Olahraga Bisa Jadi “Obat” Awet Muda

Penulis: Darmansyah

Selasa, 5 April 2016 | 10:42 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs media raksasa Inggris, “daily mail,” Selasa, 05 April 2016, memastikan bahwa obat untuk awet muda ada di kegiatan olahraga.

Sudah lama umat manusia mencari kunci untuk awet muda.

Selain ada serum untuk mencegah penuaan kulit dan diet untuk langsing, rahasia awet muda ada di hadapan kita setiap hari : olahraga.

Ilmuwan mengatakan kebugaran yang hebat ternyata menjaga seseorang tetap muda.

Para ahli dari University of Guelph, Kanada menemukan lansia yang di masa mudanya atlet elit ternyata punya otot yang lebih muda.

Lansia-lansia yang menjadi subyek penelitian itu masih berkompetisi sebagai atlet master di usia tua.

Ternyata mereka punya otot-otot lebih sehat di tingkat selular dibandingkan yang bukan atlet.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Applied Physiology itu membandingkan atlet lapangan kelas dunia berusia 80-an dengan mereka yang berusia sama yang hidup mandiri.

Pemimpin penelitian Dr Geoff Power mengatakan,”Satu aspek paling unik dan baru dari studi ini adalah peserta yang luar biasa.”

“Mereka berusia delapan puluh hingga sembilan puluhan tahun dan masih berkompetisi aktif di kelas master. Kami memiliki tujuh juara dunia. Mereka ini adalah crème de la crème dunia penuaan.”

Kaki para atlet lansia itu ditemukan dua puluh lima persen lebih kuat dibandingkan rata-rata lansia bukan atlet. Di samping itu, atlet lansia juga memiliki empat belas persen lebih banyak massa otot.

Mereka juga memiliki hampir lebih dari sepertiga unit motor pada otot kaki dibandingkan bukan atlet.

Lebih banyak unit motor yang terdiri dari serat otot dan saraf berarti lebih banyak massa otot dan lebih kuat.
Proses penuaan alami membuat sistem saraf kehilangan neuron motor yang menyebabkan saraf kehilangan unit motor, berkurangnya massa otot dan berkurangnya kekuatan, kecepatan dan tenaga.

Proses penuaan itu mengalami percepatan lumayan besar setelah usia enam puluh tahun.

Dr Power mengatakan,”Oleh karena itu, mengidentifikasi kesempatan untuk intervensi dan menunda kehilangan unit motor di usia tua itu sangat penting.”

“Tetap aktif bahkan saat lansia dapat mengurangi kehilangan otot,” katanya. “Tetapi kami tidak dapat mengesampingkan faktor keturunan,” imbuhnya.

Ia mengatakan masih dibutuhkan riset tambahan untuk menentukan apakah kesehatan otot pada alet elit didapatkan dari latihan atau dari gen.

Rutin berolahraga, yang dimulai sejak muda, bukan hanya membuat kita secara fisik bugar dan sehat, tetapi juga bagi organ otak.

Berdasarkan penelitian, rutin berolahraga pada usia sekitar empat puluhan dan lima puluhan dapat membantu mencegah penyusutan otak.

Mereka yang jarang berolahraga kemungkinannya akan mengalami penyusutan otak.

Penelitian tersebut yang telah terdata di Framingham Heart Study dengan usia rata-rata empat puluhan tahun.

Penelitian dilakukan pada pria maupun wanita yang tidak demensia dan tidak memiliki riwayat sakit jantung.

Responden diminta rutin melakukan olahraga seperti treadmill, kemudian puluhan tahun berikutnya menjalani scan MRI pada otak.

Penulis studi Dr Nicole Spartano dari Boston University School of Medicine di Amerika Serikat mengungkapkan, hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang kurang olahraga di usia muda mengalami penyusutan otak atau ukuran otak yang mengecil.

“Ada korelasi langsung antara kurangnya kebugaran dengan volume otak puluhan tahun kemudian. Penelitian menunjukkan percepatan penuaan otak,” kata Nicole.

Kelompok yang tidak bugar juga memiliki tekanan darah tinggi dan denyut jantung yang cepat. Mereka juga berisiko memiliki volume otak yang lebih kecil 20 tahun kemudian.

Penyusutan otak juga dikaitkan dengan terjadinya penyakit demensia, seperti alzheimer pada usia lanjut.

Menurut Nicole, olahraga dapat meningkatkan harapan hidup dan juga kualitas hidup lebih baik. Olahraga sebaiknya sudah rutin dilakukan sejak muda hingga usia tua

“Orang tua dengan banyak aktivitas cenderung memiliki lebih banyak daerah abu-abu, komponen utama dari sistem saraf pusat di otak mereka ketimbang rekan-rekan yang kurang aktif.

Rutin bergerak di sekitar rumah, berjalan santai, atau berlari, ibarat “mengawetkan” struktur otak, bahkan untuk individu dengan gejala ringan dan berat penurunan mental,” kata penulis studi James T. Becker, profesor psikiatri di University of Pittsburgh School of Medicine.

Setelah memerhitungkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi volume otak, termasuk ukuran kepala, usia, jenis kelamin, daerah putih di otak, kerusakan kognitif ringan dan status Alzheimer

Para peneliti menemukan bahwa pembakaran kalori yang lebih tinggi dikaitkan dengan volume daerah abu-abu yang lebih besar di otak responden, menurut hasil Journal of Alzheimer.

Dengan kata lain, aktif di hari tua membuat seseorang tidak gampang pikun, tetap bisa berpikir tajam, dan rasional.

“Pengeluaran energi dikaitkan dengan pelepasan substansi yang dikenal sebagai faktor neurotropik otak atau brain-derived neurotrophic factor, yang mempromosikan pertumbuhan dan diferensiasi neuron baru di otak,” kata Becker.

Volume daerah abu-abu di otak biasanya menyusut seiring dengan usia.

“Data kami menunjukkan, tidak peduli apa aktivitasnya, selama kita membakar banyak kalori, maka itu akan berpengaruh,” lanjut Becker.

“Namun, lebih aktif dalam lingkungan sosial mungkin lebih efektif ketimbang hanya berjalan di treadmill saja.”

Leandro Fornias Machado de Rezende dari departemen kedokteran di University of Sao Paulo School of Medicine di Brazil, yang bukan bagian penelitian menanggapi, “walau begitu

Aktivitas fisik adalah multidimensi, tidak hanya pengeluaran kalori saja yang perlu diperhatikan, tetapi juga aktivitas sosial, mental, dan kegiatan emosional yang terlibat.

”Dalam hal ini, pencegahan penyakit Alzheimer melalui aktivitas fisik harus dipahami dalam pandangan yang lebih luas,” lanjut Rezende Reuters Health melalui email.

Komentar