Otot Wanita Dua Kali Lebih Kuat dari Pria

Penulis: Darmansyah

Jumat, 8 Desember 2017 | 08:54 WIB

Dibaca: 0 kali

Sebuah penelitian terbaru membuat kejutan lagi dengan mengungkapkan  wanita lebih baik kuat  saat berolahraga dibandingkan pria.

Seperti ditulis majalah terkenal “nesweek,” dalam edisi terbarunya,  yang mengutip hasil penelitian dari University of Waterloo di Ontario, Kanada, menyebutkan bahwa wanita lebih atletis dibandingkan pria.

Seperti diketahui, sejumlah penelitian membuktikan kalau laki-laki memang memiliki massa otot yang lebih besar daripada perempuan.

Akan tetapi, massa otot besar tidak menjamin otot Anda punya ketahanan yang kuat.

Sebuah penelitian yang dilaksanakan oleh tim ahli dari University of Colorado menunjukkan bahwa wanita ternyata memiliki ketahanan hingga dua kali lipat lebih besar daripada pria.

Penelitian lain dalam The Indian Journal of Medical Research juga mengungkapkan hal yang serupa, bahwa wanita ototnya lebih mampu menahan tekanan dibanding pria.

Dalam berbagai studi tersebut, para pakar kesehatan dan olahraga menemukan bahwa ketika berolahraga, otot yang kuat dan besar justru memiliki ketahanan yang lebih rendah.

Pria yang ototnya besar dan kuat biasanya tak sanggup menahan beban berat dalam waktu yang lama. Padahal pria mampu menahan beban yang sangat berat.

Sedangkan wanita yang tergabung dalam penelitian yang telah disebutkan tadi pada umumnya tak mampu menahan beban yang terlalu berat.

Akan tetapi, para wanita tersebut sangup menahan beban dalam waktu yang sangat lama.

Semua penelitian tersebut mengungkap bahwa wanita muda mampu mengolah oksigen lebih cepat daripada pria muda. Otot mereka juga tampak menyerap oksigen dari darah lebih cepat.

Hal tersebut membantu meringankan ketegangan pada sel tubuh, salah satu kriteria kebugaran aerobik.

Untuk penelitian kali ini, para peneliti merekrut sembilan pria muda dan sembilan wanita muda. Semuanya kira-kira berusia pertengahan dua puluhan dan memiliki bobot yang sama.

Mereka kemudian diminta melakukan olahraga yang sama, yaitu berjalan di atas treadmill. Selama olahraga berlangsung, para peneliti membandingkan konsumsi oksigen dan ekstraksi kedua jenis kelamin selama olahraga berlangsung.

Ternyata, wanita secara konsisten lebih efisien daripada pria karena dapat mengolah oksigen 30 persen lebih cepat.

“Temuan ini bertentangan dengan anggapan populer bahwa tubuh pria secara alami lebih atletis,” kata Thomas Beltrame, salah satu penulis dalam penelitian ini

Sebelumnya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa salah satu manfaat terbesar dari olehraga adalah meningkatkan kemampuan kita untuk menggunakan oksigen.

Saat berolahraga, paru-paru kita akan menarik oksigen untuk memberi energi pada tubuh, serta menghilangkan karbondioksida yang merupakan limbah saat proses berlangsung.

Oksigen juga dipasok ke otot kita melalui jantung dan darah.

“Kami menemukan bahwa otot wanita mengekstrak oksigen dari darah lebih cepat, yang secara alamiah menunjukkan sistem aerobik superior,” imbuh Richard Hughson, co-author penelitian ini sekaligus ilmuwan kesehatan.

Pada catatan persnya, temuan ini menyebut bahwa pengolahan oksigen yang lebih cepat menurunkan kelelahan otot dan usaha yang dirasakan. Hal ini juga dapat meningkatkan kemampuan atletik seseorang.

Sayangnya, penelitian ini tidak mengungkapkan bagaimana dan mengapa wanita lebih unggul dalam hal ini.

Akan tetapi, para peneliti percaya bahwa temuan ini bisa menjadi titik awal penelitian lanjutan dan program pelatihan yang lebih personal bagi para atlet.

“Meski kita tidak tahu mengapa wanita memiliki penyerapan oksigen lebih cepat, penelitian ini menyingkirkan anggapan konvensional. Itu dapat mengubah cara kita mendekati penilaian dan latihan atletik di jalan,” kata Beltrame.

Ini bukan pertama kalinya sains membuktikan bahwa wanita memiliki kemampuan kebugaran yang lebih tinggi dari pria.

Pada tahun lalu, sebuah penelitian mengungkap bahwa wanita dapat berolahraga untuk jangka waktu yang lebih lama dibanding pria.

Penulis sekaligus ilmuwan keolahragaan, Sandra Hunter, juga berkata bahwa meski pria memiliki keuntungan dalam membangun otot, wanita lebih unggul dalam hal performa yang lebih tinggi.

Hunter juga menyarankan agar penelitian ini dapat menghasilkan program pelatihan berdasarkan gender.

“Intinya latihan adalah Anda harus mengalami kelelahan otot untuk meningkatkan kekuatannya. Jadi, jika pria dan wanita memiliki tingkat kelelahan berbeda, maka mereka harus diperlakukan berbeda,” kata Hunter.

Faktor yang memengauhi ketahanan otot wanita karena  memiliki kadar hormon estrogen yang lebih tinggi daripada pria.

Estrogen berperan penting dalam menjaga otot-otot tubuh. Dengan begitu, otot jadi lebih tahan terhadap tekanan dan kontraksi dalam waktu lebih lama.

Sedangkan pria memiliki kadar hormon testosteron lebih tinggi daripada wanita. Hormon inilah yang bertanggung jawab untuk membangun massa dan kekuatan otot pada pria dan wanita.

Namun, karena hormon testosteron yang tinggi, pria jadi cenderung berolahraga dengan latihan yang lebih keras dan beban yang lebih berat. Karena itu, otot-otot pria jadi mudah lelah dan tidak bisa menahan kontraksi terlalu lama.

Baik wanita maupun pria sama-sama kerap menjalani latihan ketahanan fisik.

Namun, laki-laki umumnya memilih olahraga dengan intensitas yang berat tapi waktunya lebih singkat. Ini karena banyak laki-laki ingin membentuk otot dengan cepat.

Sementara itu, kebanyakan wanita mungkin berolahraga dengan tujuan menurunkan berat badan.

Maka, mereka cenderung memilih olahraga dengan intensitas sedang namun waktunya lebih lama.

Karena perbedaan jenis latihan ini, wanita pun jadi lebih terbiasa menahan kontraksi otot tubuh lebih lama dari pria.

Sebuah penelitian oleh tim yang dipimpin pakar ilmu olahraga Sandra K. Hunter dalam Journal of Applied Physiology mengungkapkan bahwa wanita memiliki aliran darah yang lebih deras menuju otot dibanding pria.

Hal ini membuat otot-otot wanita jadi lebih tahan tekanan dan kontraksi. Namun, para ahli menyatakan bahwa penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk mendukung hasil temuan ini.

Komentar