Pening Kala Berdiri? Awas Demensia

Penulis: Darmansyah

Senin, 17 Oktober 2016 | 10:10 WIB

Dibaca: 0 kali

Apakah Anda termasuk salah seorang yang sering mengalami kepala mendadak pening saat berdiri?

Kalau iya, mungkin, Anda merupakan “pasien” demenisa.

Demensia?

Ya.

Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti dari Erasmus Medical Centre, Belanda, ditemukan bahwa pusing dalam posisi tersebut dapat berimplikasi demensia pada masa tua.

Seperti ditulis laman situs “Daily Mail,”  penelitian yang dipublikasi dalam jurnal PLOS Medicine tersebut dilakukan dengan mengamati enam ribuan orang tanpa demensia selama dua puluh empat tahun.

Para peneliti dari Erasmus Medical Centre, Belanda, mengikuti ribuan orang yang berusia rata-rata berusia enam puluh delapan tahun dua tahun lalu, untuk melacak munculnya demensia.

Mereka kemudian menemukan rendahnya tekanan darah saat berdiri atau hipotensi orthostatik meningkatkan risiko penurunan kondisi tubuh hingga lima belas persen.

Penurunan kondisi yang kerap memicu pusing saat berdiri tersebut menyebabkan hipoperfusi serebral sementara, atau kondisi berkurangnya pasokan darah ke otak.

Berkurangnya pasokan darah ini diyakini oleh peneliti menyumbang pada disfungsi otak saat seseorang sudah memasuki masa lansia.

“Satu penjelasan yang mungkin dari penelitian ini adalah kejadian singkat hipoperfusi yang ditandai dengan penurunan tekanan darah secara tiba-tiba, yang dapat memicu hipoksia, atau kekurangan oksigen.”

“ Dampaknya sangatlah merugikan jaringan otak,” kata Arfan Ikram, salah satu penulis studi tersebut.

Peneliti menggolongkan mereka yang memiliki penurunan tekanan darah lebih dari dua puluh mmHg pada tekanan darah sistolik atau sepuluh mmHg pada diastolik selama tiga menit saat berdiri dari posisi duduk, memiliki hipotensi orthostatik.

Hipotensi orthostatik ini terjadi hampir pada satu dari lima orang dan bertanggung jawab akan peningkatan risiko terjadi demensia hampir lima belas persen. Sekitar satu dari lima partisipan juga diketahui mengidap bentuk demensia selama lima belas tahun.

Perbedaan tekanan darah sistolik saat berdiri dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia sebesar delapan persen.

“Penelitian ini menyorot peran penting dari pasokan darah, bukan hanya berkontribusi pada demensia vaskular, namun berpotensi berperan penting dalam bentuk demensia lainnya juga,” kata Laura Phipps, peneliti dari Alzheimer Research, Inggris.

“Sementara banyak penelitian berfokus pada risiko tekanan darah tinggi, penelitian ini menunjukkan tekanan darah rendah sementara juga dapat berdampak panjang pada otak,” kata Phipps.

Phipps menambahkan, meski risiko yang ditemukan penelitian ini tergolong kecil dibanding semua faktor risiko demensia, namun temuan ini menambah gambaran yang lebih kompleks perubahan tekanan darah dan dampaknya pada tubuh.

Studi itu juga mengungkapkan, salah satu tanda seorang lansia mengidap demensia adalah menurunnya kemampuan orientasi atau mengenal arah.

Hal ini terjadi karena pelemahan pada sel saraf di otak yang menyebabkan penurunan kemampuan kognitif seperti berpikir.

Kondisi ini pula yang menyebabkan orang dengan demensia menjadi sulit membedakan siang dan malam.

Mereka juga cenderung aktif bergerak pada malam hari dan tidak mengenal rumah atau jalan yang dilewati sehingga mudah tersesat.

Namun menghadapi ODD yang tersesat pun tak semudah menunjukkan jalan kepada orang yang mencari jalan. Kondisi demensia yang diidap rentan menyulut emosi penderita.

Beberapa cara khusus perlu dipahami oleh masyarakat saat menemui lansia ODD yang tersasar. Cara ini berfungsi bukan hanya untuk kebaikan ODD, namun juga agar yang menemukan tidak kepalang emosi dan membuat situasi makin buruk bagi ODD.

ODD akan merasa lebih baik ketika ia berada dalam situasi yang nyaman. Maka dari itu, bawa dia ke tempat yang lebih tenang dan tidak berisik. Kondisi ribut membuat pikiran ODD menjadi ‘penuh’ dan kacau.

Setelah dibawa ke tempat yang lebih tenang, berikan ODD tempat duduk. Kemudian kalau dirasa perlu, tawarkan ODD makan atau minum.

Lansia yang mengidap demensia akan mudah tersulut emosi. Maka, berlaku sopan akan meningkatkan rasa percaya dan kenyamanan bagi mereka. Beberapa hal dapat dilakukan untuk bisa dianggap sopan.

Pertama, kenalkan diri terlebih dahulu. Kemudian gunakan panggilan netral seperti ibu atau bapak kepada ODD.

Lalu tanyakan nama mereka dan bagaimana mereka ingin dipanggil. Ini untuk mencegah menyapa ODD dengan sebutan yang membuat ia tersinggung.

Kemudian, pastikan mata Anda dan ODD sejajar ketika saling berkomunikasi. Andai ODD duduk, maka Anda sebaiknya ikut duduk atau berjongkok agar pandangan saling sejajar.

Memberikan perhatian bukan hanya dalam bentuk pertanyaan akan kondisi ODD, namun juga memberikan kesempatan mereka menceritakan kejadian yang mereka alami hingga tersasar.

Dan ketika ODD tengah bercerita, jangan pernah membantah mereka.

Karena dikhawatirkan akan membuat ODD tersinggung sehingga mengubah emosi mereka.

Sabar dan bersikap sederhana menjadi strategi ampuh menghadapi ODD. Dalam aspek ini pun, beberapa teknik perlu diperhatikan saat berhadapan dengan ODD.

Pertama-tama, sediakan waktu saat berbicara dengan ODD. Jangan berbicara kepada ODD dengan terburu-buru atau dalam kondisi sibuk. Selain karena daya menangkap informasi mereka sudah melemah, ini bisa membuat ODD enggan berkomunikasi dengan orang lain.

Bila menemukan ODD tersesat bersama rekan-rekan, maka upayakan berbicara bergantian. Akan lebih baik bila hanya satu orang yang menjadi juru bicara kepada ODD guna memudahkan dia mendapatkan informasi.

Karena kemampuan menerima informasi yang sudah melambat, maka upayakan bicara dengan jelas dan lebih lambat dibandingkan berbicara kepada orang awam. Gunakan nada bicara yang lebih tenang agar tidak memancing emosi ODD.

Bukan hanya bicara lebih lambat, sebaiknya menggunakan kalimat tanya yang lebih sederhana guna mempermudah ODD mencerna informasi.

Ketika sudah mengupayakan berbicara dengan ODD namun ia tetap tak bergeming, maka jangan memaksanya berbicara.

Jangan panik ketika ODD tidak merespon upaya Anda untuk berkomunikasi.

Membantah saja sangat tidak dianjurkan ketika berkomunikasi dengan ODD, apalagi bertengkar.

Namun ketika nada ODD meninggi, coba alihkan topik pembicaraan sebelum Anda dan ODD bertengkar serta situasi menjadi makin buruk.

Komentar