Serangan Jantung Banyak Terjadi Senin

Penulis: Darmansyah

Rabu, 12 Juli 2017 | 13:59 WIB

Dibaca: 0 kali

Catat, dan Anda perlu tahu bahwa serangan jantung paling banyak terjadi hari Senin dan paling jrang hari Sabtu

Namun begitu, sebenarnya serangan jantung bisa terjadi kapan saja.

Tapi, berdasarkan penelitian, ada waktu-waktu tertentu di mana serangan jantung lebih sering muncul.

Dalam study oleh Universitas Uppsala di Swedia, para peneliti menganalisa seratus lima puluh ribuan data serangan jantung dari berbagai rumah sakit selama kurun waktu tujuh tahun.

Mereka menemukan beberapa hal menarik terkait hari dan bulan terjadinya serangan jantung.

Bila dilihat dari hari dalam seminggu, maka serangan jantung paling banyak terjadi hari Senin dan paling jarang pada hari Sabtu.

Faktanya, risiko serangan jantung sebelas persen lebih tinggi pada hari Senin dibanding hari Selasa hingga Jumat.

Para pekerja adalah golongan yang paling rawan terkena serangan jantung di hari Senin, di mana mereka berisiko dua puluh persen lebih tinggi terkena serangan di hari itu dibanding hari lain.

Sedangkan bila dilihat berdasarkan bulan, Desember adalah bulan paling berisiko, sedangkan Juli menjadi bulan yang paling sedikit ada kejadian serangan jantung.

Di negara dengan empat musim, diduga ini terkait dengan liburan musim panas di Juli yang lebih sehat dibanding liburan musim dingin di Desember.

Menurut hasil riset yang dipublikasikan di American Heart Journal Juli tahun ini, waktu serangan jantung diyakini terkait dengan tinggi rendahnya tingkat stres seseorang.

Misalnya, kembali bekerja di hari Senin membuat orang lebih stres daripada saat libur di hari Sabtu. Stres bisa memicu perubahan dalam sistem biologis kita dan membuat kita lebih rentan terkena serangan jantung.

“Saat kita stres, jantung kita bekerja lebih keras, metabolisme kita kacau, dan kekebalan tubuh menurun,” ujar peneliti dampak stres Ahmed Tawakol, M.D.

Selain itu banyaknya pasien yang mengunjungi rumah sakit jantung pada hari Senin, bisa jadi juga karena mereka tidak sempat berobat sebelumnya ketika sedang liburan. Namun saat para peneliti melihat data kapan tepatnya serangan terjadi, hasilnya menunjukkan bahwa faktor stres merupakan penentu utama terjadinya serangan jantung.

Oleh karenanya meskipun kita semua sepakat dengan slogan “I hate Monday”, hadapilah Senin dengan lebih santai tanpa tekanan.

Untuk Anda tahu, penyakit jantung saat ini masih menduduki ranking pertama penyebab kematian di seluruh dunia.

Gaya hidup modern yang kurang bergerak dan tidak memperhatikan pola makan dituding jadi pemicunya.

Para ahli masih berupaya meneliti gaya hidup sehat yang bisa menghindarkan kita dari penyakit jantung.

Ilmuwan saat ini memiliki bukti baru betapa sehatnya gaya hidup orang-orang di luar belahan dunia Barat.

Dalam sebuah laporan baru, diketahui pemburu yang hidup di Amerika Selatan memiliki risiko penebalan pembuluh arteri lima kali lebih sedikit dibandingkan orang dewasa di Amerika Serikat.

“Kami tertarik mengetahui proses penuaan di kelompok yang bukan bagian dari masyarakat teknologi moderen, karena gaya hidup mereka lebih mirip nenek moyang kita,” kata peneliti Hillard Kaplan, profesor antropologi dari University of New Mexico.

Dalam laporan yang diterbitkan di jurnal The Lancet itu, tim peneliti mengunjungi delapan puluh lima desa orang Tsimane di Bolivia dan menguji tujuh ratus lima  orang dewasa untuk menghitung risiko penyakit jantung.

Mereka memakai CT Scan untuk melihat penebalan arteri dan faktor-faktor lain seperti tekanan darah tinggi, detak jantung, inflamasi dan lain-lain.

Dari hasil CT Scan, ditemukan sebanyak delapan puluh lima persen masyarakt dalam studi itu tak memiliki risiko penyakit jantung dan tiga belas persen berisiko rendah.

Orang Tsimane pun memiliki tekanan darah, kolesterol dan gula darah lebih rendah.

Menariknya, kendati banyak orang Tsimane memiliki tingkat inflamasi tinggi, tampaknya itu tidak mempengaruhi risiko sakit jantung mereka.

Peneliti belum mampu sepenuhnya menjawab mengapa orang Tsimane memiliki risiko penyakit jantung begitu rendah.

Mungkin gaya hidup mereka berperan besar.

Mereka hanya menghabiskan sepuluh persen waktu mereka tak aktif. Sisanya, mereka berburu, mengumpulkan bahan makanan dan bertani.

Mereka juga banyak mengonsumsi serat tinggi, karbohidrat yang tak diolah seperti jagung, kacang-kacangan dan nasi.

Sekitar lima belas persen pola makan mereka terdiri dari protein daging atau ikan. Secara keseluruhan pola makan mereka rendah lemak. Mereka pun jarang merokok.

Sebaliknya, gaya hidup modern membuat kita kurang gerak sepanjang hari.

Makanan olahan jadi bagian besar pola makan di dunia barat. Tingkat merokok pun lebih tinggi.

Peneliti mengatakan penemuan mereka tak menyarankan agar semua orang perlu menerapkan gaya hidup pemburu.

“Orang Tsimane adalah orang yang mirip kita dalam banyak aspek tapi hidup di bawah kondisi-kondisi berbeda,” jelas Kaplan.

“Kami tak menyarankan agar semua orang harus hidup begitu. Kehidupan mereka pun sulit dan mereka pun diuntungkan dengan perubahan-perubahan moderen. Namun ada pelajaran berharga di situ,” tambahnya.

Peneliti mengatakan faktor risiko penyakit jantung dapat dihindari jika masyarakat menerapkan elemen-elemen gaya hidup orang Tsimane dalam keseharian. Seperti misalnya lebih aktif bergerak, tidak merokok dan lebih memperhatikan pola makan.

Komentar