Stop! Multitasking Bisa “Merusak” Otak

Penulis: Darmansyah

Rabu, 22 Maret 2017 | 08:39 WIB

Dibaca: 1 kali

Anda mungkin termasuk salah seorang multitasking, atau dikenal dengan orang yang  mengerjakan dua atau tiga hal sekaligus

Nah, sebuah studi baru yang dilakukan Stanford University menunjukkan bahwa multitasking  dapat menurunkan performa dan bahkan akibat terburuknya merusak kemampuan berpikir otak.

Setiap kali seseorang melakukan hal tersebut ia tidak hanya membuat performanya menurun, tapi juga merusak bagian otak yang penting untuk kesuksesan di tempat kerja di masa mendatang.

Seperti ditulis “the huffington post,” studi itu juga menemukan bahawa orang yang multitasking tidak begitu produktif dibanding orang yang fokus melakukan satu pekerjaan di satu waktu.

Para peneliti juga menemukan bahwa orang yang secara rutin menerima banyak informasi, tidak akan fokus, kerap mengulang pekerjaannya atau bahkan berganti pekerjaan dari satu ke yang lainnya tanpa ada yang berhasil dengan baik.

Lalu, bagaimana jika seseorang dibekali dengan keahlian khusus mampu melakukan multitasking?

Para peneliti Stanford membandingkan grup berdasarkan kemampuannya multitask dan yang meyakini bahwa itu membantu performa mereka.

Para peneliti menemukan grup yang merasa bisa mengerjakan banyak hal di satu waktu performanya lebih buruk dibanding orang yang melakukan satu hal saja di saat yang sama.

Penyebabnya mereka kesulitan dalam mengorganisir informasi yang tidak relevan dan lambat ketika berpindah dari satu fokus ke fokus yang lain.

Multitasking mengurangi efisiensi dan performa karena otak hanya dapat fokus ke satu hal di satu waktu. Ketika melakukannya untuk dua hal bersamaan, otak terbagi dan tidak akan bisa berhasil dengan baik.

Temuan studi itu juga memuat bahwa melakukan banyak hal di saat bersamaan akan turut menurunkan IQ.

Partisipan yang diminta melakukan bahyak hal di satu waktu mengalami penurunan IQ yang sama seperti halnya dipaksa terjaga semalaman.

IQ menurun lima belas poin bagi pria multitasking yang diperkirakan sama dengan tingkat IQ anak rata-rata delapan tahun.

Para peneliti menyimpulkan perlu studi lebih lanjut untuk mengetahui apakah ketika seseorang kerap melakukan banyak hal bersamaan akan merusak secara signifikan ke otak.

Namun, bagaimanapun sejauh ini, mereka meyakini hal itu membawa efek negatif yang patut dihindari.

Ahli saraf Kep Kee Loh, yang memimpin penelitian menegaskan, pentingnya membangun kesadaran ini.

Ketika seseorang berinteraksi dengan banyak hal di saat bersamaan akan mengubah cara berpikir dan mengubah kemampuan otak di masa mendatang.

Multitasking juga  disebut para peneliti tidak mampu membuat seseorang bekerja lebih produktif.

Para ilmuwan spesialis otak, psikolog, dan beberapa pakar lainnya telah menyatakan bahwa otak tidak mampu memusatkan perhatian pada lebih dari satu hal dalam waktu yang sama.

Multitasking yang berarti mengalihkan perhatian dari satu hal ke hal lain dan kembali lagi, meski dianggap menyenangkan, ternyata membuat tiap-tiap tugas menjadi diselesaikan dalam waktu yang lebih lama, dibanding jika mengerjakan satu hal dalam satu waktu.

Sayangnya, kaum milenial saat ini dianggap tidak mengetahui hal tersebut. Para peneliti dari Bryan College menemukan bahwa ada harga yang cukup besar yang harus dibayar bagi mereka yang gemar multitasking.

