Sekali Lagi “Bahaya” Ponsel Disaku Celana

Penulis: Darmansyah

Kamis, 11 Oktober 2018 | 15:14 WIB

Dibaca: 1 kali

Apakah Anda teramsuk yang menyiman ponsel di saku celana?

Dan apakah menyimpan ponsel di saku celana  dapat mengancam kesuburan

Ya, banyak pria yang menggunakan perangkat hands-free sambil menyimpan ponsel mereka di saku celana depan atau dijepitkan di ikan pinggang sembari masih dalam keadaan aktif.

Berbicara di ponsel yang sedang di-charge, kurang lebih satu jam per hari, juga dikaitkan dengan risiko kerusakan sperma dan penurunan tingkat kesuburan secara signifikan.

Untuk meneliti seberapa baik kualitas sperma seorang pria, sampel air mani biasanya diteliti dengan parameter volume, bentuk, motilitas — seberapa baik pergerakan sperma; viabilitas — persentase sperma hidup dalam sampel; dan konsentrasi sperma, seberapa banyak total sperma dalam sampel air mani.

Kualitas sperma yang baik bervariasi dari satu orang dan yang lainnya, tapi analisis WHO tahun delapan tahun lalu menunjukkan secara umum, pria subur memiliki lima belas juta sperma per mililiter, lima puluh delapan persen vitalitas, empat puluh persen motilitas, dan setidaknya empat persen sel sperma yang memiliki bentuk normal dari total keseluruhan sampel.

Penelitian awal dilakukan oleh sekelompok tim peneliti dari Carmel Medical Center Israel, dan dipublikasikan dalam jurnal medis Reproductive BioMedicine Online, dilansir dari NHS.

Para peneliti menemukan beberapa kaitan antara penggunaan ponsel dan konsentrasi sperma. Studi ini menjelaskan berbagai variabel yang terkait dengan penggunaan ponsel dan kualitas air mani sesuai dengan parameter yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sejumlah besar laki-laki dengan konsentrasi sperma abnormal melaporkan, mereka berbicara di ponsel selama lebih dari satu jam sehari, dan mereka berbicara saat ponsel sedang di-charge.

Studi ini melaporkan bahwa — kelompok pria yang memegang ponsel mereka berjarak lima puluh centimeter dari selangkangan paha mereka — empat persen dari partisipan memiliki konsentrasi sperma yang abnormal dan lima puluh tiga persen  sisanya memiliki konsentrasi normal.

Laki-laki yang menyimpan ponsel mereka berjarak lebih dari lima puluh centimeter  menjauhi pangkal paha mereka, hanya sebelas persen memiliki konsentrasi yang abnormal, sementara delapan puluh sembilan persen lainnya memiliki konsentrasi normal.

Profesor Martha Dirnfeld, salah satu penulis studi, dilansir dari The Telegraph, berpendapat bahwa, “Penurunan kualitas sperma ini disebabkan oleh pemanasan sperma dari suhu dan aktivitas sinyal elektromagnetik yang dipancarkan secara bersamaan oleh ponsel.”

Kesimpulan yang sama juga ditunjukkan oleh dua analisis terpisah: University of Exeter, Inggris, mengolah data dari 1sepuluhstudi terdahulu dan University of Newcastle, Australia yang mengolah dua puluh tujuh  studi yang menyoal hubungan radiasi sinyal handphone dengan penurunan kualitas sperma.

Keduanya menunjukkan bahwa paparan radiasi ponsel memiliki keterkaitan dengan anjloknya kualitas sperma — delapan persen pada motilitas sperma dan sembilan persen pengurangan viabilitas sperma.

Sementara itu, perubahan konsentrasi sperma tampak kurang jelas. Hasilnya konsisten di seluruh penelitian eksperimental laboratorium dan studi observasional korelasional.

Di antara studi-studi ini pun, banyak yang menyarankan bahwa sekalipun ada sampel sperma yang berhasil bertahan hidup, besar peluangnya DNA mereka telah rusak akibat stres oksidatif.

Banyak tanda tanya yang menyelimuti teori ini karena para ilmuwan yang terlibat tidak memiliki cara absolut untuk menjelaskan bagaimana radiasi non-ionisasi mempengaruhi tubuh.

