Sabun Mandi Itu Baik Atau Merusak Kulit?

Penulis: Darmansyah

Kamis, 23 November 2017 | 15:16 WIB

Dibaca: 0 kali

Untuk menjaga kesehatan kulit, Anda tentu harus rutin membersihkannya.

Pada beberapa kasus, keseringan membersihkan kulit dengan sabun malah menimbulkan beberapa masalah seperti kulit kering, gatal, bahkan meradang.

Jauh dari yang diinginkan, bukan? Sebenarnya bagaimana, sih, cara kerja sabun pada kulit?

Apakah sabun mandi baik atau justru merusak kulit?

Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Sabun adalah bahan pembersih yang terbuat dari asam lemak dengan hidroksida logam alkali.

Secara sederhana, sabun bekerja untuk membersihkan kulit dari kotoran, keringat, dan sebum  pada kulit.

Zat yang berperan dalam hal ini adalah surfaktan. Surfaktan adalah bahan kimia yang menstabilkan campuran minyak dan air.

Ini karena sabun yang terbuat dari lemak tidak bisa bercampur dengan air. Jadi, surfaktan pada sabun tidak hanya membersihkan tetapi juga bisa membuat sabun mudah dibilas dengan air.

Tidak hanya pada sabun, surfaktan juga bisa ditemukan pada losion, parfum, dan pada produk lainnya khususnya untuk tubuh dan rambut.

Selain itu, surfaktan dapat membantu proses pengelupasan kulit alami dengan mengeluarkan sel-sel mati dari epidermis  dan membuat kulit terasa segar.

Nyatanya, tidak selalu demikian. Surfaktan juga memiliki efek buruk pada bagian terluar epidermis yang disebut stratum korneum.

Efeknya adalah merusak fungsi pelindung kulit yang alami sehingga mempermudah racun, bakteri, dan zat lainnya menembus ke dalam kulit.

Kerusakan tersebut biasanya ditandai dengan kulit kering dan kemerahan.

Bahkan, bisa terjadi iritasi jangka panjang.

Meskipun sabun memang bisa membantu membersihkan kulit, zat kimia yang terkandung dalam sabun bisa menimbulkan efek samping tertentu pada kulit.

Intinya, sama saja dengan obat-obatan yang Anda konsumsi. Meski bermanfaat, ada juga efek samping yang mungkin muncul.

Lalu apa saja efek sabun mandi pada kulit manusia?

Stratum korneum terdiri dari lapisan sel keratinosit yang sudah mati yang memang akan mengelupas sendiri.

Ketika ini terjadi, inti sel dan sitoplasma menjadi keras dan mengering.

Nah, kandungan surfaktan dalam sabun mandi akan lantas bereaksi dengan proses tersebut, sehingga menyebabkan lapisan kulit membengkak.

Pembengkakan ini sebenarnya akan membantu bahan-bahan dalam sabun mandi untuk masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam.

Namun, bila bahan-bahan ini berinteraksi dengan ujung-ujung sel saraf dan sistem kekebalan tubuh, iritasi dan rasa gatal bisa timbul.

Stratum korneum mengandung lipid yang fungsinya membantu kulit mempertahankan kelembapan.

Diyakini, surfaktan dalam sabun mandi mampu menembus stratum korneum dan mengganggu lipid sehingga jumlah lipid menjadi semakin menurun.

Jika jumlah lipid menurun, maka kelembapan pada kulit juga berkurang.

Air secara alami menguap dari kulit, jika kulit sudah berkurang kelembapannya tentu akan menyebabkan kulit kering dan dehidrasi.

Menurut Verywell.com, zat surfaktan yang terkandung pada sabun umumnya memiliki tingkat pH (juga disebut tingkat keasaman) sekitar 10, sedangkan kulit memiliki ph sekitar 5,5.

Kadar pH yang berbeda tersebut dapat menyebabkan ketidakseimbangan sehingga akhirnya menyebabkan iritasi.

Bahan pembersih yang baik adalah dapat menyeimbangkan kadar asam pada kulit.

Anda masih sangat disarankan untuk mandi dengan sabun agar bersih dari kuman, virus, dan jamur. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya Anda tidak kena efek samping pakai sabun mandi.

Gunakan sabun dengan kandungan emolien yang dapat menjaga kelembapan kulit. Biasanya, emolion terdapat pada banyak sabun cair.

Jika sabun sudah sesuai, cara dan aturan pemakaiannya juga harus benar.

Misalnya, tidak menggosokkannya terlalu kuat pada kulit atau tidak menggunakan air yang terlalu panas ketika membilasnya.

Anda juga tidak disarankan untuk mandi berlama-lama karena bisa membuat kulit kering.

Cukup basahi badan, sabuni hingga merata, dan segera bilas bersih tubuh Anda.

Komentar