Olahraga Kaki Membuat Otak Lebih Sehat

Penulis: Darmansyah

Rabu, 30 Mei 2018 | 10:25 WIB

Dibaca: 0 kali

Rutin berolahraga atau melakukan aktivitas fisik membuat seluruh bagian tubuh menjadi sehat, tak terkecuali otak.

Sayangnya, hubungan olahraga dengan kesehatan otak masih belum diketahui alasannya. Sebuah penelitian terbaru mencoba mencari jawaban terhadap pertanyaan tersebut.

Hanya saja, penelitian ini lebih banyak menyoroti tentang apa yang terjadi pada otak ketika gerakan kaki dibatasi.

Sudah jadi rahasia umum, ketika orang tidak bisa atau jarang menggerakkan kaki maka mereka akan kehilangan otot dan massa tulang

Sebuah penelitian terbaru  menunjukkan bahwa jalan kaki selain menyehat otak bisa membuat mood lebih baik.

Jalan kaki adalah olahraga yang paling murah.

Tanpa harus membeli alat-alat berat yang mahal agar bisa berkeringat, jalan kaki dengan jarak tertentu sudah membantu tubuh dalam kelancaran proses metabolisme.

Nah sekarang coba bangun dari kursi Anda, pergilah keluar ruangan sebentar.

Lalu habiskan waktu di luar luangan dengan menikmati pancaran sinar matahari, semilir angin, bertemu dengan banyak orang dan hal lainnya yang membuat Anda lebih bersemangat.

Terlebih jika hal tersebut dilakukan bersama dengan pasangan atau sahabat pasti Anda pun akan lebih bahagia.

Menurut Jeff Miller, Ph.D seorang psikolog dari Saint Xavier University, berjalan kaki memberikan dampak yang positif seperti sebuah energi.

Berjalan kaki mampu mengendalikan perasaan menjadi berbunga-bunga, rasa antusias yang tinggi, sukacita, kegembiraan, dan kepekaan.

Pasalnya berjalan kaki mampu meningkatkan hormon endorfin dalam otak yang membuat diri kita merasa lebih baik.

Berjalan kaki ternyata juga dapat membantu dalam memerangi depresi.

Penelitian lainnya telah menunjukkan berjalan kaki secara rutin selama tiga kali perminggu mampu membakar tiga ratus lima puluh kalori dan terbukti bisa mengurangi gejala depresi hampir seefektif obat antidepresan.

Olahraga jalan kaki juga dapat dikombinasikan dengan terapi obat-obatan untuk mengontrol dan mengobati depresi berat.

Dalam sebuah penelitian selanjutnya, para peneliti yang sama menemukan bahwa berjalan di ruang hijau membuat orang cenderung untuk merenung atas aspek-aspek negatif dari hidup mereka.

Sejumlah penelitian telah melaporkan bahwa kesadaran diri dapat mengurangi stres, jadi cobalah mengubah kebiasaan Anda untuk berjalan sebagai bentuk mediasi agar mencairkan rasa kecemasan. Proses meditasi kecil-kecilan ini dapat membantu menghalau stres dari otak Anda.

Berjalan kakilah dengan gaya berjalan yang menyenangkan patut dicoba.  Gaya berjalan ini dilakukan dengan cara mengayunkan lengan ke depan dan ke belakang atau memutar bahu ke atas dan ke bawah.

Orang-orang yang berjalan atau naik sepeda ke kantor memiliki suasana hati yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang naik mobil ataupun menggunakan sarana transportasi umum.

Hal ini berdasarkan penelitian di Inggris yang menanyakan kepada para partisipan yang memiliki kebahagian dan kesenangan dalam hidup

Hanya saja, penelitian ini lebih banyak menyoroti tentang apa yang terjadi pada otak ketika gerakan kaki dibatasi.

Sudah jadi rahasia umum, ketika orang tidak bisa atau jarang menggerakkan kaki maka mereka akan kehilangan otot dan massa tulang.

Namun, para ilmuwan mempertanyakan apakah ada efek yang lebih besar dai berjalan atau aktivitas kaki.

Hipotesis mereka mengarah bahwa pada berjalan juga mempengaruhi otak dan sistem saraf.

Untuk menguji hipotesis tersebut, para peneliti membatasi pergerakan kaki pada sekelompok tikus selama dua puluh delapan hari.

Dalam percobaan ini, kaki depan tikus bebas bergerak tapi tidak pada kaki belakangnya. Sebagai kelompok kontrol, beberapa tikus dibiarkan bebas bergerak seperti biasa.

Selanjutnya, otak kedua kelompok tikus ini diperiksa di akhir penelitian. Salah satu bagian yang menjadi sorotan adalah zona subventrikular, yaitu pusat aktivitas sistem saraf pusat pada vertebrata

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Neuroscience ini menunjukkan, pada kelompok tikus yang dibatasi gerak kakinya terjadi pengurangan jumlah sel- sel induk saraf di otak mereka sebesar tujuh puluh persen.

Padahal, sel-sel induk saraf sangat penting karena menjadi dasar untuk pengembangan sel baru melalui proses yang dikenal sebagai “neurogenesis”.

Tanpa sel ini, pertumbuhan neuron baru yang menggantikan neuron mati tidak akan terjadi. Akibatnya, kesehatan otak menurun.

Tak hanya itu, kelompok tikus yang dibatasi gerak kakinya juga menunjukkan sel glial yang memburuk. Sel glial adalah sel yang berfungsi untuk melindungi dan mengisolasi neuron.

“Kesehatan neurologis bukan jalan satu arah dengan otak memberi perintah pada otot seperti ‘berjalan’,” ungkap Raffaella Adami, penulis utama penelitian ini dikutip dari Forbes

“Ini bukan sebuah kebetulan bahwa kita harus aktif: berjalan, berlari, berjongkok untuk duduk, dan menggunakan otot-otot kaki kita untuk mengangkat benda,” sambung peneliti dari Università degli Studi di Milano, Italia tersebut.

Sayangnya, karena penelitian ini menggunakan tikus, tidak segera bisa disimpulkan hal ini pada manusia.

Bahkan, sejauh mana neuron baru berkembang di otak manusia dewasa masih menjadi perdebatan. Meski begitu, banyak ilmu biologi yang mendasari bahwa hal ini berlaku untuk tikus dan manusia.

“Penelitian kami mendukung gagasan bahwa orang yang tidak bisa melakukan latihan berat – seperti pasien yang terbaring di tempat tidur atau astronot dalam perjalanan panjang – tidak hanya kehilangan masa otot,” ujar Adami.

“Tetapi kimia tubuh mereka berubah pada tingkat sel dan bahkan berdampak buruk pada sistem saraf mereka,” sambungnya.

Komentar