Tanpa hubungan sebab akibat ini, banyak pakar yang ragu-ragu untuk menyatakan dengan pasti bahwa ponsel membahayakan sperma.

Berdasarkan prinsip fisika murni, sangat tidak mungkin untuk gelombang rendah dari radiasi frekuensi radio menyebabkan kerusakan DNA.

Kerusakan DNA merupakan prasyarat bagi kebanyakan mutasi sel yang bisa menuntun Anda pada perkembangan kanker.

Selain itu, sejumlah studi di atas memiliki pola keterbatasan yang mirip ketika membicarakan seputar bukti-bukti kuat.

Keterbatasan termasuk ukuran sampel penelitian yang kecil, tidak satu pun subyek penelitian berasal dari populasi umum. Semua subyek studi sudah memiliki masalah kesuburan dari awal dan telah dirujuk ke klinik kesuburan.

Perangkat ponsel itu sendiri juga membuat peneliti semakin sulit untuk menarik kesimpulan karena setiap subyek menggunakan model perangkat yang berbeda dan setiap perangkat memancarkan tingkat radiasi ponsel yang berbeda pula.

Studi ini menilai kualitas air mani dan penggunaan ponsel di saat yang sama, dan tidak dapat membuktikan sebab-akibat.

Walaupun kelompok partisipan ini bisa dikatakan melaporkan penggunaan ponsel di masa lalu, publik tidak tahu kapan masalah kesuburan mereka dimulai — misalnya, sudah berapa lama mereka memiliki keluhan konsentrasi sperma abnormal — atau seberapa baik penggunaan ponsel yang dilaporkan mencerminkan penggunaan jangka panjang.

Misalnya, jika pria melaporkan berbicara di ponsel mereka selama lebih dari satu jam setiap hari atau berbicara saat telepon itu pada biaya, kita tidak tahu apakah ini adalah sesuatu yang mereka lakukan kadang-kadang atau apakah mereka telah melakukan ini setiap hari untuk beberapa tahun.

Hal ini juga dilakukan di laboratorium sehingga tidak dapat menjelaskan perlindungan tubuh manusia mungkin menawarkan, seperti lapisan kulit, tulang, dan jaringan hidup.

Lebih lanjut, hanya karena seorang pria memiliki jumlah sperma rendah tidak selalu berarti bahwa ia dan pasangannya tidak bisa hamil secara alami. Lagipula, hanya dibutuhkan satu sel sperma untuk membuahi sel telur.

Dan sementara kesimpulan dari meta-analisis memang benar menunjukkan penurunan kualitas sperma terkait dengan paparan ponsel, itu tidak berarti bahwa orang-orang ini kurang subur.

Bukti-bukti sudah menunjukkan bahwa kualitas sperma telah menurun secara global beberapa dekade terakhir. Penggunaan ponsel yang semakin menjamur, dan paparan radiasi yang mengikutinya bisa menjadi salah satu faktor.

Radiasi ponsel kini telah ditambahkan ke dalam daftar besar dari faktor lingkungan yang dicurigai terkait dengan masalah kesuburan pria, termasuk racun, pestisida, dan polusi udara.

Bukti lain menunjukkan bahwa stres, pola makan buruk, dan paparan terhadap hormon buatan, seperti estrogen, juga memiliki kontribusi untuk infertilitas pria.

Satu hal yang pasti — yang disetujui oleh hampir semua pakar dan studi-studi terkait — merokok, alkohol, dan kelebihan berat badan memainkan peran besar, jika bukan satu-satunya, dalam perkembangan masalah kesuburan pria.

Secara keseluruhan, pertanyaan apakah penggunaan ponsel dan paparan radiasi elektromagnetik frekuensi radio dapat memiliki efek buruk pada kesuburan pria penting untuk dijawab, tetapi “ketukan palu” tidak dapat dipastikan oleh penelitian ini.

Namun demikian, terlepas dari segala pro-kontra, ada baiknya untuk lebih bijaksana dalam dalam menggunakan ponsel.

Mengubah di mana Anda menyimpan ponsel Anda adalah perubahan gaya hidup yang cukup mudah untuk dilakukan, dan tentu tidak ada ruginya.

Ada cara yang lebih baik untuk meningkatkan kesuburan Anda daripada pusing-pusing mencari tempat baru menyimpan ponsel Anda.

Komentar