Penyedap Rasa Bisa Bikin Otak ‘Lemot’?

Penulis: Darmansyah

Rabu, 15 November 2017 | 10:02 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda mungkin termasuk salah seorang yang “gemar” menambah penyedap dalam makanan.

Ya, penyedap, atau dikenal dengan nama beken monosodium glutamat atau yang biasa kita kenal dengan sebutan MSG, merupakan salah satu bahan yang sering digunakan sebagai bahan masakan yang dapat membuat makanan tambah sedap dan nikmat.

Namun, banyak yang bilang penyedap rasa ini bisa bikin otak jadi ‘lemot’.

Apa benar begitu

Untuk Anda tahu, monosodium glutamat terdiri dari air, natrium, dan glutamat.

Glutamat sebenarnya juga terkandung dalam susu, keju, daging, ikan, dan pada beberapa sayuran. Nah, kandungan glutamat inilah yang membuat makanan terasa lebih nikmat.

Kandungan asam glutamat yang terdapat pada penyedap rasa akan membuat sel-sel saraf otak lebih aktif dan menciptakan rasa nikmat pada makanan.

Selama ini kebanyakan efek samping yang dilaporkan setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG memang terjadi pada sistem saraf di otak.

Karena itu, MSG secara tidak langsung bisa membuat seseorang jadi ‘lemot’.

Eits, tunggu dulu.

Sebenarnya apa itu ‘lemot’?

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan menurunnya fungsi kognitif otak.

Fungsi kognitif otak antara lain adalah berpikir secara logis, mengambil keputusan, merekam informasi ke dalam ingatan, menyelesaikan masalah, dan menjaga konsentrasi.

Lalu apa hubungannya penyedap rasa dengan kemampuan otak manusia?

Begini, di otak ada banyak saraf yang bertugas sebagai penerima rangsangan.

Saraf-saraf yang bertugas untuk menerima rangsangan disebut reseptor. Letaknya yaitu di bagian otak bernama hipotalamus.

Nah, glutamat dalam penyedap rasa punya banyak reseptor yang ada di hipotalamus. Karena itu, efek kebanyakan glutamat di otak bisa membahayakan.

Reseptor-reseptor dalam otak jadi terstimulasi (terangsang) secara berlebihan akibat kadar glutamat yang tinggi.

Bila terus-terusan terjadi, alhasil aktivitas reseptor yang berlebihan malah bisa sebabkan kematian neuron. Neuron sendiri adalah sel-sel saraf di otak.

Padahal, neuron berperan sangat penting untuk menjalakan fungsi kognitif otak. Kematian neuron berarti fungsi kognitif otak akan menurun alias ‘lemot’.

Selain itu, monosodium glutamat juga memiliki efek buruk lainnya bagi sistem saraf, yang akan menyebabkan timbulnya sakit kepala, insomnia, dan kelelahan.

Ditambah lagi, monosodium glutamat juga dapat menimbulkan gejala-gejala depresi dan kecemasan. Hal-hal tersebut tentu dapat mempengaruhi kinerja seseorang dan dapat berdampak negatif.

Efek penyedap rasa alias MSG pada kemampuan kognitif otak memang tidak terjadi dalam sekejap.

Namun, kalau Anda terbiasa pakai banyak MSG dalam makanan sehari-hari, lama-lama efeknya pun akan menumpuk.

Karena itu, usahakan untuk tidak pakai penyedap rasa dalam makanan.

Bila Anda ingin menambahkan aroma dan rasa yang lebih kuat, lebih baik pakai rempah-rempah alami seperti kunyit, jahe, lada, cengkeh, kayu manis, kemiri, dan ketumbar.

Tapi, tahukah Anda ternyata MSG alami terdapat dalam makanan?

Ya, salah satu buah yang mengandung MSG adalah tomat

Selama ini Anda mungkin menyangka bahwa MSG merupakan buatan manusia. Namun faktanya, MSG terkandung secara alami dalam beberapa makanan.

Sebenarnya, apa itu MSG?

MSG atau monosodium glutamat adalah garam natrium dari asam amino glutamat. Asam glutamat ini ditemukan secara alami dalam tubuh, dalam makanan, dan juga terdapat dalam bahan tambahan makanan.

Salah satu makanan yang mengandung MSG alami adalah tomat.

Tomat mengandung MSG alami atau asam glutamat bebas. Asam glutamat bebas ini ditemukan dalam protein dan juga terlibat dalam fungsi tubuh normal manusia.

Selain itu, asam glutamat bebas yang ditemukan secara alami ini tidak melalui proses apapun sehingga tidak mengandung kontaminan.

Walaupun ditemukan secara alami, tapi bukan berarti pasti aman. Beberapa orang mungkin dapat menunjukkan reaksi alergi atau hipersensitivitas terhadap MSG.

Namun, pada umumnya, penggunaan MSG tidak membahayakan kesehatan. Hal ini telah dikaji oleh banyak lembaga kesehatan di dunia, seperti Amerika Serikat dan Kanada.

Komentar