Pria dan Wanita Itu Berbeda soal Kesehatan

Penulis: Darmansyah

Kamis, 7 September 2017 | 08:51 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs “abc plus australia,” hari ini menurunkan tulisan panjang tentang perbedaan mendasar antara pria dan wanita menyangkut kesehatan.

Dalan pengantarnya, “abc plus” menulis, tubuh perempuan dan pria memiliki karakter yang berbeda sehingga rasa sakit, serangan jantung, dan kentut yang dialami pun akan berbeda.

“Ada perbedaan bagaimana tubuh  pria dan wanita yang selama ini tidak disadarai,” lanjut tulisan pengantar “abc plus.”

Dunia kedokteran  memang tidak menyadari hal tersebut.

Ini disebabkan karena sebelumnya banyak penelitian kesehatan dilakukan terhadap pria, atau binatang jenis jantan di laboratorium, dan kemudian penerapannya digunakan terhadap semua jenis kelamin.

Hal tersebut tidak dilakukan sengaja karena menganggap wanita tidak penting, namun karena dugaan sebelumnya bahwa proses hormonal bulanan yang terjadi pada perempuan akan membuat penelitian lebih susah.

Padahal kemudian terbukti hal tersebut tidaklah berlaku.

Juga dalam beberapa kasus seperti penelitian terhadap osteoporosis, depresi, dan kanker dada pada pria, banyak ilmuwan menggunakan data dari perempuan untuk digunakan terhadap pria, hal yang juga tidak tepat.

Sering disebutkan dari contoh proses melahirkan bahwa perempuan lebih mampu menahan rasa sakit.

Namun para ahli mengatakan sekarang banyak bukti yang menunjukkan perempuan lebih sensitif terhadap rasa sakit, dan memiliki toleransi lebih rendah dibandingkan pria.

Tentu saja tidak berarti semua peerempuan akan merasa seperti itu dibandingkan pria.

Namun pada umumnya. pria lebih mampu menahan rasa sakit lebih lama dibandingkan perempuan, sebelum mereka memberikan reaksi terhadap rasa sakit tersebut.

Paling tidak ini yang ditunjukkan dalam eksperimen di laboratorium terhadap berbagai jenis rasa sakit.

Rasa sakit dalam kehidupan sehari-hari lebih susah dipelajari, karena susah diukur dan dikontrol.

Kerentanan yang dirasakan perempuan terhadap rasa sakit bisa menjelaskan mengapa mereka mengalami kondisi rasa sakit kronis dibandingkan pria.

Statistik menunjukkan tujuh puluh persen penderita rasa sakit kronis adalah perempuan.

Rasa sakit kronis paling umum adalah sakit kepala dan itu diderita lima puluh persen lebih banyak perempuan dibandingkan pria.

Banyak faktor yang kemungkinan mempengaruhi mengapa perempuan dan pria bereaksi berbeda terhadap rasa sakit.

Genetik yang berbeda dan hormon mungkin menjadi kemungkinannya.

Juga ada bukti bahwa sel yang terlibat dalam merasakan sakit bagi pria dan perempuan berbeda, sehingga juga mempengaruhi cara bekerja obat penahan rasa sakit.

Namun perbedaan rasa sakit, dan bagaimana kita mengungkapknnya juga dipengaruhi oleh jenis kelamin dan hubungan sosial.

Sebagai contoh, perempuan membicarakan rasa sakit lebih terbuka, sementara pria mungkin akan meremehkannya.

Para ilmuwan pada umumnya sepakat bahwa perempuan memiliki sistem kekebalan yang lebih aktif dibandingkan pria, memproduksi sel yang lebih besar dan lebih aktif untuk memerangi patogen yang menyerang tubuh kita seperti bakteri dan virus.

Tampaknya hormon oestrogen pada perempuan memainkan peran aktif tersebut, sementara hormon testoterone tidak begitu.

Ini juga menjadi sebab mengapa perempuan lebih tahan terhadap infeksi dibandingkan pria.
Pria memiliki resiko 1,5 kali lebih besar untuk meninggal karena TBC dibandingkan perempuan.

