Puasa Bisa Jadi Bonus Menambah Umur

Penulis: Darmansyah

Selasa, 2 Mei 2017 | 07:35 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs kesehatan terkenal “mensjournal,” pekan ini, menurunkan tulisan panjang tentang  dahsyatnya dampak puasa terhadap pertambahan usia

“Puasa berkala dengan  mengurangi asupan kalori akan berdampak pada  usia yang lebih panjang,” tulis “mensjournal.”

Dalam sebuah penelitian memang terbukti bahwa pengurangan asupan makanan secara drastis bisa memperpanjang usia dua kali lipat pada hewan pengerat, cacing, dan serangga.

Bahkan penelitian selama dua puluh tahun terhadap monyet rhesus, spesies yang merupakan kerabat dekat manusia, mendapati bahwa manfaat diet itu ternyata beragam, mulai dari kekebalan terhadap kanker, mengurangi kemungkinan sakit jantung, dan berkurangnya resiko penyakit yang terkait dengan pertambahan usia.

Walau banyak manfaat yang didapatkan dengan mengurangi asupan kalori, namun yang menjadi pertanyaan adalah: siapa yang mau terus menerus kelaparan sepanjang hidupnya?

Apakah ada cara yang lebih mudah?

Bisakah kita mendapatkan manfaat yang sama namun dengan cara yang tidak menyiksa?

Jawabannya ternyata ada.

Cara itu disebut puasa berkala atau intermittent fasting atau deknal dengan sebutan “IF,” dan biasa diterapkan pada atlet-atlet angkat beban, crossfit, dan olahraga lainnya.

“Ketika mendengar kata puasa, orang biasanya akan membayangkan seminggu tidak makan,” kata Brad Pilon, penulis buku Eat Stop Eat.

“Namun mestinya tidak begitu, melainkan bayangkan bahwa kita hanya mengambil jeda waktu lebih panjang antara waktu makan.”

Menurut Pilon, manfaat IF bisa didapat ketika kita setidaknya selama dua belas jam tidak makan apapun, kecuali minum air.

Sederhananya, kita bisa mulai makan pukul delapan  pagi, dan berhenti makan pukul  tiga sore.

Setelah itu hanya minum air putih sampai keesokan harinya. Dengan begitu ada jeda waktu lebih dari dua belas jam di mana kita tidak memasukkan kalori dalam tubuh.

Meski terdengar bertolak belakang dengan anjuran yang menyebutkan lebih baik makan sedikit namun sering, metode ini diyakini membuat tubuh lebih bertenaga, membakar lemak lebih banyak, mengurangi kemungkinan penyakit jantung, kanker, dan diabetes, serta membuat tubuh lebih cepat memulihkan diri.

Kebiasaan makan seperti ini sebenarnya sudah dilakoni para nenek moyang kita yang hidup sebagai pemburu.

Mereka tidak selalu mendapat hewan buruan, sehingga ada masa-masa harus berpuasa. Dan seperti mereka, tubuh kita memang dirancang untuk bisa bertahan menghadapi situasi seperti itu.

Sulitkah membiasakan diri dengan pola makan seperti itu?

Mereka yang pernah melakukannya menyebutnya sebagai hal yang mudah. Begitu kita melakukannya selama seminggu, maka kebiasaan itu menjadi mudah.

Manfaat lain dari IF adalah mengurangi timbunan lemak pada tubuh. Kita mempelajari bahwa salah satu bahan bakar tubuh adalah glukosa yang berasal dari gula.

Kita mendapatkannya melalui makanan seperti gula, karbohidrat, maupun minuman ringan.

Namun sebenarnya tubuh kita memiliki bahan bakar lain yang disebut ketones. Saat tubuh kehabisan glukosa, maka molekul ini mulai membakar lemak alam tubuh. Ini terjadi saat kita berpuasa, atau di saat jeda tidak makan.

Bila pada saat jeda itu kita juga berolahraga, maka pembakaran lemak akan lebih banyak, sehingga kadar lemak dalam tubuh kita akan berkurang.

