close
Nuga Sehat

Pilihan Ngopi atau Teh Ditentukan Oleh Gen

Setiap orang punya pilihan, suka kopi atau teh. Banyak alasan dalam kesukaan tersebut. Sebuah studi ilmiah membeberkan alasannya.

Selama ini orang mengira rasa teh yang sepat dan kopi yang cenderung pahit jadi penentu pilihan orang. Demikian juga aromanya memegang peranan penting. Rupanya kedua hal itu bukanlah penentunya.

Peneliti percaya kesukaan orang akan teh atau kopi punya alasan ilmiah. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal Nature Scientific menemukan bahwa orang yang secara genetik cenderung menyukai rasa pahit biasanya memilih kopi karena kandungan kafeinnya yang lebih tinggi.

Penelitian baru  itu mengungkap bahwa presepsi kita terhadap rasa pahit dapat mempengaruhi pilihan minuman di pagi hari. Tim peminum kopi atau tim peminum teh, faktor genetik turut menentukan.

Dalam studi baru yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports tersebut, peneliti menganalisis data genetik

Mereka menemukan bahwa orang yang membawa gen reseptor spesifik untuk rasa pahit kafein lebih mungkin untuk minum lebih dari empat cangkir kopi setiap hari dan lebih kecil kemungkinannya untuk minum teh.

Propylthiouracil adalah suatu zat yang dimiliki oleh seseorang dengan gen reseptor rasa pahit, tendangan kafein yang dikonsumsi bisa mencapai sekitar empat cangkir kopi setiap harinya.

Berbeda dengan orang yang sensitive terhadap kafein, mereka sendiri mempunyai alasan sendiri untuk tidak minum kopi.

“Hasil berlawanan dari penelitian menunjukkan konsumen kopi memperoleh rasa atau kemampuan untuk mendeteksi kafein karena penguatan positif yang dipelajari (yaitu stimulasi) yang ditimbulkan oleh kafein,” kata Feinberg, asisten profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern, dikutip dari Health.

Sementara itu, apapun gen yang dipengaruhinya baik itu penyuka kopi atau teh, setidaknya kita akan mendapatkan beberapa manfaat kesehatan.

Meminum kopi yang berlebihan telah dikaitkan dengan beberapa penyakit, seperti risiko penyakit jantung, diabetes, dan Alzheimer dan Parkinson yang lebih rendah, berkat antioksidan dan polifenolnya.

Teh (yang lebih rendah kafein dari pada kopi) juga merupakan sumber antioksidan yang kaya, dan itu juga dianggap melindungi jantung kita.

Tetapi jika mengonsumsi kafein yang berlebihan dapat mengganggu perut dan membuat merasa gelisah, cemas dan sulit untuk tidur.

Tetapi partisipan dalam penelitian yang lebih sensitif secara genetik terhadap rasa pahit cenderung lebih memilih koi dibandingkan teh dan lebih mungkin untuk minum lebih banyak.

“Anda menduga orang yang sangat sensitif terhadap rasa pahit kafein akan minum lebih sedikit kopi,” tutur Marilyn Cornelis, Asisten Profesor Obat Pencegahan di Northwestern Feinberg School of Medicine, sperti dilansir Asia One

” Hasil dari penelitian kami justru sebaliknya. menunjukkan bahwa penikmat kopi memperoleh rasa atau kemampuan untuk mendeteksi kafein karena dorongan positif yang dipelajari dari kafein.”

Jadi orang-orang yang secara genetika dibuat untuk menyukai kopi pahit belajar mengasosiasikan hal-hal baik dengan rasa tersebut.

Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan lebih dari empat ratus ribu pria dan wanita di Inggris ditemukan bahwa orang-orang yang sensitif terhadap rasa kopi yang pahit dan rasa yang berkaitan dengan senyawa sayuran lebih cenderung menjauhkan diri dari kopi dan memilih minuman jenis lain yang lebih manis, seperti teh.

Liang-Dar Hwang dari University of Queensland Diamantina Institute, mengatakan bahwa, persepsi rasa pahit dibentuk tidak hanya dari faktor genetik tapi juga lingkungan.

“Meskipun manusia secara alami tidak menyukai rasa pahit. Namun kita bisa belajar menyukai atau menikmati makanan dengan rasa pahit setelah terpapar dengan faktor lingkungan,” tambahnya.

Hwang mengatakan peminum kopi secara genetik kurang sensitif terhadap rasa pahit daripada peminum teh. Hal inilah yang membuat mereka dapat menerima makanan pahit jenis lain seperti sayuran hijau.