Prostat? Enyahkan Kopi dan Asup Teh Hijau

Penulis: Darmansyah

Rabu, 3 Juni 2015 | 08:29 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda ingin mengenyahkan prostat?

Pertama enyahkan kopi dari menu harian dan mendekatlah dengan meminum teh hijau sebagai kebutuhan rutin.

Memang banyak orang, terutama para usia lanjut, yang belum bisa menghindar dari kebiasaan “ngopi” sebagai kebutuhan harian. Mereka tidak menyadari bahwa “ngopi” akan membesarkan kalenjer prostat dan memicu terjadinya kanker.

Nah, untuk menghindari prostat sebaiknya, mulai sekarang, Anda bisa menggantikannya dengan teh hijau.

Tidak banyak orang yang tahu arti kesehatan dari teh hijau. Padahal teh hijau bisa mencegah beragam penyakit kanker. Salah satunya mencegah kanker prostat.

Penelitian itu dibuktikan tim peneliti asal Amerika Serikat. Studi yang dipimpin Nagi Kumar dari Moffitt Cancer Center di Amerika Serikat menilai keamanan dan efektivitas dari komponen aktif dalam teh hijau bisa mencegah perkembangan kanker prostat pada pria yang memiliki lesi premalignant.

Lebih lanjut, studi itu menunjukkan zat katekin dalam teh hijau dapat menghambat pertumbuhan sel kanker, motilitas, invasi, dan merangsang kematian sel kanker.

Para peneliti membandingkan efek dari Polyphenon E pada puluhan laki-laki responden dengan plasebo tablet, dan puluhan responden laki-laki lainnya selama periode pengobatan satu tahun.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang mengambil kapsul teh hijau mengalami penurunan yang signifikan dalam antigen tingkat spesifik prostat.

PSA adalah biomarker yang dikombinasikan dengan faktor risiko lain yang digunakan untuk monitoring pasien kanker prostat, serta tanda risiko kanker prostat.

Pada akhir sesi studi, para peneliti juga mencatat Katekin teh hijau juga mencegah dan mengurangi pertumbuhan tumor.

Berlainan dengan teh hijau. Kopi telah menebarkan kabar suram bagi pria penikmat nya.

Ternyata kebiasaan minum kopi di batas usia tersebut dapat memicu pembesaran kelenjar prostat.

Pembesaran prostat akibat mengasup kopi ini memang tidak terbilang “ganas,” tapi menurut para ahli dapat menjadi penyebab infeksi saluran kemih yang bermuara pada gangguan ginjal

Nah! Sinyal bahaya kebiasaan minum kopi bagi pria memasuki usia baya ini memang belum diketahui penyebab pastinya,

Namun penelitian oleh sebuah tim kedokteran dari “Macmillan Suport Cancer” yang dilakukan terhadap pria tua yang masih rajin mengasup kopi ditemukan indikasi pembesaran kelenjar prostat.

Apakah dengan temuan ini para ahli akan menyarankan pria baya meninggalkan kebiasaan minum kopi? Ternyata tidak. Kebiasaan mengasup kopi masih diperkenankan bila takaran dan jadwalnya dikurangi.

Kelenjer prostat memang cenderung membesar bersamaan dengan peningkatan usia. Pembesaran prostat yang tidak ganas itu disebut dengan istilah kedokteran “hiperplasia prostat.”

Penderita gangguan ini akan mengalami kesulitan atau tidak mampu berkemih. Retensi urin bisa meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih dan bisa merusak ginjal.

Para ahli kesehatan memberikan jalan keluar bagi penderita pembesaran prostat ini lewat obat-obatan.

Obat dapat mengendalikan gejala hiperplasia prostat jinak, demikian juga dengan tindakan operasi serta perubahan pola makan.

Laman jurnal “livestrong” mengingatkan kopi dan minuman berkafein, seharusnya memang dihindari olah pria usia baya. Hal ini karena kafein bersifat “diuretic” sehingga meningkatkan produksi urin dan merangsang keinginan untuk berkemih.

Untuk pria yang sedang menderita pembesaran prostat yang sudah mengalami iritasi saluran kemih atau tekanan pada uretra, konsumsi kafein harus dihentikan karena ia bisa memperparah peningkatan frekuensi urin.

Kaitan antara kopi dengan risiko pembesaran prostat memang masih diperdebatkan para ahli dibanyak panel diskusi dan jurnal-jurnal kesehatan. Beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil yang bertolak belakang

Selain kopi, kurangnya konsumsi sayur dan buah-buahan disebut juga akan meningkatkan risiko pembesaran prostat. Sayur dan buah-buahan merupakan asupan yang paling aman bagi pria baya untuk menjaga stabilitas kelenjer prostatnya.

Sementara itu, sebuah penelitian lain yang juga dilakukan oleh “Macmillan Suport Cancer” menyatakan pria yang sudah menjalani terapi pengobatan kanker prostat tidak lagi memiliki kehidupan seksual.

Di Inggris, menurut lembaga itu, ada 160 ribu pria yang telah menjalani terapi tidak punya lagi kehidupan seks normal.

Gangguan seksual yang dialami pasien antara lain disfungsi ereksi alias impotensi sebagai efek samping dari operasi, radioterapi, atau pun terapi hormonal yang dilakukan sebagai bagian dari pengobatan.

Sebagian besar pria yang mengalami gangguan seksual itu karena mereka mengalami kerusakan saraf permanen sehingga tidak lagi mampu ereksi. Sekitar dua dari tiga pasien kanker prostat mengaku mereka tak lagi mampu ereksi.

Profesor Jane Maher dari Macmillan Cancer Support menjelaskan, banyaknya pasien yang mengalami gangguan seksual tersebut membutuhkan penanganan serius. Dokter juga perlu menjelaskan dengan detil kepada pasien sebelum dimulainya terapi pengobatan. “Banyak yang masih ditolong dengan tindakan pencegahan dan juga dukungan dari keluarga,” katanya.

Para pasien juga didorong untuk berkonsultasi kepada dokter jika mengalami gangguan seksual.

“Bagi banyak pria yang menderita kanker prostat ada semacam stigma jika mereka membicarakan tentang disfungsi ereksi,” kata Dr.Daria Bonanno, ahli klinis psikologis.

Kebanyakan pasien akan merasa kehilangan maskulinitas dan kesedihan karena mereka tak mampu ereksi. Ini akan semakin membuat mereka secara emosional lebih terisolasi dari pasangannya. Padahal hal itu justru memperburuk gangguan seksualnya.

livestrong, timeofindia dan healthday

Komentar