Nyeri Dada? Tak Harus Identik Sakit Jantung

Penulis: Darmansyah

Kamis, 12 Juli 2018 | 13:36 WIB

Dibaca: 3 kali

Nyeri dada?

Pertanda sakit jantung?

Jawabnya tidak selamanya. Ya, nyeri dada tidak selamnya harus diidentikkan dengan sakit jantung.

Memang, penyakit jantung seringkali ditandai dengan nyeri di bagian dada.

Namun, tak semua nyeri dada itu termasuk dalam gejala penyakit jantung.

Nyeri dada biasa dan nyeri dada karena penyakit jantung akibat adanya penyumbatan memiliki karakteristik yang berbeda.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Johan Winata menjelaskan nyeri dada bukan karena sakit jantung saja dapat disebabkan oleh semua bagian yang terdapat di area dada.

Mulai dari lapisan paling atas seperti kulit, lemak, otot, tulang, paru-paru, jantung dan sistem pencernaan.

“Bagian dada dari luar ke dalam itu semuanya bisa menyebabkan nyeri,” kata Johan dalam sebuah diskusi bersama

Namun, Johan menyebut pada penyakit jantung akibat penyumbatan pembuluh darah atau dikenal dengan jantung koroner gejala nyeri yang timbul memiliki perbedaan.

Nyeri itu muncul akibat suplai darah tidak cukup dari atau menuju jantung. Biasanya hal ini dipicu setelah jantung bekerja lebih keras seperti setelah berolahraga.

Johan mengatakan sebanyak tujuh persen pasien merasakan nyeri akibat penyumbatan pembuluh darah itu timbul dari belakang tulang dada yang terletak sedikit lebih ke kiri.

Rasa sakit itu dapat menjalar hingga ke bagian yang lebih kiri, ke belakang atau punggung hingga ke bagian leher. Rasa sakit yang ditimbulkan akibat nyeri itu juga memiliki rasa yang berbeda.

“Pada sebagian orang nyeri dada akibat jantung koroner memiliki rasa seperti tertusuk-tusuk, tertimpa beban, diremas-remas, hingga terbakar,” tutur Johan yang praktik di Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah ini.

Sementara itu, pada 30 persen pasien jantung koroner lainnya rasa nyeri dada yang muncul lebih khas. Johan menyebut nyeri dada itu muncul di sebelah kanan dan terasa sampai ke ulu hati disertai mual dan muntah seperti mengalami penyakit maag.

Pasien juga biasanya merasakan nyeri di bagian leher seperti tercekik, nyeri di bagian rahang dan ujung jari manis di tangan.

Menurut Johan, biasanya nyeri ini dialami akibat penyumbatan pembuluh darah di bagian kanan.

“Pada tiga puluh persen ini gejala yang timbul berbeda-beda sehingga sulit dideteksi,” ujar Johan.

Orang yang memiliki nyeri dada akibat penyumbatan pembuluh darah ini harus segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan.

Sedangkan nyeri dada yang timbul karena serangan jantung terjadi karena gula darah yang tiba-tiba naik lalu membentuk gumpalan daran dan membuat pembuluh darah robek.

Nyeri dada pada serangan jantung lebih berat dibandingkan akibat penyumbatan karena disertai gejala keringat dingin, mual, muntah, dan pucat.

“Pada serangan jantung biasanya nyeri terjadi sangat hebat lebih dari 15 menit dan golden time penanganannya harus segera dibawa ke rumah sakit dalam kurun waktu tiga jam,” ucap Johan.

Sakit jantung masih menjadi momok yang menakutkan.

Penyakit kardiovaskular ini merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia, termasuk Indonesia.

Penyakit jantung ini dapat mengancam siapa saja tanpa terkecuali.

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Johan Winata, setiap orang patut waspada dan mulai memeriksakan kesehatan jantung sedini mungkin agar dapat mencegah penyakit dan serangan jantung yang parah.

Johan menjelaskan setiap orang memiliki risiko mengalami penyakit jantung yang disebabkan oleh adanya penyumbatan pembuluh darah akibat penumpukan lemak.

Penyakit jantung karena penyumbatan pembuluh darah ini juga dikenal dengan istilah jantung koroner. Fenomena penyakit jantung koroner ini meningkat signifikan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

“Penumpukan lemak di darah itu mulai terlihat sejak usia 10 tahun dan terus bertambah seiring usia. Namun, progresnya hingga dapat menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan penyakit jantung berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang cepat, ada yang lambat,” kata Johan

Untuk dapat mengetahui kondisi kesehatan jantung itu, Johan menyarankan setiap orang untuk melakukan deteksi dini dengan cara mengidentifikasi faktor yang mempercepat risiko berkembangnya penyakit jantung.

Faktor yang dapat mempercepat proses penumpukan lemak menyumbat pembuluh darah itu di antaranya riwayat kesehatan keluarga yang mengalami penyakit jantung, gula darah dan kebiasaan merokok.

“Tiga faktor ini bisa mandiri dan menyebabkan progres yang sangat cepat. Sebaiknya, jika sudah memiliki risiko ini segera periksakan kesehatan jantung dan mulai melakukan upaya pencegahan yang memperlambat penyumbatan,” tutur Johan.

Dokter yang praktik di Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah ini bercerita pernah mendapatkan kasus seseorang yang masih berusia tujuh belas tahun dan sudah mengalami penyumbatan pembuluh darah karena memiliki riwayat keluarga dengan penyakit yang sama.

“Saya kemarin baru dapat pasien orang tua, habis pasang ring jantung. Anaknya umur tujuh belas tahun minta di CT scan juga. Ternyata sudah ada penyumbatan. Jadi, unpredictable sih,”” ucap Johan.

Selain tiga faktor risiko tersebut, Johan juga menyoroti dua faktor lain yang menyebabkan penyakit jantung koroner yakni hipertensi dan kolesterol.

Jika tak memiliki faktor risiko tersebut, Johan menyarankan untuk tetap memeriksakan kondisi kesehatan jantung. Menurut Johan, pada laki-laki progres penyumbatan pembuluh darah akan lebih cepat setelah berusia 40 tahun. Sedangkan pada perempuan, progresnya akan lebih cepat setelah memasuki masa menopause.

“Jika sudah memasuki usia ini, segera check up ke dokter,” ujar Johan.

Bagi Anda yang ingin melakukan pemeriksaan kesehatan jantung, ada beberapa cara yang dapat dilakukan.

Pertama, menggunakan alat elektrokardiografi atau dikenal dengan rekam jantung. Kedua, echocardiography atau USG jantung. Dua jenis pemeriksaan ini hanya bisa digunakan untuk mendeteksi penyempitan pembuluh darah jantung yang sangat berat atau sudah mengganggu fungsi jantung.

Untuk mendeteksi pada taraf penyumbatan ringan, metode Treadmill Stress Test dapat digunakan.

Tes ini dilakukan dengan cara berlari di treadmill dan mencatat pergerakan aliran darah dari dan menuju jantung. Apabila ditemukan adanya penyempitan pada pembuluh darah, rekam jantung bakal berubah.

Komentar