Resiko dari Kurang Tidur Bagi Kesehatan

Penulis: Darmansyah

Rabu, 7 Februari 2018 | 09:02 WIB

Dibaca: 0 kali

Majalah dunia terkenal “time” dalam edisinya hari ini secara khusus menyorot tentang dampak kurang tidur dan berbagai kemungkinannya.

Menurut “time,” tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Tapi bagaimana jika seseorang kurang tidur?

Mungkin banyak dari Anda yang tak bisa tidur di malam hari kemudian mencuri waktu tidur di siang hari agar bisa lebih produktif.

Tidur semacam ini dikenal dengan tidur polyphasic yang mengganti jatah tidur di malam hari ke siang hari. Durasi waktunya pun bermacam-macam.

Tidur polyphasic adalah rahasia di balik pemikiran hebat para ilmuwan seperti Leonardo da Vinci dan Nikola Tesla.

Lalu, apakah tidur dengan pola seperti ini dapat menimbulkan dampak buruk bagi tubuh?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita tahu apa itu tidur polyphasic yang mengganti jatah tidur malam ke siang hari. Bagi orang yang sudah menjalankan tidur polyphasic, pola tidurnya berbeda.

Salah satu yang paling populer adalah melakukan tidur nyenyak dan menambahkan tidur di siang hari selama 20 menit. Panjang tidur nyenyak di malam hari dan siang masing-masing orang berbeda, namun jika diakumulasi mereka menghabiskan waktu tiga sampai tujuh jam untuk tidur.

Ada pula yang hanya tidur siang selama dua puluh hingga tiga puluh menit setiap empat jam dalam satu hari. Misalnya saja pukul sembilan pagi tidur selama tiga puluh menit, kemudian tidur lagi selama tiga puluh menit pukul  satu, begitu seterusnya.

Konon, orang yang melakukan pola tidur seperti ini otaknya bisa lebih produktif.

Itu karena saat tidur normal, otak sebenarnya hanya mendapat sekitar satu jam untuk beristirahat atau dikenal dengan REM Sleep.

Dalam periode ini, tubuh akan tidur dengan nyenyak, sedangkan sisa waktu yang lain digunakan untuk proses pertumbuhan dan detoksifikasi.

Oleh orang yang mempraktikkan tidur polyphasic, fase selain tidur REM tidak dibutuhkan. Mereka lebih memilih menggunakan waktu tersebut untuk melakukan kegiatan lain. Ada anggapan bahwa jika melakukan pola tidur polyphasic maka sepenuhnya melakukan tidur berkualitas.

Bagi yang sudah mempraktikannya dan percaya akan manfaat yang diberikan tidur polyphasic, ebaiknya mulai belajar untuk tidur normal kembali. Sebab, para ahli sama sekali tidak menganjurkannya.

“Tak ada satupun literatur medis yang menunjukkan bahwa tidur polyphasic dapat memberi keuntungan bagi kesehatan,” kata Dr. Alon Avidan, direktur Pusat Gangguan Tidur Universitas California, Los Angeles.

Sebaliknya, hal ini justru dapat mengganggu kesehatan, seperti muncul gangguan kognitif, masalah memori, dan risiko kecelakaan yang lebih tinggi.

“Orang yang tidak tidur setidaknya tujuh jam dalam sehari,  berisiko tinggi mengalami penyakit kronis seperti diabetes dan obesitas.

Penelitian telah menunjukkan bahwa kurang tidur dapat mengganggu tingkat hormon dan lonjakan gula darah serta nafsu makan,” sambungnya.

Ia mengatakan tidak hanya tidur REM saja yang memberi manfaat untuk tubuh. Siklus tidur yang lain juga memiliki manfaat. Jika terjadi perubahan dalam tahap tidur, hal itu dapat berakibat pada sistem endokrin dan fungsi metabolik.

Meski beberapa orang merasa baik-baik saja saat kurang tidur, entah itu karena mengikuti pola tidur polyphasic atau lainnya, sebenarnya risiko-risiko negatif untuk tubuh terus menumpuk. Layaknya bom waktu, hal ini sewaktu-waktu meledak dan membahayakan kesehatan.

