Studi Terbaru, Lemak Tak Membuat Gemuk

Penulis: Darmansyah

Selasa, 21 November 2017 | 08:02 WIB

Dibaca: 0 kali

Aaron Carroll, seorang profesor pediatri di Indiana University School of Medicine, secara mengejutkan membantah bahwa makanan berlemak bisa membuat seseorang gemuk.

“Konsumsi lemak tidak menyebabkan kenaikan berat badan. Sebaliknya, ini sebenarnya bisa membantu kita mengurangi beberapa kilogram,” sambungnya.

“Ada satu hal yang kita ketahui tentang lemak,” tulis Carrol

Selama ini, banyak orang menganggap mengurangi makanan berlemak dapat membantu menurunkan berat badan.

Ternyata hal ini salah.

Penelitian oleh Carol  membandingkan orang yang diet rendah lemak dan tinggi karbohidrat dengan orang yang diet sebaliknya.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa orang yang membatasi asupan lemak tidak mendapatkan penurunan berat badan atau manfaat kesehatan lainnya.

Sebaliknya, orang yang mengonsumsi makanan tinggi lemak tapi rendah karbohidrat seperti roti atau nasi cenderung menurunkan berat badan dan mendapatkan manfaat kesehatan lainnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa “penjahat” sebenarnya bukanlah lemak melainkan gula dan karbohidrat.

Sebuah analisis yang dipublikasikan pada Agustus lalu dalam jurnal The Lancet membandingkan lebih dari seratus tiga puluh lima  orang yang melakukan diet rendah lemak dan rendah karbohidrat di delapan belas negara.

Para peneliti menemukan diet rendah lemak lebih mungkin dikaitkan dengan semua penyebab kematian dan kemungkinan serangan jantung yang lebih tinggi.

Sedangkan orang yang diet rendah karbohidrat memiliki risiko yang jauh lebih rendah terhadap kedua hasil tersebut.

“Pedoman diet harus mempertimbangkan kembali temuan ini,” tulis para peneliti dalam jurnal tersebut.

Hal ini rupanya juga sejalan dengan penelitian lain. Sebuah penelitian yang melibatkan 50.000 wanita selama 8 tahun menunjukkan hasil yang sama.

Setengah dari wanita tersebut menjalani diet rendah lemak.

Hasilnya, wanita yang menjalani diet rendah lemak tidak mengalami penurunan risiko kanker payudara, kanker kolateral, penyakit jantung, bahkan tidak mengalami penurunan berat badan.

“Intinya? Bukti mendukung diet rendah lemak sangat sedikit, sedangkan bukti untuk keuntungan lemak tertentu sudah meningkat,” tulis Carroll.

Lemak sangat penting untuk pembekuan darah dan gerakan otot. Lemak juga merupakan bahan yang dibutuhkan untuk membangun membran sel (tempurung yang menampung setiap sel) serta perisai pelindung di sekitar saraf.

Lemak juga membantu kita menyerap vitamin dan mineral dari makanan.

Saat tidak memakan lemak, kita cenderung mengonsumsi karbohidrat dan gula. Keduanya sangat berkaitan dalam kenaikan berat badan dan obesitas.

Sebuah penelitian yang baru-baru ini diterbitkan dalam Journal of American Medical association menguji apa yang terjadi ketika orang-orang menukar sebagian kecil kalori yang mereka dapatkan dari lemak jenuh dengan kalori dari lemak tak jenuh.

Hal tersebut tampaknya berkaitan dengan banyak manfaat. Salah satunya mengurangi risiko kematian dan kondisi penyakit janting serta beberapa penyakit neurodegeneratif.

“Tidak semua lemak sama,” kata Frank B. Hu, seorang profesor nutridi di Harvard sekaligus penulis utama penelitian ini.

“Kita harus makan yang lebih baik dari ikna dan alpukat, bukan lemak hewani,” sambungnya.

Menurut situs kesehatan yang dikelola Harvard Medical School, lemak sehat termasuk yang berasal dari kacang-kacangan, ikan, dan minyak zaitun.

Sedangkan lemak tidak sehat adalah lemak trans yang ditemukan dalam makanan olahan dan lemak jenuh.

Dan tidak  banyak yang mengetahui apa yang terjadi pada lemak ketika berat badan menurun.

Tidak sedikit juga yang mengira bahwa lemak dibakar menjadi energi, walaupun pernyataan ini tidak sepenuhnya benar.

Lora A Sporny, seorang dosen edukasi nutrisi di Columbia University pernah mengulas pertanyaan ini dalam sebuah artikel yang ditulisnya untuk Scientific American.

Menurut dia, untuk menjawab pertanyaan tersebut, Anda harus mengetahui apa yang disebut lemak terlebih dahulu.

Pada dasarnya, lemak adalah senyawa kimia yang disebut dengan trigliserida. Terdiri dari sebuah molekul gliserol dan tiga rantai asam lemak, bentuk makromolekul dari trigliserida menyerupai huruf “E”.

Di dalam tubuh, mayoritas dari trigliserida disimpan dalam bentuk butiran minyak di dalam sel lemak yang membentuk jaringan lemak.

Mereka adalah bahan bakar yang digunakan untuk mendukung aktivitas tubuh, dan pada orang-orang yang kelebihan berat badan atau obesitas, sel-sel lemak menjadi sangat besar dan penuh dengan trigliserida.

Nah, ketika berat badan Anda menurun, enzim lipase di dalam sel lemak merespons pesan-pesan hormon dan memecah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak dalam sebuah proses yang disebut liposis.

Komponen-komponen ini kemudian masuk ke aliran darah dan digunakan oleh jaringan tubuh. “Ginjal lebih memilih untuk menyerap gliserol, sementara asam lemak biasanya diambil oleh otot,” tulis Sporny.

“Ada banyak kesalahan dan kebingungan mengenai proses penurunan berat badan. Jawaban yang benar adalah mayoritas dari lemak dikeluarkan sebagai karbon dioksida ke udara,” kata Brown dalam siaran pers seperti yang dikutip dari IFL Science.

Komentar