Penelitian juga menunjukkan bahwa hormon pertumbuhan, yang berperan dalam pembentukan otot, juga meningkatkan kinerja saat tubuh berpuasa. Peningkatan kinerja hormon ini membuktikan bahwa tubuh manusia mampu melakukan adaptasi untuk bertahan selama beberapa waktu tanpa makanan.

“Beberapa orang tidak hanya memperoleh manfaat lewat pembakaran lemak yang tinggi, namun juga merasa lebih nyaman dan lebih kuat ketika terbiasa berpuasa,” ujar Jon Haas, pelatih kebugaran dari New Jersey.

“Mereka juga merasa lebih bisa mengendalikan tubuhnya, dan secara mental menjadi lebih kuat. Dan memang seperti inilah tubuh kita dirancang.”

Sisi buruk dari puasa ini, adalah kecenderungan orang untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori seperti gula dan karbohidrat, begitu masa puasa selesai.

Hal ini masuk akal karena setelah berpuasa dua puluh  jam tubuh kita memang akan berusaha mencari makanan dan karbohidrat untuk mengganti yang hilang dan agar bisa dipakai seandainya nanti tidak mendapatkan makanan lagi.

Meski begitu, menurut para pelaku IF, tubuh kita bisa dibiasakan untuk mengkonsumsi makanan yang lebih sehat.

Sebuah penelitian tentang tubuh manusia yang dilakukan University of California di Berkeley,  University of Southern California, Mount Sinai Chicago menunjukkan bahwa IF bisa membantu mencegah munculnya kanker.

Pasalnya, selama puasa sel-sel tubuh kita berada dalam mode protektif sehingga menjaga tubuh dari serangan penyakit.

Selain itu, sel-sel kanker akan kesulitan berkembang karena makanan mereka, glukosa, tidak ditemukan dalam aliran darah saat kita berpuasa.

Berpuasa adalah kegiatan yang melatih otak kita seperti halnya otot dilatih dengan berolahraga, ujar Mark Mattson, peneliti di National Institute on Aging.

“Ketika otak dibatasi asupan energinya, ada aktivitas sampingan yang terjadi, yakni ada sel-sel melindunginya dari kerusakan, seperti stroke dan penuaan,” ujar Mattson.

“Puasa juga meningkatkan BDNF, protein penting untuk melindungi tubuh dari kerusakan-kerusakan terkait usia,” lanjut Mattson. “Ada juga bukti bahwa ketones yang didapatkan dari lemak dan digunakan sebagai bahan bakar selama puasa, merupakan pelindung dari penyakit degeneratif seperti epilepsi dan Alzheimer.”

Awalnya, puasa mungkin terasa berat. Yang terpikir adalah kapan waktu makan. Namun menurut Brad Pilon, metode ini sangat bisa dibiasakan.

Awalnya kita cukup mengambil dua hari dalam seminggu berpuasa, hal yang tidak asing lagi karena di Indonesia ada juga kebiasaan berpuasa Senin Kamis. Bila sudah terbiasa, maka kita bisa menambah hari, sehingga menjadi lima hari dalam seminggu.

Mengenai waktunya sebenarnya terserah pada kebiasaan kita, apakah kita mau mengambil jendela makan di pagi hingga siang hari, atau siang hingga sore.

Intinya usahakan tubuh kita tidak makan sedikitnya selama dua belas jam setiap hari. Makin kecil jendela makan, makin cepat efek yang ditimbulkannya.

“Pembakaran lemak mulai terjadi setelah dua belas hingga tiga belas jam berpuasa, dan mencapai puncak setelah delapan belas jam,” ujar Pilon.

Artinya juga kita bisa menahan hingga delapan belas jam tidak makan, maka proses itu akan lebih efektif.

Bagaimana dengan tenaga untuk bekerja dan berolahraga? Mereka yang melakukan IF mengatakan tidak ada masalah dengan hal itu. Mereka justru merasa lebih bertenaga jika melakukan latihan pada periode puasa dibanding bila makan sebelumnya. Tentu hal ini tidak berlaku untuk olahraga yang sifatnya endurance, seperti lari marathon misalnya.

Pada dasarnya, tubuh kita tetap bisa mendapatkan tenaga dari sumber lain, yakni ketones lewat pembakaran lemak. Ini hanya seperti memindahkan baterai saja.

Komentar