Misteri Menstruasi dan Menopause

Penulis: Darmansyah

Senin, 24 Oktober 2016 | 08:19 WIB

Dibaca: 0 kali

Para peneliti dari UC San Diego School of Medicine seperti yang ditulis  jurnal Menopause, hari ini, Senin, 24 Oktober 2016, menemukan hubungan menstruasi dan menopause yang dialami wanita dengan umur panjang.

Temuan ini merupakan  fenomena  aneh,  yang sebelumnya tidak ada ada yang tahu persis apa faktor yang menyebabkan wanita bisa mencapai umur sepanjang itu.

Peneliti menduga, selama beberapa dekade lalu, memang curiga dengan  faktor  periode menstruasi ini.

Menurut hasil studi itu, wanita yang mendapat menstruasi dan menopause lebih lambat, kemungkinan memiliki kesempatan hidup lebih panjang

Para peneliti mengevaluasi sekitar enam belas ribu wanita dari beragam ras dan etnis, yang berusia enam puluh sembilan sampai delapan puluh satu  tahun selama dua puluh satu tahun.

Peneliti menemukan, lebih dari lima puluh  persen dari para wanita itu bisa mencapai usia sembilan puluh tahun, dengan rata-rata usia kematian pada usia delapan puluh tiga.

Mereka juga dilaporkan memiliki tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi, lebih sedikit kecenderungan menjadi gemuk, bukan perokok dan tidak memiliki sejarah yang berkaitan dengan penyakit karena usia.

Para peneliti juga menemukan bahwa wanita yang mulai menstruasi di usia dua belas tahun atau lebih dan mengalami menopause  pada usia lima puluh tahun atau lebih, serta memiliki total tahun reproduksi selama empat puluh tahun, juga mengalami peningkatan harapan hidup sampai usia sembilan puluh tahun.

Penulis studi Aladdin Shadyab, Ph.D, mengungkapkan, wanita yang mulai menstruasi di usia yang lebih lambat, memiliki risiko lebih sedikit untuk memiliki masalah kesehatan, seperti penyakit jantung koroner.

Mereka yang mengalami menopause lebih lambat, juga diketahui memiliki tingkat kesehatan yang sangat baik.

Dari hasil temuan, terungkap juga bahwa faktor gaya hidup seperti merokok dapat merusak sistem kardiovaskular dan ovarium, yang dapat menyebabkan Anda mengalami menopause dini.

Penelitian ini masih perlu dilanjutkan untuk mencari korelasi yang jelas antara waktu reproduksi wanita dengan tingkat harapan hidup.

Peneliti juga masih harus menjelaskan bagaimana pengaruh gaya hidup, genetik, dan faktor lingkungan terhadap panjang/pendeknya usia wanita.

Sebelumnya, studi dari UC San Diego Schoold of Medicine juga telah menegaskan bahwa mmenstruasi punya kaitan dengan usia seorang wanita.

Studi nitu belum bisa mengungkapkan  komponen biologi atau rahasia perilaku yang membuat usia jadi super panjang.

Untuk wanita, ada kemungkinan menstruasi berperan penting menentukan panjang usia seseorang.

Wanita yang mendapat haid belakangan dan mengalami menopause belakangan pula mungkin punya kesempatan hidup panjang.

Tak mengejutkan, wanita yang panjang umur dilaporkan banyak melakukan aktivitas fisik, tidak kegemukan, bukan perokok atau pun punya riwayat penyakit yang berhubungan dengan usia. Wanita-wanita itu juga minum alkohol.

Mengapa begitu? “Wanita yang mulai menstruasi di usia belakangan, cenderung tak memiliki penyakit tertentu seperti penyakit jantung koroner.

Mereka yang mengalami menopause belakangan pun cenderung memiliki kesehatan umum yang baik yang mungkin menjelaskan penemuan ini,” kata Shadyab.

Buat wanita yang mulai haid di usia sepuluh tahun, penemuan ini kurang menggembirakan.

Tetapi ada hal yang masih dapat dikontrol seperti faktor gaya hidup seperti merokok yang merusak sistem kardiovaskular dan ovarium.

Hal itu dapat menyebabkan wanita mengalami menopause lebih dini.

Masih dibutuhkan riset lanjutan untuk mendefinisikan dengan tepat hubungan antara menstruasi, menopause dan panjang usia wanita.

