Sama, Resiko Banyak dan Kurang Tidur

Penulis: Darmansyah

Senin, 9 Juni 2014 | 17:16 WIB

Dibaca: 0 kali

Kurang tidur atau kelebihan tidur akan bisa membuat orang sulit berkonsentrasi pada siang hari. Jika Anda tidur lebih lama atau lebih sedikit dari malam sebelumnya, kemungkinan untuk mengalami rasa letih keesokan harinya memang lebih besar. Ini karena tubuh sebenarnya lebih suka konsistensi. Tubuh membutuhkan kita tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap harinya.

Jika biasanya Anda tidur selama delapan jam dan malam ini Anda melanjutkan tidur hingga sembilan jam, maka ritme tersebut akan rusak. Ritme tubuh yang terganggu bisa membuat sistem tubuh jadi berantakan sehingga kita merasa lebih gampang lelah.

Rata-rata siklus tidur adalah sekitar sembilan puluh menit, dan seseorang biasanya menghabiskan lima siklus sepanjang malam sehingga totalnya menjadi tujuh setengah jam.

Tentu saja jumlah ini bervariasi pada setiap orang. Jadi, jika Anda menambah ekstra waktu, berarti Anda akan terbangun pada tahapan tidur 3 dan 4, yang mana itu merupakan waktu tidur dalam.

Bangun dalam tahapan tidur itu bukan hanya membuat kita sering pusing dan lemas, melainkan juga membuat kita merasa kehabisan energi sepanjang hari. Selain itu, durasi tidur ternyata tak selalu sebanding dengan kualitas.

Pada banyak kasus, kita bisa tidur cukup lama dengan kualitas yang rendah, tetapi terbangun dengan perasaan lelah.

Untuk mengetahui jadwal tidur yang tepat untuk Anda, mulailah dengan mengetahui kapan Anda merasa perlu bangun tidur pada pagi hari dan hitung mundur tujuh setengah jam.

Jumlah waktu tersebut yang diperlukan tubuh untuk mendapatkan lima siklus tidur. Saat bangun, kita pun akan merasa segar dan siap menghadapi hari.

Penelitian juga menunjukkan kurang tidur dapat berakibat serius, yaitu hilangnya sel otak bahkan berisiko menyebabkan otak rusak permanen.

Studi pada tikus menunjukkan kurang tidur berkepanjangan menyebabkan 25 persen sel otak tertentu mati. Menurut ilmuwan Amerika, pada manusia yang kurang tidur, hal yang sama bisa saja terjadi meskipun manusia berusaha mengganti waktu tidurnya atau mengonsumsi obat untuk melindungi otak.

Penelitian yang diterbitkan oleh The Journal of Neuroscience ini meneliti tikus di laboratorium. Perilaku tikus tersebut meniru jenis-jenis kurang tidur pada umumnya dalam kehidupan modern, seperti bekerja pada shift malam atau menghabiskan waktu berjam-jam di kantor.

Tim peneliti dari University of Pennsylvania School of Medicine mempelajari sel-sel otak tertentu yang terlibat dalam menjaga sistem peringatan otak.

Setelah beberapa hari melihat pola tidur pada orang-orang yang bekerja di malam hari, tikus kemudian kehilangan dua puluh lima persen sel otaknya, yang dikenal sebagai locus coeruleus neuron. Pola kerja yang dimaksud adalah tiga hari bekerja pada shift malam, dengan waktu tidur hanya empat hingga lima jam dalam waktu dua puluh empat jam.

Para peneliti mengatakan ini adalah bukti pertama bahwa kurang tidur dapat menyebabkan hilangnya sel-sel otak.

Tapi mereka menambahkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengetahui apakah orang-orang yang kehilangan waktu tidur mungkin juga berada pada risiko kerusakan otak permanen.

“Kami sekarang memiliki bukti bahwa kurang tidur dapat menyebabkan kerusakan permanen. Ini adalah contoh sederhana yang ditunjukkan pada hewan namun kita harus berhati-hati pada manusia,” kata Sigrid Veasey dari Center for Sleep and Circadian Neurobiology.

Dia mengatakan, perlu ada langkah berikutnya untuk menguji otak para pekerja shift setelah adanya bukti kematian dari hilangnya sel-sel otak.

sumber : bbcindonesia.co dan www.huffingtonpost.com

Komentar