Sekali Lagi Tentang Garam dan Tubuh

Penulis: Darmansyah

Rabu, 9 Desember 2015 | 09:08 WIB

Dibaca: 0 kali

Garam sering menjadi kontoversi antara kebutuhan dan “petaka.”

Nah, siapa yang bisa membantah dua sisi ini.

Sebagai unsur “kenikmatan” makanan dan “petaka,” garam, sebenarnya, lebih dari sekadar membuat rasa “u-enak” karena perannya sangat penting bagi tubuh Anda agar dapat berfungsi dengan baik.

Sodium, salah satu bahan utama dalam garam, berguna untuk mengatur aliran dan tekanan darah serta membantu mengirimkan pesan antara saraf dan serat otot.

Sedangkan klorida, bahan kimia lainnya di dalam garam, membantu proses pencernaan.

Makanan Anda harus memiliki cukup garam supaya kecukupan nutrisi tetap terjaga.

Nah, kalau kebanyakan bagaimana?

Itu yang celakanya. Terlalu banyak garam bisa berdampak buruk bagi tubuh.

Ketika Anda mengonsumsi terlalu banyak sodium, tubuh akan menahan lebih banyak cairan.

Itu karena ginjal, yang bertugas menyaring limbah dari darah, berusaha menjaga rasio khusus antara elektrolit, seperti sodium dan kalium terhadap air.

Adanya garam berlebih, berarti ginjal menyimpan lebih banyak air dan ini bisa menimbulkan efek yang tidak diinginkan, seperti edema.

Pembengkakan di tempat-tempat seperti tangan, lengan, kaki, dan pergelangan kaki.

Lebih banyak cairan, pada umumnya berarti lebih banyak darah mengalir melalui pembuluh darah dan arteri.

Seiring waktu, pembuluh darah bisa menjadi kaku sehingga menyebabkan tekanan darah tinggi dan hipertensi.

Anda mungkin sudah tahu garam dapat membuat Anda hau. Itulah cara tubuh untuk mencoba memperbaiki rasio antara natrium dengan air.

Minum banyak air dapat memperburuk masalah edema dan tekanan darah. Tapi tidak cukup minum, bisa memaksa tubuh untuk menarik air dari sel-sel lain, membuat tubuh Anda dehidrasi.

Orang yang kelebihan sodium biasanya akan lebih sering buang air kecil karena tubuhnya kelebihan air.

Setiap kali buang air kecil, tubuh Anda kehilangan kalsium, mineral yang antara lain membuat tulang dan gigi yang kuat.

Buang air kecil terlalu sering juga akan menyebabkan tubuh kehilangan terlalu banyak kalsium sehingga tulang melemah dan risiko osteoporosis meningkat.

Selain berbagai efek di atas, ada efek yang belum sepenuhnya dimengerti para ilmuwan.

Beberapa studi telah menemukan, bahwa kelebihan garam ada hubungannya dengan sakit maag, infeksi, dan bahkan dapat menimbulkan kanker perut.

Tidak ada yang tahu pasti mengapa, tetapi beberapa peneliti menduga bahwa sodium dapat mengganggu keseimbangan lapisan lendir lambung.

Menurut sebuah penelitian, garam juga dapat berdampak negatif terhadap fungsi kognitif

Kesimpulannya sudah jelas, terlalu banyak garam dapat menyebabkan implikasi kesehatan jangka panjang yang serius.

Mungkin selama ini kita mengonsumsi sodium melebihi takaran yang dianjurkan yaitu maksimal perharinya.
Lantas bagaimana kalau mengonsumsi garam terlalu sedikit?

Resikonya sama dengan terlalu banyak makan garam.

Hasil meta-analisis baru yang dipublikasi dalam American Journal of Hypertensio, menunjukkan hasil yang mengejutkan.

Mereka menyimpulkan, dibandingkan dengan yang mengonsumsi garam dalam kadar yang sedang-sedang, orang yang mengonsumsi terlalu sedikit ataupun terlalu banyak garam mengalami peningkatan risiko kematian dan penyakit kardiovaskular.

Peneliti studi Niel Graudal, konsultan senior dari departemen penyakit dalam, infeksi, dan reumatologi di Copenhagen University di Denmark, mengatakan, artinya orang dengan tekanan darah normal atau mereka yang tidak berisiko tinggi seharusnya tidak perlu terlalu khawatir dengan konsumsi garam mereka.

“Jika memiliki tekanan darah normal dan makan sewajarnya, seharusnya tidak perlu mengurangi konsumsi garam,” ungkapnya.

Kendati demikian, tidak semua pakar sepakat dengan hasil analisis tersebut. Paul K Whelton, profesor kesehatan masyarakat global di Tulane University of Public Health and Tropical Medicine, mengatakan, analisis tersebut memiliki batasan.

Misalnya, pengukuran konsumsi garam dalam studi merupakan hasil dari survei, bukan pengukuran langsung, sehingga kurang bisa dipercaya.

Selain itu, ada kondisi kesehatan tertentu yang mengharuskan seseorang untuk mengubah pola makannya. Ini berlawanan dengan timbulnya penyakit tertentu yang disebabkan oleh pola makan.

Komentar