Resiko Usia dari Naiknya Berat Badan

Penulis: Darmansyah

Kamis, 20 Juli 2017 | 14:55 WIB

Dibaca: 0 kali

Berat badan, menurut sebuah studi  dari  Harvard T.H. Chan School of Public Health, akan terjadi pada awal dan pertengahan usia dewasa. Dan pada saat itu pula resiko kesehatan akan meningkat

“Semakin berat badan Anda, semakin besar kemungkinan munculnya  risiko kesehatan,” tulis hasil studi  Harvard T.H. Chan School of Public Health itu.

Orang yang mengalami kenaikan berat badan dalam jumlah sedang sebelum usia lima puluh lima tahun meningkatkan resiko kematian dini, penyakit kronis dan menurunkan kesempatan untuk mendapatkan hari tua yang sehat.

Semakin tinggi kenaikan berat badan, semakin besar pula risikonya.

“Penelitian ini secara sistematis memeriksa hubungan penambahan berat badan dari awal hingga pertengahan masa dewasa dengan resiko kesehatan utama di kemudian hari,” kata peneliti senior Frank Hu, yang juga profesor di bidang nutrisi serta epidemiologi dan Ketua Departemen Nutrisi Harvard T.H. Chan School of Public Health.

Sudi tersebut menganalisis data dari sembilan puluh tiga ribu peserta di mana berat badan mereka ditimbang pada usia delapan belas hingga dua puluh satu tahun, dan dilihat kembali tiga puluh tujuh tahun kemudian.

Hasilnya didapati bahwa rata-rata wanita mengalami kenaikan berat badan sepuluh kilogram, sementara pria naik rata-rata delapan koma enam kilogram.

Dan mereka yang yang memperoleh tambahan berat lebih banyak juga menderita lebih banyak penyakit.

“Temuan menunjukkan bahwa bahkan jumlah kenaikan berat badan yang sedikit bisa memiliki akibat pada kesehatan,” kata Frank.

Parahnya, awal dan pertengahan masa dewasa adalah saat kebanyakan orang justru bertambah berat badannya.

Ini karena metabolisme mereka melambat, lebih rentan cedera, dan menjadi kurang aktif pada usia tiga puluh  dan empat puluhan karena harus bekerja lebih lama dan memiliki tanggung jawab lebih besar dibanding saat berusia dua puluhan.

Studi lain dari Harvard T.H. Chan School of Public Health dan University of Cambridge di Inggris pada tahun lalu menyebutkan kelebihan berat badan atau obesitas berkaitan dengan risiko kematian dini.

Selain itu pada empat tahun silam, lima ratus periset dari lebihtiga ratus institusi global yang tergabung dalam Global Mortality Collaboration BMI atauBody Mass Index, menyatakan bahwa untuk setiap kenaikan lima unit dalam BMI, maka meningkat pula risiko kematian karena penyakit jantung  dan kematian akibat penyakit pernafasan serta  kematian akibat kanker.

BMI menghitung berat badan, otot, lemak dan tulang dalam kaitannya dengan tinggi dan jenis kelamin.

Perlu juga diketahui bahwa bahaya kelebihan berat badan lebih besar pada orang muda dibanding pada orang tua, dan pada pria daripada pada wanita.

Intinya, ada risiko kesehatan yang signifikan terkait dengan kelebihan berat badan.

“Dokter perlu memberi nasihat kepada pasien tentang bahaya kelebihan berat badan yang mencakup risiko diabetes tipe 2 yang lebih tinggi, penyakit kardiovaskular, kanker dan kematian dini,” kata Shilpa Bhupathiraju, ilmuwan penelitian di departemen nutrisi di Harvard Chan School of Public Health.

Lantas muncul pertanyaan, kenapa kita mudah untuk gemuk usai menjalani terapi diet?

Untuk diketahui, hampir semua orang yang berusaha menurunkan berat badan pernah mengalami masalah ini: menurunkannya mudah, tapi menjaganya sulit.

Banyak orang berusaha berbulan-bulan mencapai berat yang diinginkan. Namun begitu tercapai, kondisi itu tidak bertahan lama.

