Olahraga Ekstrem Bisa Menghilang Stress?

Penulis: Darmansyah

Jumat, 9 November 2018 | 08:54 WIB

Dibaca: 1 kali

Hasil riset University of Maryland Endocrinology Health Guide menyatakan, berolahraga ekstrem dapat mengurangi stres para pelakunya. Itu terjadi lantaran saat melakukan aktivitas tersebut rangsangan terhadap kelenjar adrenal melepaskan sejumlah hormon, termasuk adrenalin.

Dampaknya denyut dan kekuatan kontraksi jantung meningkat, aliran darah ke otot dan otak juga semakin cepat, otot jadi rileks dan membantu konversi glikogen menjadi glukosa di hati.

Mendapatkan sensasi seperti itu, pelaku olahraga ekstrem pun jadi lebih semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari, stres juga hilang.

Masih dari riset yang sama mengatakan, dorongan adrenalin tersebut bagi penyuka olahraga ekstrem, adalah perasaan memabukkan yang tidak didapat pada aktivitas lainnya.

Tak cuma berhasil mengusir stres, menekuni olahraga ekstrem juga bisa menjanjikan secara finansial.

Contohnya adalah pebalap sepeda downhill Indonesia Khoiful Mukhib, yang meraih medali emas di Asian Games.

Karena pencapaiannya itu pemerintah memberikan Mukhib bonus senilai satu setengah miliar rupiah, sebuah rumah, serta menjadi pegawai negeri

Selain Mukhib, Indonesia meraih pula satu  emas dan satu perunggu dari nomor sepeda downhill puteri di cabang olahraga ekstrem ini.

Sama dengan Mukhib, mereka juga mendapat bonus dari pemerintah.

Torehan prestasi dan guyuran bonus yang ketiga pebalap sepeda downhill Indonesia terima di Asian Games membuktikan bahwa menekuni olahraga ekstrem benar-benar sudah menjadi profesi menjanjikan.

Di Indonesia jalan untuk bisa seperti ketiga pebalap itu malah terbuka lebar.

Pasalnya, ada banyak komunitas balap ekstrem yang bisa menjadi wadah untuk menekuninya.

Salah satunya adalah tujuh puluh  Rider. Komunitas tersebut adalah kumpulan rider-rider terbaik di Indonesia yang bukan hanya bernyali, melainkan juga punya prestasi di bidang masing-masing.

Hebatnya lagi komunitas ini mempunyai kejuaraan olahraga ekstrem reguler yang diadakan setiap tahun.

Di antaranya adalah kejuaraan balap sepeda downhill yang terdiri dari 76 Indonesian Downhill

Kemudian, kejuaraan balap berbasis motor trail atau motocross yang terdiri dari dua kategori balap, yakni Trail Game Dirt  dan Trail Game Asphalt

Letak perbedaan dua kategori ini ada pada penggunan trek. TGD dengan trek balap tanah, sementara TGA menggunakan kombinasi trek tanah serta aspal.

Animo peserta tinggi Meski keempat kejuaraan tersebut punya risiko yang tinggi bukan berarti minim peserta yang daftar. Justru sebaliknya, banyak peserta yang belum punya pengalaman balapan resmi malah ikut mendaftar.

Rata-rata dari mereka kebanyakan berasal dari komunitas balap yang ada di daerahnya masing-masing. Lalu berapa nominal peserta yang ikut balapan?

Peserta TGA bisa mencapai lima ratus hingga seratus pebalap. Dari situ jumlah peserta yang mengikuti kelas profesional sebanyak dua puoluh pebalap, sementara untuk kelas komunitas lokal jumlahnya lebih dari itu.

Ketiga pebalap supermoto sedang memasuki tikungan pada balapan Trail Game Asphalt di Sirkuit Mijen Semarang, April lalu

Ketiga pebalap supermoto sedang memasuki tikungan pada balapan Trail Game Asphalt di Sirkuit Mijen Semarang,

Nah, bagaimana, tertarik menggeluti olahraga ekstrem sebagai profesi seperti Khoiful Mukhib yang menjadi pebalap sepeda downhill atau malah ingin terjun jadi pebalap motocross?

 

Komentar