Penyakit Jantung dan Resiko Pekerjaan

Penulis: Darmansyah

Selasa, 5 Agustus 2014 | 09:13 WIB

Dibaca: 0 kali

Penyakit jantung tidak hanya datang dari gaya hidup seseorang. Tidak hanya jarang berolahraga, sering makan makanan berkalori, dan tidak menjaga berat badan. Tapi juga dipengaruhi oleh pekerjaan.

Lantas apa saja pekerjaan dengan tingkat risiko penyakit yang tertinggi?

Menurut studi terbaru yang dirilis situs “livescience.com,” orang yang memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan perdagangan grosir umumnya menghadapi risiko penyakit jantung yang tertinggi.
Sementara mereka yang bekerja di bidang keuangan dan asuransi memiliki risiko penyakit jantung terendah.

Dalam studi ini, peneliti dari pusat pengendalian dan pencegahan penyakit di AS menganalisis hasil survei kesehatan nasional antara tahun 2008 hingga 2012 untuk menghitung laju penyakit jantung dan stroke pada orang dewasa di bawah usia 55 tahun.

Peneliti juga menganalisis risiko tersebut pada pengangguran dan orang-orang dengan pekerjaan-pekerjaan yang berbeda.

Di antara pengangguran, orang yang bekerja rata-rata memiliki risiko penyakit jantung yang lebih kecil. Peneliti menemukan, risiko penyakit jantung pada orang yang bekerja rendah, sedangkan pada pengangguran yang mencari pekerjaan adalah tinggi.

Kelompok pengangguran yang tidak mencari pekerjaan antara lain ibu rumah tangga, siswa, pensiunan, dan kaum disabel.

Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian yang paling umum, khususnya untuk penyakit jantung koroner atau penyempitan pembuluh darah koroner jantung.

Belum jelas kenapa pekerjaan berkaitan dengan risiko penyakit jantung, namun karakteristik dari pekerjaan biasanya berkaitan dengan tingkat stres yang meningkatkan risiko penyakit jantung.

Penelitian yang sama juga menyimpulkan karyawan yang membenci pekerjaan mereka, dan hanya bisa mengeluh sertan merasa tertekan setiap hari akan menjadi sumber stress..

Cukup banyak juga karyawan yang beranggapan jika kita menikmati pekerjaan, berarti kita kurang keras bekerja. Seolah cara untuk mencapai sukses adalah bekerja dengan jam yang panjang dan menderita di kantor.

Pandangan tersebut bukan saja salah, tetapi juga berbahaya. Membenci pekerjaan ternyata berdampak buruk pada kesehatan.

Bagi mereka yang membenci pekerjaan pasti akan digergoti energy. Bukankah setelah seharian frustasi di tempat kerja maka yang paling Anda inginkan adalah makan es krim dan makanan berlemak lainnya?

Stres di tempat kerja bisa berasal dari jam kerja yang panjang, terlalu sibuk, atau kurang merasa dihargai oleh perusahaan. Kondisi tersebut tentu akan membuat kita stres, cemas, dan frustasi. Berbagai bentuk stres diketahui akan melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko depresi.

Tidur cukup dan berkualitas di malam hari berpengaruh besar pada kesehatan. Orang yang menderita karena pekerjaan mereka biasanya akan sulit tidur pulas atau mengalami insomnia. Hal ini berdampak buruk pada kesehatan karena tidur cukup akan memperbaiki sistem imun sehingga kita tak mudah sakit.

Membenci pekerjaan secara langsung terkait dengan peningkatan risiko penyakit serius. Sebuah studi yang dilakukan terhadap dua puluh ribu perawat di AS menyebutkan, mereka yang tidak bahagia di pekerjaannya beresiko besar menderita kanker, penyakit jantung, dan diabetes melitus.

Dengan semua risiko kesehatan tersebut, seharusnya Anda mengambil tindakan jika memang sudah merasa tidak nyaman dengan pekerjaan sekarang

sumber : livesciense.com dan huffingtonpost.com

Komentar