Bahkan jauh lebih cepat berat itu kembali ke awal.

Mengapa hal itu terjadi?

Apakah penurunan metabolisme menjadi penyebabnya? Atau ada hal lain yang berperan sehingga kita seolah ditakdirkan tidak pernah menjadi langsing?

Ada beberapa  alasan mengapa berat badan kita kembali seperti semula, dan bagaimana mengatasinya.

Kita adalah bagian masyarakat modern yang menginginkan segalanya serba cepat. Kita selalu mengharapkan hasil yang segera dalam segala usaha kita. Begitu juga dengan soal penurunan berat badan.

Jenis diet apapun yang kita lakukan, baik membatasi kalori, menghindari karbohidrat, mengurangi gula, atau pengaturan waktu makan, bila dilakukan dengan serius, membuat badan kita cepat menjadi lebih langsing. Tentu ini hal yang baik untuk memotivasi diet kita.

Tapi yang kita lupakan adalah strategi berikutnya untuk menjaga agar pencapaian itu bisa berlangsung terus menerus.

Kita hanya fokus terhadap bagaimana menurunkan berat, tapi lupa mencari tahu mengapa kita menjadi kegemukan.

 

Padahal dengan mengetahui penyebabnya, kita akan bisa mengatur pola hidup agar tidak kembali menjadi obesitas.

Oleh karenanya para pakar nutrisi menyarankan agar kita tidak semata-mata fokus pada bagaimana cara cepat menjadi langsing, tapi fokuslah pada perubahan gaya hidup yang memungkinkan kita beradaptasi pada kebiasaan baru yang sehat.

Sebuah uji klinis yang dilakukan terhadap pasien penderita diabetes menghasilkan efek yang menjelaskan mengapa setelah berdiet, kita gampang menjadi gemuk lagi.

Dalam uji itu, beberapa orang diberi obat bernama canagliflozin yang membuat ginjal mengeluarkan lebih banyak glukosa -efek samping yang menguntungkan untuk menurunkan berat badan

Namun mereka yang diberi obat tersebut hanya mengalami sedikit saja penurunan berat badan dibanding yang tidak diberi obat serupa.

 

Mengapa?

 

Ternyata mereka yang kehilangan banyak glukosa menjadi lebih mudah lapar dibanding biasanya.

 

Kelaparan itu membuat mereka menyantap seratus kalori lebih banyak tiap hari untuk setipa kilogram berat yang hilang dari tubuhnya.

“Perasaan kelaparan tiga kali lebih berpengaruh daripada perlambatan metabolisme, sehingga lebih membuat tubuh kembali gemuk. Tubuh orang yang banyak kehilangan berat badan akan menyesuaikan diri agar tidak lagi kehilangan bobot. Selain memperlambat metabolisme, ia akan mendorong orang untuk makan,” ujar ahli nutrisi, Dr Tim Crowe.

Bagaimana mengatasinya?

Rasa lapar adalah cermin kebutuhan fisik akan makanan, sehingga sebaiknya kita tidak mengabaikannya.

Yang harus kita cermati adalah membedakan rasa lapar karena tuntutan tubuh, atau sekedar keinginan lidah untuk mengunyah.

Biasakanlah makan secukupnya, sesuai kebutuhan tubuh, bukan berlebih.

Bagi banyak orang, diet berarti dalam waktu tertentu membatasi nafsu makan, membiarkan diri kita kelaparan, sehingga nantinya saat tujuan tercapai, kita bisa bebas menyantap apa saja.

“Seperti sudah disebut, tubuh kita akan melawan penurunan berat badan dengan memunculkan keinginan untuk makan. Kita mungkin dapat mengabaikan rasa lapar itu beberapa kali, namun dalam jangka panjang, ia dapat mengalahkan niat kita,” ujar Crowe.

Cara mengatasinya adalah dengan menjadikan diet kita lebih mudah. Jangan memaksa tubuh untuk menahan godaan secara berlebihan.

Dalam waktu yang sama, alihkan godaan itu menjadi kegiatan lain, seperti berjalan-jalan, mandi, atau bermain daripada sekedar memikirkan niat Anda.

Komentar