Siapa Bilang Timun Bisa Bikin “Becek”.

Penulis: Darmansyah

Jumat, 12 Desember 2014 | 08:59 WIB

Dibaca: 88 kali

Mentimun atau sering disebut ketimun atau pun timun adalah buah yang sangat sering dijumpai, terlebih lagi di daerah tropis seperti Indonesia. Buah ini sangat umum digunakan sebagai pelengkap hidangan makanan, baik sebagai irisan biasa atau telah diolah dengan bahan lainnya.

Timun mengandung vitamin C, beta karoten, dan polifenol seperti quercetin dan kaempferol, yang bisa membantu perangi radikal bebas

Tentunya satu dua potong timun tidak cukup untuk memerangi radikal bebas yang meningkatkan risiko kanker, sehingga jaga kadar antioksidan Anda tetap prima dengan cukup makan sayur dan buah minimal lima porsi setiap hari.

Selain timun, Anda juga bisa menetralkan efek buruk tersebut dengan mengonsumsi sayuran dan buah yang banyak mengandung serat. Serat bisa membantu membersihkan sisa-sisa daging di permukaan usus yang memicu kanker.

Sebagai buah yang segar, timun sering dimitoskan sebagai penyebab beceknya mis V wanita. Tidak hanya itu, timun juga didakwa bisa membuat keputihan

Batulkah?.

Jangan khawatir, itu cuma mitos. Banyak fakta ilmiah yang bisa menjelaskan bahwa timun bukan buah “celaka” yang menjadikan perempuan menolak memakan akibat terpengaruh akan membuat miss V jadi becek.

Pendapat ini diturunkan dari generasi ke generasi dan dipercaya bahkan oleh wanita modern. Benarkah pendapat ini? Atau hanya mitos belaka?

Bagi wanita yang sudah menikah, miss V yang terlalu becek atau mengeluarkan cairan terlalu banyak bisa mengurangi kenikmatan saat bercinta. Miss V yang rapet, kencang dan basah normal lebih disukai karena lebih memuaskan.

Tidak hanya pada saat bercinta, banyaknya cairan miss V atau keputihan yang keluar akan membuat rasa tidak nyaman. Pakaian dalam jadi lembab, terasa basah dan mengeluarkan aroma tidak sedap. Maka tidak heran, banyak wanita memusuhi timun.

Untuk diketahui buah timun mengandung fosfor, kalsium, sapronin, protein, lemak, Selain itu, timun juga mengandung flavonoid dan polifenol sebagai anti radang serta mengandung asam malonat yang berfungsi menekan gula agar tidak berubah menjadi lemak, yang baik untuk mengurangi berat badan.

Timun juga mengandung kukurbitasin C, yang berkhasiat untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah penyakit hepatitis.

Lalu apa hubungan kandungan vitamin dan kandungan gizi yang telah disebutkan diatas dengan keputihan? Jawabannya jelas, tidak ada.

Keputihan adalah keluarnya cairan berlebihan dari vagina yang terkadang disertai rasa gatal, nyeri, rasa terbakar di bibir kemaluan, kerap disertai bau busuk, dan menimbulkan rasa nyeri sewaktu berkemih.

Warna cairan keputihan bervariasi, mulai dari putih, kekuningan, abu-abu, dengan konsistensi cair hingga kental atau bahkan berbentuk seperti susu. Bau dari keputihan pun beragam, dapat tanpa bau, berbau telur busuk, bahkan anyir seperti daging ikan mentah.

Keputihan bisa disebabkan oleh jamur maupun bakteri yang bersemayam dalam vagina atau disebabkan karena perubahan hormon dalam tubuh. Untuk menghindari keputihan tersebut tentunya anda wajib menjaga daerah kewanitaan anda.

Pada dasarnya, cairan vagina berfungsi untuk membersihkan dan melindungi organ intim tersebut. Bertambahnya cairan vagina secara normal dapat terjadi, misalnya saat kehamilan, saat masa subur ataupun akibat rangsangan seksual.

Cairan vagina normalnya tidak berbau, berwarna bening sampai agak keputihan, dengan konsistensi cair berlendir. Namun, pada keputihan, cairan vagina bisa disertai bau.

Bisa bau asam, busuk, berwarna kekuningan, kehijauan, keabuan, konsistensi menjadi lebih kental dan dapat menyerupai ingus dan dapat disertai gatal. Mungkin juga terdapat rasa nyeri saat berhubungan seksual atau terdapat bercak darah.

Keputihan atau cairan vagina abnormal bisa terjadi karena berbagai sebab. Namun, tidak ada studi yang menghubungkan antara makan mentimun dengan penyebab keputihan pada perempuan.

Karena itu, makan mentimun bikin ‘becek’ hanyalah mitos, seperti dikutip dari buku Buka Fakta! 101 Mitos Kesehatan karangan Nutrifood Research Center.

Dilansir dari Mayo Clinic, Kamis, 11 Desember 2014, cairan vagina abnormal bisa disebabkan oleh infeksi jamur, bakteri, atau gejala menopause, yang relatif tidak berbahaya. Hanya saja, gejala tersebut bisa menimbulkan rasa kurang nyaman bagi perempuan.

Cairan vagina abnormal juga bisa merupakan gejala dari infeksi menular seksual tertentu. Dalam kasus yang jarang, cairan vagina abnormal yang disertai sedikit darah atau flek kecokelatan, patut diwaspadai sebagai gejala kanker serviks.

Komentar