Satu Kata, Jahe, Berarti Sehat

Penulis: Darmansyah

Rabu, 16 Juli 2014 | 14:53 WIB

Dibaca: 0 kali

Jahe. Ya satu kata saja, dan itu berarti sehat. Jahe memang identik dengan sehat. Sebut saja manfaatnya mulai dari obat masuk angin, asma, obat langsing atau pun mencegah rasa mual.

Jahe, sekali lagi adalah obat herbal yang hebat.

Wedang jahe, misalnya. Minuman ini sudah sejak lama disukai sebagai teman di cuaca dingin. Rasa hangat setelah menyeruput minuman ini bahkan dipercaya mampu mencegah penyakit flu.

Untuk mendapatkan manfaat optimal dari minuman ini, jahe sebaiknya tidak diseduh dengan air yang terlalu panas. Jahe yang diseduh dengan air yang suhunya mendekati mendidih akan kehilangan senyawa aktif yang dikandungnya.

Padahal senyawa aktif itulah yang sebenarnya dicari untuk mendapatkan manfaat dari jahe.

Sayangnya, selama ini banyak orang yang mengolah jahe dengan cara merebusnya, kemudian diminum panas-panas. Dengan cara tersebut, kata dia, jahe tidak lagi mengandung senyawa aktif, misalnya flavonoid dan saponin, karena sudah rusak terkena air dengan suhu yang terlalu panas.

Flavonoid dan saponin merupakan senyawa yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Flavonoid dan saponin berperan sebagai agen anti-inflamasi, antijamur, anti-kanker, hingga mengungatkan sistem imun tubuh.
Ciri-ciri bahan herbal mengandung flavonoid dan saponin adalah ketika diaduk dengan air maka akan menghasilkan busa. Namun ketika terkena air mendidih maka senyawa ini akan rusak dan hilang.

Namun memang benar jahe lebih sedap bila diminum dalam minuman panas. Karena itu, para ahli herbal menyarankan supaya jahe cukup diseduh dengan air yang suhunya sedang-sedang saja. Suhu tersebut sesuai dengan suhu air hangat dari dispenser.

Jahe merupakan tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Rimpangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Di Asia termasuk Indonesia, jahe digunakan untuk mengobati sakit perut, mual, dan diare.

Sebuah riset yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society of Clinical Oncology, menemukan bahwa jahe dapat mengurangi efek mual pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Riset tersebut dibiayai oleh National Cancer Institute.

Dalam risetnya, semua pasien diberikan obat anti-muntah standar setiap hari ketika menjalani kemoterapi. Namun beberapa di antara mereka juga mengambil kapsul yang mengandung ekstrak jahe, tiga hari sebelum melakukan kemoterapi.

Hasilnya menunjukkan, mereka yang mengonsumsi jahe mengalami penurunan sekitar 45 persen dalam risiko muntah ketimbang mereka yang tidak mengonsumsi jahe, kata Julie L. Ryan dari Universitas Rochester, peneliti utama studi tersebut.

National Institutes of Health telah membuat sejumlah ringkasan tentang kebenaran dari khasiat jahe dalam mengatasi berbagai penyakit :

Beberapa penelitian melaporkan bahwa jahe tidak banyak berpengaruh dalam mengatasi mabuk perjalanan. Studi lain bahkan mencatat, jahe hanya dapat mengurangi muntah, bukan mual. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek yang mungkin dapat ditimbulkan dari konsumsi jahe dan obat mabuk lainnya.

Studi awal menunjukkan bahwa jahe mungkin aman dan efektif untuk mual dan muntah semasa kehamilan bila digunakan sesuai dosis yang dianjurkan untuk jangka waktu yang singkat.

Laporan penelitian awal menunjukkan bahwa jahe dapat mengurangi keparahan dan lamanya waktu mual pada pasien kanker setelah kemoterapi. Studi lain juga menunjukkan tidak ada efek samping dari konsumsi jahe. Meski begitu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi hasil ini.

Beberapa laporan penelitian mengindikasikan konsumsi jahe sebelum operasi justru dapat memicu peningkatan mual atau muntah setelah pasien menjalani operasi. Namun, riset lain justru menunjukkan hasil berbeda sehingga perlu studi lanjutan.

Untuk beberapa orang, jahe telah dipercaya dapat menjadi alat bantu menurunkan berat badan. Tetapi studi lebih lanjut diperlukan untuk membuat sebuah rekomendasi yang aman.

Hanya sedikit efek samping yang mungkin ditimbulkan apabila seseorang mengonsumsi jahe dalam dosis kecil. Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah kembung, mulas, dan mual. Efek ini paling sering dikaitkan dengan penggunaan jahe serbuk.

Hingga saat ini, masih sedikit studi yang menyediakan informasi tentang keamanan dari efek penggunaan jahe dalam jangka panjang dan pedoman yang aman dari suplemen jahe.

Penting juga diketahui bahwa jahe juga dapat mengganggu kerja obat-obatan yang mengubah kontraksi jantung, termasuk beta-blocker dan digoxin.

Sebelum mulai menggunakan jahe untuk mengobati penyakit apapun, ada baiknya jika Anda berkonsultasi dengan dokter, terlebih lagi jika Anda sedang menjalani pengobatan jangka panjang.

Komentar