Mitos Susah Kenyang Belum Makan Nasi

Penulis: Darmansyah

Kamis, 20 Juli 2017 | 08:19 WIB

Dibaca: 0 kali

Belum makan nasi?

Jawabnya pasti, “rasanya belum kenyang?”

Belum kenyang?

Ya, begitu yang terjadi.

Ketergantungan terhadap nasi juga menghinggapibanyak orang di dunia

Ada saja yang berujar, perut rasanya tidak kenyang kalau belum diisi nasi.

Pada dasarnya, perasaan belum kenyang kalau belum makan nasi adalah tanda bahwa seseorang sudah ketergantungan.

Apa yang membuat nasi bisa seperti itu?

Penjelasan secara ilmiah pernah diungkapkan oleh para peneliti dari Boston Children’s Hospital di Amerika pada empat tahun lalu

Menurut temuan tim, makanan yang memiliki indeks glikemik—zat karbohidrat dalam gula darah—tinggi berpotensi menimbulkan adiksi.

Di antara makanan yang masuk dalam kriteria tersebut ada nasi, roti putih, kentang, dan gula konsentrat.

Dijelaskan bahwa terlalu banyak mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat menyebabkan rasa lapar berlebihan dan merangsang area otak yang berkaitan dengan rasa ketagihan.

Khusus nasi, penjelasan ilmiah lain datang dari juru bicara yang menjadi representasi ahli diet dari American Dietetic Association, Christine Gerbstadt.

Ia menyebutkan dalam artikel berjudul “13 Ways to Fight Sugar Cravings” pada laman webmd.com bahwa karbohidrat mengandung gula sehingga memiliki kesamaan sifat bisa menimbulkan ketagihan ketika tubuh menerimanya.

“Manis adalah cita rasa pertama yang cenderung dipilih manusia sejak lahir,” ujar Gerbstadt.

Di sisi lain, karbohidrat dengan rasanya yang cenderung manis merangsang pelepasan serotonin—zat kimia otak yang dapat memperbaiki suasana hati dan dipercaya dapat mengurangi kesedihan dan depresi—sehingga yang mengonsumsinya bisa merasakan bahagia.

Ditambah lagi, rasa manis juga bisa melepaskan zat endorfin, senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang selain berguna juga untuk kekebalan tubuh.

Masalahnya, ada dampak yang dihasilkan di luar adanya zat-zat tersebut.

Sayangnya, yang terjadi bukan karena dua zat yang ditimbulkan saat mengonsumsi karbohidrat itu bisa membuat diri merasa lebih baik, melainkan bayang-bayang akan dampak penyakit yang dibawa.

Dalam artikel “Guides Food Addiction” yang ditayangkan oleh psychguides.com disebutkan bahwa imbas jangka panjang mengonsumsi—apalagi secara berlebihan sehingga bisa dikatakan ketergantungan pada nasi—bisa menyebabkan diabetes tipe 2.

Untuk menghilangkan rasa ketergantungan, orang perlu membatasi konsumsi nasi. Akan tetapi, beberapa hasil riset menunjukkan, mengurangi takaran konsumsi biasanya bisa jadi sulit.

Buku Human Psysiology: From Cell to Systems yang disusun Lauralee Sherwood memberi penjelasan hubungan antara makanan yang dikonsumsi dan volume perut.

Tertulis di sana bahwa perut memiliki volume sekitar 50 mililiter (ml) saat kosong. Akan tetapi, volume bisa membesar dua puluh kali kali lipat saat terisi atau ketika seseorang sedang mengonsumsi makanan. Bahkan, volume bisa terus bertambah ketika makanan—termasuk nasi—yang masuk lebih dari satu liter.

Jika hal itu terus berlanjut dalam waktu yang panjang, maka otot-otot dan  ruang cerna dalam tubuh akan merenggang.

Masalahnya, orang akan merasa kenyang saat ruang cerna terisi penuh.

Maka dari itu, perlu upaya untuk mengendalikannya.

Dalam penelitian yang dilakukan Boston Children’s Hospital seperti dikutip dalam nationalpost.com, dikatakan bahwa untuk mengendalikan keinginan makan berlebihan, seseorang perlu membuat dirinya untuk mampu membatasi makanan yang dikonsumsi, terutama karbohidrat dengan kadar tinggi.

Terlebih lagi, orang Indonesia dan nasi terikat dengan riwayat yang panjang.

Nasi disebut sebagai salah satu makanan yang ada dari zaman ke zaman sejak masa Paleolitikum  di wilayah ini.

Meskipun tak mudah, langkah untuk mengendalikan diri dalam mengonsumsi karbohidrat demi kesehatan tubuh mutlak perlu dilakukan.

Dalam artikel “13 Ways to Fight Sugar Cravings” di Webmd.com, ada sejumlah tips yang bisa dilakukan sesegera mungkin. Di antaranya, makanlah sedikit makanan manis—termasuk nasi sebagai karbohidrat—saat Anda mengidam-idamkannya.

“Cobalah jaga konsumsi makanan manis maksimal seratus lima puluh  kalori per hari,” ujar juru bicara lain dari ADA, Kerry Neville.

Lalu, cara lainnya ialah mengombinasikannya dengan makanan sehat.

Saat ini, ada banyak kudapan ringan yang praktis dan bisa dibawa dalam tas kecil atau saku sekalipun. Camilan seperti Soy Joy yang berbahan kedelai, misalnya.

Dengan ngemil snack tersebut dua jam sebelum makan makanan utama, Anda bisa merasa kenyang sehingga bisa mengurangi jatah konsumsi karbohidrat, seperti nasi, tanpa harus merasa lapar terus-menerus.

Dengan begitu, perasaan belum kenyang kalau belum makan nasi pun tinggal mitos.

Komentar