Rata-rata kaum milenial dinilai mengalihkan perhatiannya dari pekerjaan yang sedang mereka lakukan ke platform-platform media sebanyak dua puluh tujuh kali per jam.

Angka tersebut dianggap buruk karena banyak riset telah mengungkapkan bahwa aktivitas multitasking dapat menurunkan IQ hingga lima belas poin.

Tak hanya itu, multitasking juga dianggap menurunkan kecerdasan emosional seseorang.

Kondisi tersebut tak lagi mengejutkan jika Anda mempunyai kebiasaan mengalihkan perhatian Anda dari pekerjaan yang sedang Anda lakukan di laptop kemudian ke telepon genggam Anda atau bahkan ke tivi.

Mereka yang mempunyai kebiasaan tersebut diyakini sering tidak memperhatikan tanda nonverbal dari lawan bicara di hadapannya.

Penelitian juga menunjukkan, melakukan tugas dengan cara multitasking memberikan hasil yang sama dengan melakukan tugas jika Anda tidak tidur malam sebelumnya.

Multitasking yang dilakukan dengan cukup sering dapat merusak otak Anda.

Meski dampak multitasking dapat membuat seseorang tidak cerdas secara emosional, lebih kurang cerdas atau dipastikan mengalami kerusakan otak, namun banyak perusahaan yang masih mencantumkan kemampuan multitasking sebagai syarat saat merekrut karyawan baru.

“Mampu multitasking adalah syarat yang sering dicantumkan oleh perusahaan di seluruh dunia. Para pebisnis ternama pun banyak yang menyebut kemampuan multitasking sebagai syarat yang diharapkan dimiliki kandidat,” ujar juru bicara Ryan College seperti dilansir Inc.

Dibanding dengan lelaki, perempuan lebih baik  dalam melakukan multitasking.

Itu bukan mitos tapi menurut penelitian dalam kasus tertentu.

Sebuah tes yang dilakukan oleh psikolog Inggris menemukan, laki-laki lebih lambat dan kurang terorganisir ketika beralih cepat antara satu tugas ke tugas.

Dilansir dari laman Live Science, menurut penelitian yang diterbitkan di dalam jurnal BMC Psychology, kedua jenis kelamin berjuang mengatasi prioritas pekerjaan, tapi laki-laki berada pada rata-rata.

Dikatakan, “Pertanyaannya sekarang adalah mengapa? Apakah untuk semua jenis multitasking atau hanya situasi tertentu?”

“Jika laki-laki benar-benar lambat dibandingkan perempuan hal itu berimplikasi serius pada penyelenggaran sebuah tempat kerja,” kata salah satu penulis penelitian Gijsbert Stoet, doktor dari University of Glasgow.

“Multitasking semakin penting di kantor, tapi itu sangat mengganggu, semua gadget mengganggu alur kerja kami. Bisa jadi laki-laki lebih menderita saat beralih konstan seperti ini,” kata Stoet .

Suatu percobaan di Tiongkok menemukan, perempuan mengungguli rekan laki-laki mereka.

Sementara, penelitian di Swedia menemukan bahwa multitasking pada laki-laki sebenarnya lebih baik dari perempuan saat melibatkan tugas-tugas spasial

Untuk menyelesaikan argumen tersebut, Stoet dan seorang rekannya membandingkan perempuan dan laki-laki dalam jenis multitasking tertentu.

Yakni di saat seseorang harus menghadapi banyak tugas dalam suksesi cepat, tapi tidak secara simultan atau bersamaan.

Termasuk untuk pekerja kantor yang melompat antara membaca email masuk, panggilan telepon, dan tugas-tugas, sementara dia juga harus berlari keluar dan masuk ruang rapat. Contoh lain, orang tua di dalam rumah tangga.

Mereka memasak makanan, sambil menjaga anaknya yang masih kecil, dan tiba-tiba harus menjawab telepon.

Komentar