak putih yang ada tepat di bawah kulit.

Kebanyakan orang tahu bahwa olahraga dapat membakar lemak. Itulah alasan utama mengapa banyak orang rajin berolahraga.

Tetapi jaringan lemak bukanlah sekadar sumber kalori ekstra.

“Jaringan lemak di tubuh kita memiliki banyak sifat lainnya,” kata Laurie. Olahraga dapat membuat jaringan lemak menjadi lebih sehat dan membantu membakar lebih banyak energi. ”

Secara khusus, Laurie mengatakan, aktivitas fisik dapat menyusutkan ukuran sel lemak individu dan mendorong sel-sel memroduksi lebih banyak komponen  penghasil energi yang disebut mitokondria.

Artinya, dengan aktif secara fisik, jaringan lemak akan membakar lebih banyak kalori, bahkan pada saat Anda sedang  beristirahat.

Olahraga juga mempengaruhi lapisan endotelium pembuluh darah. Lapisan ini hanya ada satu dan jika rusak, akan lebih mudah terjadi penggumpalan darah.

Michael D Brown, PhD, seorang profesor kinesiologi dan nutrisi di University of Illinois di Chicago, telah menemukan bahwa ketika tubuh tidak aktif, sel-sel dalam endotelium menjadi lamban dan tidak berada pada  dinding pembuluh benar.

Olahraga, yang menyebabkan darah mengalir lebih cepat, akan mendorong sel menempati posisinya dengan benar.

Sekitar dua belas jam setelah berolahraga,  sel-sel akan mereposisi diri mereka sendiri sejalan dengan aliran darah.

Hal ini membantu pembuluh darah bekerja dengan lebih baik, menjaganya tetap terbuka dan elastis, alih-alih menjadi kaku, sempit, dan tersumbat.

Di dalam otak, studi terbaru menunjukkan bahwa aktivitas fisik mampu membuat otak menjadi lebih terhubung dengan area putih yang berfungsi seperti kabel yang mentransmisikan sinyal antara sel-sel saraf.

Alhasil, orang yang aktif secara fisik akan memiliki kontrol diri, kemampuan mengingat dan mengambil keputusan yang lebih baik dari mereka yang jarang berolahraga atau beraktivitas fisik.