Para Obesitas Punya Penglihatan “Super”

Penulis: Darmansyah

Kamis, 18 Februari 2016 | 14:57 WIB

Dibaca: 0 kali

Jangan lecehkan mereka yang memiliki tubuh overweight. Atau gemuk.

Seperti ditulis oleh “foxnews,” Kamis, 18 Fevrauari 2016, dari hasil penelitian yang dilakukan di Universitas Fort Collins Colorado, Amerika Serikat membuktikan bahwa sebenarnya orang obesitas ternyata melihat jarak sepuluh persen lebih jauh dibanding orang yang punya berat normal atau kurus.

Nah, untuk itu Anda jangan melihat mereka yang obesitas sebagai masalah kesehatan.

Selama ini terkesan muncul anggapan bahwa tak ada nilai lebih dari kegemukan.

Yang jadi masalah, seperti yang dimuat dalam jurnal Acta Psychologica, orang obesitas cenderung hidup dalam realitas yang berbeda dan diciptakannya sendiri.

“Orang obesitas akan melihat dunia tidak seperti seharusnya. Anda akan melihat dunia melalui kemampuan Anda untuk bertindak,” kata peneliti sekaligus psikoloh, Jessica Witt, dikutip dari Telegraph.

“Jika Anda berjalan membawa tas yang berat, bukit-bukit akan terlihat lebih curam, jarak akan terlihat lebih jauh, jalan di sungai akan terlihat lebih panjang,” ujar Witt, dikutip Fox News.

Penelitian yang dilakukan di Universitas Fort Collins Colorado, Amerika Serikat membuktikan sebaliknya.

Studi ini dilakukan di pusat perbelanjaan Walmart terhadap enam puluh enam orang obesitas.

Hasilnya?

Mereka menemukan orang dengan berat badan “super” melihat jarak dua puluh dua meter seperti jarak sejauh dua puluh tujuh atau dua puluh delapan meter.

Hanya saja, penelitian masih bias di sisi lain.

Pasalnya orang yang memiliki berat badan sekitar lima puluh delapan kilogram ternyata melihat jarak dua puluh dua meter seperti jarak tiga belas meter.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa orang obesitas jauh lebih baik bekerja ketika ‘target’ pekerjaan mereka berukuran lebih besar.

“Kami berpikir bahwa persepsi yang bias ini dapat menumbuhkan ‘lingkaran setan’ untuk para pengidap obesitas, di mana mereka merasa mustahil untuk mengatur dunia dan aktivitas mereka,” kata Witt.

“Dengan ini orang obesitas diharapkan bisa lebih aktif bergerak dan menghilangkan kebiasaan hidup tak sehat.”

Belum lama ini pula sebuah penelitian terbaru dari University of California, Los Angeles tak ada korelasi kelebihan berat badan dengan tanda-tanda kesehatan

Dari data itu mereka mengamati tekanan darah, kadar trigliserida, kolesterol, glukosa, resistensi insulin dan data protein C-reaktif yang bisa menjadi penanda penyakit jantung dan peradangan.

Hasilnya, mereka menemukan orang yang kelebihan berat badan ternyata cukup sehat.

Di sisi lain, individu dengan bobot yang mempunyai angka IMT normal malah memiliki metabolisme yang tidak sehat.

“Saya pikir, alasan orang masih mengandalkan IMT adalah karena mudah. Jika Anda tahu berat badan seseorang dan Anda tahu tinggi seseorang, kemudian akan muncul nilai ajaib ini, “kata ketua peneliti A.
Janet Tomiyama, yang juga merupakan psikolog di UCLA, seperti dikutip dari Los Angeles Times.

Tomiyama dan timnya menilai fokus pada penanda kesehatan yang lebih baik seperti tekanan darah menjadi cara yang baik untuk mengukur kesehatan.

Mengukur Indeks Massa Tubuh bisa dilakukan dengan cara membagi berat tubuh dalam ukuran kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter.

Seiring berjalannya waktu, para peneliti menduga bahwa yang memiliki nilai sehat dilihat dari IMT-nya ternyata sangat tidak sehat.

Sebaliknya, orang yang memiliki nilai IMT lebih tinggi malah mempunyai bentuk tubuh yang sangat baik.

“Kami pikir IMT hanya indikator yang benar-benar kasar dan mengerikan tentang kesehatan seseorang.”
“Masyarakat terbiasa mendengar ‘obesitas,’ dan mereka keliru melihatnya sebagai hukuman mati. Padahal obesitas hanyalah ukuran berdasarkan IMT,” ujar Tomiyama

“Para pembuat kebijakan harus mempertimbangkan konsekuensi yang tidak diinginkan dari hanya mengandalkan IMT dan peneliti harus berusaha untuk menciptakan alat diagnostik yang berhubungan dengan berat badan dan kesehatan kardiometabolik,” tulis para peneliti dalam penelitian yang diterbitkan pada International Journal of Obesity.

Komentar