“Perasaan” Gemuk Picu Kegemukan Baru

Penulis: Darmansyah

Jumat, 4 September 2015 | 10:21 WIB

Dibaca: 0 kali

Awas, bila pikiran Anda dijangkiti dengan “perasaan” gemuk. Perasaan itu, seperti ditulis laman situs “shine,” Jumat, 04 September 2015, bisa melipatkan kalikan kemungkinan terjadinya kegemukan pada diri Anda.

Benarkah?

Menurut Peter LePort, direktur medis dari MemorialCare Center for Obesity, kaitan merasa gemuk dan menjadi gemuk akan benanr-benar menjadi riil akibat mekanisme yang ditimbulkan oleh stres.

Orang yang merasa dirinya mulai kegemukan justru akan mengalami kenaikan berat badan lebih banyak dibandingkan dengan orang yang merasa berat badannya masih normal.

Penelitian berupa analisaa data n yang melibatkan empat belas ribu orang dewasa di Amerika Serikat dan Inggris Raya, menemukan bahwa orang yang mengaku mereka “kegemukan” cenderung makan lebih banyak karena stres.

Hasilnya, tentu saja berat badannya bertambah. Hal tersebut tetap terjadi pada mereka yang sebenarnya memang kegemukan atau hanya merasa gemuk.

Sebenarnya bisa dimengerti mengapa jika kita merasa kegemukan efeknya bisa negatif bagi kesehatan. Ini adalah pengaruh dari stigma negatif orang gemuk, yakni kurang olahraga dan makan banyak.

“Setiap orang bereaksi pada stres secara berbeda, tapi bagi sebagian orang makan adalah pelarian stres.
Bahkan jika ia memiliki berat badan normal, bila metode pelarian stresnya adalah makan, tentu ia akan menjadi gemuk,” kesimpulan penelitian.

Konsep bahwa kita mulai kegemukan bisa mendatangkan stres. Akibatnya kita bisa masuk dalam lingkaran setan: stres karena merasa kegemukan, lalu makan banyak untuk mengatasi stres tersebut, dan konsekuensinya menjadi gemuk beneran atau bertambah gemuk.

Walau begitu, sebenarnya kita bisa memutus lingkaran tersebut. Menurut Shenelle Edwards-Hampton, psikolog klinis dari klinik manajemen berat badan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengambil jeda.

“Cobalah berpikir positif tentang tubuh kita dan fokus pada hal yang sudah dilakukan, misalnya mengasup makanan bernutrisi atau rajin berolahraga. Ini akan membantu mengurangi pelarian pada makanan,” katanya.

Ia juga menyarankan untuk mencari pengalih perhatian saat merasa stres, misalnya berjalan kaki, membaca buku, atau melakukan hal lain selain makan.

Mengatasi masalah kegemukan atau kelebihan berat badan tak cukup hanya dengan pendekatan secara medis.
Pola pikir masyarakat mengenai orang bertubuh gemuk dan kurus harus diubah terlebih dahulu.

Sering kali kita dengar, orang yang mengalami penambahan berat badan secara drastis atau perut makin lama makin buncit setelah memiliki pekerjaan, menikah, kemudian punya anak dinilai memiliki uang banyak sehingga hidup makmur dan bahagia.

Sementara itu, orang yang tubuhnya kurus dinilai orang yang hidupnya susah dan banyak pikiran.

Sudut pandang tersebut bisa membuat seseorang nyaman dengan obesitas. Memiliki kelebihan berat badan pun akhirnya dirasa tak menjadi masalah. Padahal, ada masalah besar di balik kelebihan berat badan tersebut.

Masalah obesitas seharusnya dilihat dari sisi kesehatan.

Masyarakat harus menganggap gemuk dan kurus ke dalam perspektif baru yang lebih sehat.

Sama halnya ketika anak yang sangat gemuk dinilai sebagai anak sehat dan diurus dengan baik oleh orangtuanya, sedangkan anak yang lebih kurus adalah anak yang tidak diurus oleh orangtuanya.

Padahal, jika dibiarkan, obesitas pada anak bisa berkembang hingga remaja dan dewasa.

Saat dewasa mereka akan lebih berisiko menderita penyakit jantung, diabetes, dan stroke.

Ketiga penyakit tersebut berkaitan erat dengan obesitas. Bahkan, menurut penelitian, obesitas juga bisa memicu kanker.

Banyaknya lemak di tubuh dapat menyumbat pembuluh darah sehingga menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Timbunan lemak dalam tubuh juga memicu resistensi insulin yang menyebabkan seseorang menjadi diabetes.

Sel lemak menghasilkan substrat yang tidak menguntungkan. Sel lemak membuat metabolisme menjadi tidak normal

Tantangan lain dalam mengatasi obesitas adalah mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih sehat. Seperti diketahui, masyarakat Indonesia biasa kosumsi makanan yang digoreng dan mengandung lemak tinggi.

Kemudian, di kehidupan modern saat ini, kegiatan olahraga di kalangan remaja hingga pekerja kantoran menjadi berkurang.

Komentar