“Tidur itu bukan seperti menabung di tabungan. Anda tidak bisa tidur selama satu jam, lalu dua jam, dan menggabungkannya dengan tidur empat jam, kemudian Anda menganggap itu sudah tidur tujuh jam,” ujarnya.

Avidan pun tak mengelak bahwa sudah sejak zaman dulu orang melakukan pola tidur polyphasic.

Dia menggaris bawahi, hal tersebut dilakukan kerena lebih berhubungan pada lingkungan bukan biologis.

“Itu mungkin terkait dengan kebutuhan lingkungan, seperti tidak ada AC dan kapan waktu yang nyaman untuk bekerja di lingkungan berburu dan pertanian,” karanya.

Kebutuhan manusia untuk tidur normal minimal tujuh jam di malam hari pun telah dibuktikan oleh kesehatan orang-orang yang bekerja di malam hari.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang bekerja di malam hari cenderung memiliki banyak masalah kesehatan, seperti penyakit jantung dan umur yang lebih pendek daripada orang-orang yang bekerja di siang hari.

Tidur adalah salah satu kebutuhan dasar bagi manusia. Ini karena dengan tidur, tubuh manusia beristirahat dengan baik.

Namun, sering kali karena perkerjaan atau tugas banyak orang mengurangi waktu tidurnya atau bahkan tidak tidur. Sekilas mungkin hal ini tidak berbahaya, tapi benarkah demikian?

Dirangkum dari video di channel youtube Tech Insider, Matthew Walker, seorang profesor neuroscience dan psikologi di University of California, Berkeley mencoba menjelaskan dampak dari kurang tidur.

Dalam video berdurasi empat menit empat puluh sembilan detik tersebut Walker menjelaskan bahwa kurang tidur mencegah otak manusia untuk membuat ingatan baru.

“Jadi seolah-olah, tanpa tidur, kotak memori otak Anda mati dan tidak dapat melakukan pengalaman baru ke memori,” ujar Walker yang juga merupakan penulis buku Why We Sleep tersebut.

“Saat ada informasi baru masuk, mereka akan terpental dan membuat Anda seolah-olah amnesia. Anda sebenarnya tidak bisa membuat dan menciptakan kenangan baru itu,” imbuhnya.

Selain mencegah masuknya memori atau kenangan baru, kurang tidur juga memiliki dampak lebih besar yaitu penyakit alzheimer.

Walker menyebut, penyakit tersebut terjadi karena penumpukan protein beracun yang bernama beta amyloid yang terkait erat dengan risiko penyakit Alzheimer.

“Saat tidur nyenyak di malam hari, sistem pembuangan kotoran di otak benar-benar berada dalam kekuatan tertinggi dan mulai membasmi protein beracun ini, beta amyloid,” kata Walker.

“Jadi, jika Anda tidak cukup tidur setiap malam, lebih banyak protein yang terkait alzheimer terbentuk. Semakin banyak protein terbentuk, semakin besar risiko Anda untuk mengalami demensia di kemudian hari,” sambungnya.

Jika dua hal sebelumnya adalah efek yang terjadi pada otak manusia, lalu bagaimana efeknya pada tubuh yang kurang tidur?

Walker menyebut salah satu dampak kurang tidur akan terjadi pada sistem reproduksi.

“Kita tahu pria yang tidur hanya selama lima hingga enam jam semalam memiliki kadar testosteron setara dengan pria sepuluh tahun lebih tua,” ujar Walker.

“Jadi, kurang tidur akan membuat Anda menua hampir satu dekade dalam hal kejantanan dan kesehatan,” ungkap Walker.

Tak hanya masalah kejantanan, kurang tidur ternyata juga memiliki dampak besar pada sistem kekebalan tubuh. Walker menyebut bahwa tidur malam hanya empat  hingga lima jam semalam membuat mengurangi  tujuh puluh persen pada sel kekebalan anti kanker.

Padahal, menurut Walker, sel ini merupakan sel pembunuh kanker alami.

“Itulah mengapa durasi tidur singkat memprediksi risiko Anda untuk mengembangkan berbagai bentuk kanker. Dalam daftar itu, termasuk kanker usus, kanker prostat, serta kanker payudara,” kata Walker.

Komentar