“Nggak Sulit Kok Menghitung Kalori”

Penulis: Darmansyah

Senin, 2 Mei 2016 | 11:25 WIB

Dibaca: 2 kali

Anda ingin menhitung kalori makanan yang diasup?

Ah, nggak sulit kok.

Teknologi sudah memungkinkan, orang awam sekalipun, untuk  menghitung besar kalori yang diasup sehari-hari.

Bagi para pelaku diet, aplikasi penghitung kalori bisa dijadikan solusi.

Hanya dengan memasukkan data makanan atau scanning barcode pada kemasan makanan, kalori makanan tersebut dapat diperkirakan.

Tak perlu lagi buku catatan khusus untuk merekam semua makanan yang disantap.

Yang paling terasa adalah tak perlu repot mencari tahu jumlah kalori dalam satu menu dari berbagai sumber.

Penasaran?

Aplikasi ini memiliki lebih dari enam juta menu makanan dalam database.

Beberapa makanan khas Indonesia seperti tumis oncom leunca, soto Kudus, ketoprak, babat, dan tongseng ada dalam database.

Bahkan untuk menu tongseng ada pilihan dengan santan atau tanpa santan yang pastinya memiliki jumlah kalori berbeda.

Mengapa yang dihitung adalah kalori?

Bukan karbohidrat atau lemak yang sering dianggap sebagai biang kegemukan?

Disadur dari livescience, kalori adalah satuan untuk energi. Semua jenis makanan mengandung kalori, termasuk lemak pun mengandung kalori.

Jumlah kalori tiap makanan berbeda.

Kebanyakan literatur mengatakan kalau lemak memiliki jumlah kalori yang paling tinggi dibanding dengan karbohidrat dan protein.

Jadi, menghitung kalori bisa dibilang jalan tengah.

Dengan demikian kita tak perlu menjauhi lemak dan karbohidrat.

Bagaimana pun tubuh perlu lemak dan karbohidrat.

Manusia dewasa yang sehat umumnya butuh dua ribu kalori perhari. Kecuali dalam keadaan tertentu, bisa lebih atau kurang.

Bagi para pelaku diet yang ingin menurunkan berat badan, pastinya mengkonsumsi kurang dari dua ribu kalori perhari.

Dalam menakar kalori, diperlukan keahlian membaca jumlah kalori dalam satu menu. Tentu saja didukung dengan catatan asupan kalori harian.

Kegiatan mencatat kalori ini bukan tanpa alasan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kaiser Permanente Care Institute Weight Management mengatakan kalau kegiatan mencatat ini memperbesar keberhasilan seseorang dalam program penurunan berat badan.

Pelaku diet yang mencatat menunya mengalami keberhasilan dua kali lebih besar dibanding yang tidak mencatat.

“Proses memahami apa yang dimakan tiap hari membuat kita sadar apa yang dimakan dan menjadi sebuah kebiasaan yang baik.”

“ Tapi sekali lagi tergantung pada orang tersebut, apakah akan menuruti target penurunan berat badan atau tidak,” sebut Keith Bachmann, anggota dari Kaiser Permanente Care Institute Weight Management seperti dikutip dari livescience.

Yang perlu digarisbawahi, apa pun aplikasi yang Anda pilih, semua itu hanya sebagai pencatat dan pengingat.

Semangat dan motivasi dari dalam diri tetap jadi kunci keberhasilan sebuah program diet.

“Orang tua dengan banyak aktivitas cenderung memiliki lebih banyak daerah abu-abu, komponen utama dari sistem saraf pusat di otak mereka ketimbang rekan-rekan yang kurang aktif.

Rutin bergerak di sekitar rumah, berjalan santai, atau berlari, ibarat “mengawetkan” struktur otak, bahkan untuk individu dengan gejala ringan dan berat penurunan mental,” kata penulis studi James T. Becker, profesor psikiatri di University of Pittsburgh School of Medicine.

Para responden menjalani penilaian kognitif, volumetrik pencitraan otak, dan menjawab kuesioner tentang kegiatan mereka sehari-hari. Peneliti juga mengukur volume daerah abu-abu pada responden.

Setelah memerhitungkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi volume otak, termasuk ukuran kepala, usia, jenis kelamin, daerah putih di otak, kerusakan kognitif ringan dan status Alzheimer, para peneliti menemukan bahwa pembakaran kalori yang lebih tinggi dikaitkan dengan volume daerah abu-abu yang lebih besar di otak responden, menurut hasil Journal of Alzheimer.

Dengan kata lain, aktif di hari tua membuat seseorang tidak gampang pikun, tetap bisa berpikir tajam, dan rasional.

“Pengeluaran energi dikaitkan dengan pelepasan substansi yang dikenal sebagai faktor neurotropik otak atau brain-derived neurotrophic factor, yang mempromosikan pertumbuhan dan diferensiasi neuron baru di otak,” kata Becker.

Volume daerah abu-abu di otak biasanya menyusut seiring dengan usia.

Tetapi, penelitian ini telah menunjukkan, bahwa bergerak dan membakar kalori terkait dengan peningkatan BDNF yang dapat membantu sejumlah daerah abu-abu di otak tetap awet muda.

“Data kami menunjukkan, tidak peduli apa aktivitasnya, selama kita membakar banyak kalori, maka itu akan berpengaruh,” lanjut Becker.

“Namun, lebih aktif dalam lingkungan sosial mungkin lebih efektif ketimbang hanya berjalan di treadmill saja.”

Leandro Fornias Machado de Rezende dari departemen kedokteran di University of Sao Paulo School of Medicine di Brazil, yang bukan bagian penelitian menanggapi, “walau begitu, aktivitas fisik adalah multidimensi, tidak hanya pengeluaran kalori saja yang perlu diperhatikan, tetapi juga aktivitas sosial, mental, dan kegiatan emosional yang terlibat.

”Dalam hal ini, pencegahan penyakit Alzheimer melalui aktivitas fisik harus dipahami dalam pandangan yang lebih luas,” lanjut Rezende Reuters Health melalui email.

Komentar