Sekali Lagi Dampak Buruk Kurang Tidur

Penulis: Darmansyah

Rabu, 30 Mei 2018 | 10:45 WIB

Dibaca: 1 kali

Sekali lagi tentang dampak kurang tidut.

Kali ini, sebuah hasil penelitian menyatakan, bahwa otak manusia akan mengalami perbedaan antara yang tidur berkualitas dengan aktivitas tidur yang kurang.

Bagi yang memiliki kualitas tidur buruk, otak akan menghapus jumlah neuron dan koneksi sinaptik.

Riset ini dilakukan oleh tim peneliti yang dipimpin neuroscientist dari Universitas Marche Polytechnic di Italia, Michele Bellesi.

Ia memeriksa respons otak mamalia berdasarkan kebiasaan tidur yang buruk, serta menemukan persamaannya pada otak tikus yang mengalami tidur berkualitas dan tidak.

Ada empat kelompok tikus, dengan pembagian pertama dibiarkan tidur enam hingga delapan jam atau dikategorikan cukup istirahat.

Kelompok kedua merupakan tikus yang secara spontan terjaga.

Sedangkan ketiga, mengalami kurang tidur dengan terjaga selama delapan jam. Dan kelompok terakhir dibiarkan terjaga selama lima hari berturut-turut.

Pada dua kelompok terakhir, ditemukan bahwa sel astrocyte mulai memakan sinaptik yang merupakan bagian dari neuron.

Bellesi mengungkapkan bahwa bagian sinaptik yang hilang cenderung bagian tertua dan yang sering digunakan.

Selain itu, juga terdapat penggembungan dari aktivitas sel bernama mikroglial pada kelompok kurang tidur kronis.

“Hanya kelompok kurang tidur kronis yang mengaktifkan sel-sel mikroglia dan meningkatkan aktivitas fagositosis. Ini menunjukkan, gangguan tidur dapat memancing mikroglia dan mungkin merusak otak,” tulis para peneliti dalam laporannya tersebut, dilansir dari laman Science Alert,

Akibat kurang tidur gara-gara insomnia misalnya, dapat memperburuk kesehatan mental seseorang, tetapi di sisi lain gangguan kesehatan mental seperti stress saja sudah dapat berkontribusi terhadap munculnya insomnia.

Stress itu sendiri merupakan gangguan emosi yang paling umum terjadi sebagai akibat kurang tidur.

Professor Matt Walker dikutip dari Telegraph, menjelaskan bahwa saat kekurangan waktu tidur bagian otak yang bernama amygdala mengalami peningkatan aktivitas hingga sekitar 60 persen.

Amigdala yang terlalu aktif menyebabkan penurunan kemampuan otak dalam mengendalikan emosi.

Profesor Walker juga percaya bahwa perkembangan gangguan mental pada banyak orang bersumber dari akumulasi gangguan tidur.

Dampak kekurangan waktu tidur pada umumnya tidak langsung dirasakan dan akan mulai muncul jika otak sudah tidak lagi mampu menoleransi miskinnya waktu istirahat.

Anda disebut kurang tidur jika lama tidur malam Anda kurang dari enam jam. Namun demikian, dampak dari kurangnya porsi tidur bervariasi bagi setiap orang, tergantung pada tingkat aktivitas dan kondisi kesehatan tubuh masing-masing.

Ada bebarapa hal  yang mungkin terjadi pada otak Anda akibat kurang tidur:

Otak bekerja lebih keras – penyebab utama hal ini karena otak terus menerima sinyal rasa mengantuk sehingga tidak dapat bekerja secara efisien.

Suatu studi pencitraan otak menemukan bahwa otak pada seseorang yang mengantuk mengalami peningkatan aktivitas untuk memompa energi menuju bagian korteks prefrontal untuk menyeimbangkan kecukupan energi otak.

Pikiran berkabut – dikenal dengan istilah brain fog. Ini merupakan istilah yang menggambarkan gangguan otak untuk berkoordinasi.

