Sembuhkan Kelelahan Kronis? Ya, Olahraga

Penulis: Darmansyah

Selasa, 19 Januari 2016 | 09:20 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda seorang pasien kelelahan kronis?

Lantas mengikuti program penyembuhan lewat olahraga dan konseling.

Nah, dengan pilihan itu Anda sudah melakukan hal yang benar.

Dan terbukti lebih olahraga dan konseling lebih mempercepat pemulihan dibanding program adaptasi.

“Pasien perawatan medis yang tidak mengikutsertakan olah fisik akan mengalami perlambatan pemulihan,” jelas Dr. Peter D. White, dari Queen Mary University of London dan tim.

Pada program terapi perilaku, terapis bekerja dan berbincang dengan pasien untuk memahami penyakit, mengurangi kekhawatiran, dan membantu mengatasi hambatan yang muncul.

Sebaliknya, pasien yang diobati dengan program adaptif, yang menekankan pembatasan energi yang dikeluarkan dengan cara menghindari aktivitas berlebih, mendaparkan skor paling rendah.

Artinya, tingkat kelelahan mereka tetap paling tinggi meski sudah menjalani terapi selama beberapa waktu.

Salah satu peneliti yaitu Dr. Trudie Chalder, mengatakan, “Kami memonitor pasien dengan sangat hati-hati agar tidak merugikan mereka.

” Peneliti lain, Dr. Michael Sharpe dari University of Edinburgh, berkata bahwa manajemen untuk mengatasi kelelahan kronis selama ini masih ambigu. Namun, hasil penelitian nampaknya memberi alternatif yang efektif.

Pentingnya terapi perilaku kognitif terhadap pasien kelelahan kronis juga didukung oleh Dr. Benjamin H. Natelson, dari Albert Einstein College of Medicine in New York.

“Pendekatan posolitif yang mendorong pasien beraktivitas dan keputusasaan yang berasal dari pikiran negatif harus menjadi alat armamentarium setiap dokter dan terapis,”katanya.

“Kami tahu bahwa terapi perilaku dan pendekatan psikologis yang lembut, dapat membantu pasien dengan beragam kondisi medis termasuk pasien penyakit jantung dan multiple sclerosis.”

Kelelahan kronis ditandai dengan munculnya rasa lemah selama enam bulan atau lebih yang tidak bisa dijelaskan secara pasti penyebabnya, baik secara fisik maupun psikologis.

Kelelahan ini membuat tubuh menjadi lemah dan seringkali dibarengi oleh nyeri sendi, otot dan gangguan kelenjar getah bening.

Thyfault, PhD, adalah seorang profesor di Kansas University Medical Center, yang mengkhususkan dirinya belajar tentang efek olahraga terhadap kesehatan.

Menurut pengamatan Thyfault, lebih banyak orang memilih mencegah diabetes dengan aktif secara fisik.

“Olahraga dan aktivitas fisik, bukan sesuatu yang ekstra di dalam hidup Anda, dan bukan untuk mendapat bonus kesehatan.”

“Sebaliknya, olahraga dan aktivitas fisik adalah sesuatu yang memang harus ada dan dilakukan supaya tubuh kita bisa berfungsi normal,” katanya.

Thyfault menambahkan, aktivitas fisik, termasuk olahraga, bukan juga sekadar kegiatan membentuk, mengencangkan otot dan membakar lemak.

Dalam satu percobaan, Thyfault merekrut beberapa orang yang konsisten berjalan kaki sepuluh ribu langkah setiap hari dan meminta mereka untuk mengurangi porsi aktivitas fisiknya tersebut menjadi sekitar lima ribu langkah langkah sehari.

Hasilnya, Thyfault melihat perubahan dalam cara pembuluh darah mereka bekerja dan seberapa baik mereka bisa mengendalikan gula darah setelah makan.

Nampaknya, setelah mengurangi porsi aktivitas fisik, tubuh para relawan tidak lagi bisa mengendalikan gula darah sebaik ketika mereka masih berjalan sebanyak sepuluh ribu langkah perhari.

Penelitian menunjukkan, mereka sedang dalam ‘perjalanan’ menuju diabetes tipe-2.

“Jika hal ini diteruskan, bukan tidak mungkin mereka akan benar-benar menderita diabetes,” kata Thyfault.

Hasil pengamatan Thyfault ini sejalan dengan hasil sebuah studi yang disponsori oleh pemerintah AS, yang disebut Program Pencegahan diabetes.

Para peneliti merekrut lebih dari tiga ribu orang dewasa yang kelebihan berat badan dan dalam kondisi pradiabetes, kemudian mereka dibagai menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama dibantu untuk menerapkan pola makan yang lebih baik dan berolahraga lebih banyak, yaitu seratus lima puluh menit dalam seminggu.

Kelompok kedua diminta mengonsumsi obat metformin, yaitu obat yang membantu tubuh merespon insuln dengan lebih baik. Kelompok ketiga diberi pil plasebo.

Hasilnya, setelah empat tahun, kelompok pertama menunjukkan kemajuan yang lebih baik dari dua kelompok lainnya

Komentar