Peneliti perlu juga menjelaskan bagaimana gaya hidup, genetika dan faktor lingkungan ikut berperan.

Menstruasi memang merupakan masalah misteri di kalangan ilmuwan.

Misalnya, walau ketika menstruasi ada banyak gejala tak nyaman yang dirasakan, ternyata si “tamu bulanan” ini memiliki manfaat penting bagi perempuan, yakni menyehatkan ginjal.

Hormon seks perempuan, yakni estrogen, memang melindungi ginjal. Pada penelitian terhadap tikus betina juga diketahui lebih jarang mengalami gangguan ginjal, jika dibanding dengan tikus jantan.

Tetapi, ketika rahim tikus diangkat, risikonya terkena sakit ginjal akan sama. Kuncinya ternyata ada pada estrogen, hormon yang walau juga dimiliki pria, tapi efeknya berbeda pada wanita.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Dr.Judith Lechner dari Austria, menambah bukti terhadap teori tersebut.

Dalam risetnya, Lechner dan timnya menguji apakah perubahan hormonal saat siklus menstruasi berpengaruh pada sel-sel ginjal..

Setiap orang diminta mengirimkan contoh urine untuk diukur kadar enzimnya yang dikeluarkan saat sel ginjal rusak. Ternyata, kadar enzim ini meningkat saat seorang wanita sedang masa subur dan menstruasi. Sebaliknya, kadarnya rendah pada wanita pascamenopause dan pria.

“Hasil studi ini menunjukkan perubahan pada hormon wanita berpengaruh pada sel ginjal, sehingga wanita lebih terlindungi dari kerusakan ginjal,” kata Lechner.

Selain itu, perubahan kadar hormon selama siklus haid juga menyebabkan perubahan bentuk, tidak hanya pada organ reproduksi tapi juga meluas pada ginjal.

Menurut Lechner, estrogen berfungsi untuk menggantikan sel yang rusak. Selama masa haid, saat estrogen sedang tinggi, sel ginjal distimulasi untuk berkembang.

Ia mengatakan, estrogen memang bukan faktor tunggal mengapa lebih sedikit wanita yang mengalami gangguan ginjal.

Faktornya lebih kompleks, karena itu dibutuhkan studi yang lebih mendalam lagi.

Misteri menstruasi lainnya adalah, kenaikan berat badan sebelum ia datang.

Pertambahan berat badan ini, kata a Raquel Dardik, MD, ahli ginekologi dari NYU Langone Medical Center, karena faktor asupan air pada tubuh.

“Kenaikan berat badan terjadi lima hari sebelum menstruasi. Berat badan akan kembali seperti semula begitu menstruasi dimulai,” jelasnya.

Kenaikan berat badan sebelum mens sekitar satu hingga lima kg. Rata-rata wanita mengalami kenaikan sekitar dua kg.

Mengapa ini terjadi?

Hormon progesteron, yang diperlukan di tahap awal kehamilan menjadi penyebabnya. Ketika tak terjadi kehamilan, kadar hormon ini menurun. Efek sampingnya, setiap sel dalam tubuh menahan air.

Kembung sebelum mens juga memperparah dan membuat perempuan jadi merasa begah dan gemuk.

Menghadapi tamu bulanan dan kenaikan berat badan itu, perempuan sebaiknya tidak memfokuskan diri pada jumlah kenaikan berat badan. Sebaiknya perempuan membuat jadwal menimbang yang sehat agar berat badan terjaga.

Timbanglah sekali seminggu di hari yang sama, waktu yang sama menggunakan timbangan yang sama.

“Hal utama dalam menimbang adalah jangan berlebihan karena fluktuasi berat badan adalah hal normal,” kata Dardik.

Atasi efek samping dari siklus bulanan ini dengan olahraga. Dardik menyarankan untuk minum banyak air untuk mengatasi retensi air.

Hindari juga makanan berlemak, alkohol dan garam yang menyebabkan tubuh jadi menahan cairan.

Bagaimana dengan kenaikan berat badan yang tak hilang kendati menstruasi sudah selesai?

Ini bisa jadi disebabkan ngidam saat sebelum mens yang membuat wanita ingin makan makanan asin, berlemak dan manis.

Kenaikan berat karena makanan jenis ini tidak akan hilang setelah menstruasi.

Komentar