Pikiran yang berkabut menyulitkan Anda untuk berkonsentrasi, memusatkan perhatian, dan mengambil keputusan. Hal serupa dapat dialami saat seseorang mengalami kelelahan, namun dampak saat kekurangan waktu tidur dapat menjadi lebih serius.

Sulit mengingat – hal ini terjadi pada memori jangka panjang maupun jangka pendek. Memori jangka panjang diperlukan untuk merekam informasi penting yang perlu kita ingat sepanjang waktu, dan proses ini terjadi saat kita tidur.

Kekurangan waktu tidur akan mengganggu proses penyimpanan informasi, sehingga kita menjadi lebih sulit mengingat atau memelajari hal baru.

Sedangkan memori jangka pendek diperlukan untuk melakukan hal kompleks seperti berhitung atau mengingat rangkaian suatu hal. Menggunakan memori jangka pendek memerlukan konsentrasi, yang justru menurun jika Anda kurang tidur

Sulit menghilangkan kebiasaan – Mengantuk juga menurunkan kemampuan otak untuk mengendalikan perilaku, karena mengalami penurunan kendali dan kemampuan membuat rencana.

Sehingga dalam memunculkan suatu perilaku, otak akan lebih mudah menggunakan pola yang sudah ada yaitu kebiasaan. Itulah sebabnya menghilangkan kebiasaan buruk akan lebih sulit jika Anda mengantuk karena otak akan cenderung mengulang perilaku yang sama pada situasi yang sama.

Kekurangan waktu tidur juga dapat berkontribusi pada munculnya gangguan kesehatan mental, dan kurang tidur pun dapat semakin memperparah gangguan kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya.

Berikut beberapa gangguan kesehatan mental yang berkaitan dengan kurangnya waktu tidur:

Depresi bisa muncul sebagai akibat kurang tidur, dan bisa bertambah parah jika Anda sudah memiliki kondisi ini sebelumnya.

Sebabnya, depresi juga menyebabkan insomnia. Perbaikan waktu tidur adalah langkah penting dalam mengelola depresi karena penderita depresi juga akan lebih sulit sembuh jika mengalami gangguan tidur.

Gangguan kecemasan merupakan salah satu penyebab berkurangnya waktu tidur yang juga berkontribusi munculnya gangguan tidur, seperti serangan panik dan mimpi buruk. Akibat kurang tidur pada penderita gangguan kecemasan akan memicu tumpulnya pengendalian emosi.

Selain itu, kualitas tidur yang buruk  atau insomnia menjadi gangguan yang paling banyak dialami penduduk bumi.

Jika hal ini tidak diatasi, maka tidak hanya masalah kesehatan fisik, mental Anda pun bisa terganggu.

Psikolog Aurora  menjelaskan, gangguan tidur memiliki hubungan dua arah dengan gangguan mental.

Diketahui bahwa lima puluh persen orang yang mengalami gangguan mental, cenderung mengalami gangguan tidur.

“Sekitar sembilan puluh persen orang depresi mengalami sulit tidur. Salah satu gejala gangguan mental memang termasuk kurang tidur atau pola tidur yang berubah,” ujar Aurora.

Aurora menambahkan, mengalami waktu tidur yang berkurang membuat kita cenderung memiliki reaksi emosional yang meningkat.

Hal negatif atau stresor yang muncul cenderung mendapat reaksi atau tanggapan yang berlebihan dibanding dengan yang cukup tidur.

“Gangguan tidur atau kondisi kurang tidur mengakibatkan peningkatan reaksi emosional. Reaksi emosional yang meningkat ini membuat seseorang rentan depresi,” kata Aurora.

Hal ini disebabkan reaksi berlebihan membuat emosi yang tidak proporsional sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

Kemudian bisa menimbulkan rasa bersalah hingga bertahan berhari-hari sehingga membuat rentan depresi.

Komentar