Namun memiliki sistem kekebalan tersebut juga memiliki sisi buruk karena sistem kekebalan itu bisa bereaksi berlebihan.

Ini bisa membuat sistem kekebalan tubuh perempuan menyerang jaringan yang sehat, sehingga menimbulkan penyakit seperti rheumatoid arthritis, lupus dan multiple sclerosis.

Ada sekitar  tujuh puluh jenis penyakit yang disebut autoimmune diseases atau penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh, dan kebanyakan menyerang perempuan dibandingkan pria.

Dan angkanya adalah delapan puluh persen penderita penyakit autoimmune diseases adalah perempuan.

Perempuan juga lebih rentan terhadap banyak vaksin, termasuk vaksin flu.

Itulah sebabnya, mereka lebih besar kemungkinan mengalami rasa sakit setelah mendapat vaksin, seperti sakit kepala, atau bekas suntikan vaksin akan memerah.

Banyak orang yang masih tidak tahu bahwa penyakit jantung koroner – dimana terjadi penggumpalan lemah di saluran arteri ke jantung – adalah penyebab kematian terbesar perempuan di Australia.

Ini adalah penyebab utama serangan jantung ketika pasok darah ke otot jantung terganggu.

Namun serangan jantung yang menimpa perempuan bisa tampak berbeda dengan serangan jantung terhadap pria.

Untuk pria dan wanita, rasa sakit di dada atau adanya perasaan kebas di pundak bagian kiri adalah gejala paling umum dari serangan jantung.

Namun pada perempuan, ada kemungkinan tidak ada rasa sakit di dada sama sekali.

Perempuan lebih besar kemungkinan mengalami gangguan pernapasan atau rasa sakit di tengkuk atau rahang, selain juga perasaan lain seperti mual.

Kadang gejala ini tidak tiba, dan dramatis, dan perlahan, dan berkala – salah satu alasan perempuan lebih lambat dalam mencari pertolongan medis.

Bahkan ketika sudah mencapai rumah sakit perempuan memiliki kemungkinan dua kali lebih besar meninggal karena serangan jantung

Secara umum, perempuan memiliki aktivitas otot yang lebih sedikit di dalam usus mereka, sehingga makanan akan melewati perjalanan lebih panjang di dalam tubuh.

Inilah yang diperkirakan menyebabkan perempuan lebih mudah terkena masalah lambung.

Itu juga menjadi penjelasan mengapa pria kurang merasa lambungnya penuh dengan gas dibandingkan perempuan

Perempuan delapan kali lebih banyak merasa lambungnya penuh dibandingkan pria.

Rata-rata, baik pria dan wanita memproduksi sekitar 25 liter gas di dalam pencernaan mereka.

Perempuan lebih cenderung untuk menyimpan gas itu di dalam usus kecil dan usus besar, dan itu yang menyebabkan cepat merasa perutnya penuh.

Selain itu, juga ada perbedaan antara pria dan wanita mengenai seberapa sering mereka kentut .

Kentut adalah hal normal dan setiap hari kita mengeluarkan sekitar 1,5 liter gas dari dalam tubuh.

Namun karena lebih banyak kontraksi otot dalam pencernaan pria menyebabkan mereka kentut lebih banyak dibandingkan perempuan, dua belas kali lebih sehari, dibandingkan tujuh kali pada perempuan.

Hormon oestrogen pada perempuan juga menyebabkan kemungkinan mereka mengidap batu empedu.

Ada berbagai alasan mengapa pria dan wanita bereaksi berbeda terhadap obat.

Perbedaan terjadi karena besarnya organ, berat badan, kadar lemak, dan pola aliran darah sampai pada jumlah enzim yang memecah obat di dalam ginjal.

Semua ini bisa mempengaruhi bagaimana obat dicerna oleh tubuh, seberapa cepat obat akan bekerja, dan sampai berapa lama.

Sudah diketahui sebagai contoh bagaimana ginjal dalam tubuh perempuan akan bekerja lebih lambat dibandingkan pada pria, sehingga obat tertentu harus diberikan dalam dosis lebih rendah pada wanita.

Komentar