Mewaspadai Nyeri di Kepala Yang Tak Biasa

Penulis: Darmansyah

Jumat, 22 Maret 2019 | 10:58 WIB

Dibaca: 0 kali

HAMPIR setiap orang pernah mengalami nyeri kepala. Ada yang tidak begitu berbahaya, ada pula yang sangat berbahaya.

Bagaimana membedakannya?

ANTON (39) mendadak mengeluh nyeri kepala. Suhu tubuhnya meningkat, namun tidak terlalu tinggi. Tidak ada keluhan lain seperti diare, batuk, lemah anggota gerak, bicara pelo maupun tersedak. Tetapi, sejak tiga tahun lalu, ia menderita tekanan darah tinggi.

Selama enam hari berikutnya, keluhan nyeri kepala tetap dirasakan Anton meskipun telah mengonsumsi obat penahan nyeri. Sebelum berencana datang ke rumah sakit, ia tiba-tiba mengeluh nyeri kepala yang sangat hebat hingga pingsan.

Ada kejang sebentar, setelah itu tidak sadar. Setelah dilakukan CT Scan kepala, didapati hasil bahwa Anton mengalami perdarahan subarachnoid (PSA) atau Sub Arahnoid Hemorrhagic.

Dokter Spesialis Saraf Condrad M. Pasaribu mengatakan, perdarahan sub arahnoid bisa berakibat sangat fatal, bahkan hingga kematian. Akan tetapi, kondisi ini seringkali tidak cepat terdeteksi karena pada umumnya tidak menimbulkan gejala yang berarti.

Perdarahan subarachnoid bisa terjadi karena faktor traumatik dan nontraumatik. Perdarahan subarachnoid traumatik terjadi akibat cedera kepala berat.

Misalnya karena kecelakaan lalu lintas, terjatuh, atau tertimpa benda pada kepala. Cedera berat ini dapat mengakibatkan pembuluh darah di selaput meningen pecah dan menyebabkan perdarahan subarachnoid.

Sementara itu, perdarahan subarachnoid paling sering terjadi tanpa didahului oleh cedera dan muncul secara tiba-tiba.

Penyebab terjadinya perdarahan subarachnoid non traumatik ini, biasanya adalah pecahnya aneurisma otak.

“Begitu aneurisma otak pecah, maka itu adalah nyeri kepala paling hebat yang pernah seseorang alami sepanjang hidupnya,” ucap Condrad, ketika ditemui di Santosa Hospital Bandung Central beberapa waktu lalu.

Aneurisma otak adalah pembesaran pembuluh darah pada otak akibat dinding pembuluh darah yang lemah. Saat aliran darah menekan dinding pembuluh darah, pembuluh darah akan menggembung seperti balon.

Seseorang dapat lebih mudah mengalami perdarahan subarachnoid jika memiliki faktor-faktor risiko seperti memiliki kebiasaan merokok, hipertensi, kecanduan alkohol, serta memiliki riwayat perdarahan subarachnoid di dalam keluarga.

Selain itu, ada pula penyakit lain yang menjadi faktor risiko seperti penyakit ginjal polikistik, penyakit liver, tumor otak, infeksi otak, dan lain-lain.

Disebutkan Condrad, ada dua prosedur yang bisa dilakukan sebagai langkah penanganan perdarahan subarachnoid. Yang paling sering dilakukan adalah coiling (Endovascular coiling therapy).

Dalam prosedur ini, kantung aneurisma akan diisi dengan gulungan logam coil. Sehingga, darah tidak melewati kantong tersebut yang berisiko pecah.

Prosedur minimal invasif ini lebih sering digunakan karena memiliki risiko komplikasi jangka pendek yang lebih rendah. Pasien biasanya diperbolehkan meninggalkan rumah sakit lebih cepat, dan durasi pemulihan pun cenderung lebih cepat.

“Tindakan ini ada kelebihan dan kekurangannya. Kekurangannya adalah lebih mahal, tapi kelebihannya adalah masa rawat dan pemulihan yang sangat cepat. Infeksi juga sangat minimal, juga tidak ada bekas tindakan,” tutur Condrad.

Selain itu, juga ada neurosurgical clipping atau operasi menggunakan clipping. Prosedur ini dilakukan dengan menjepit pembuluh darah yang bermasalah dengan klip logam.

Prosedur clipping dilakukan melalui metode kraniotomi atau bedah kepala, dalam keadaan pasien tidak sadar akibat diberikan obat bius total. Selanjutnya, pembuluh darah yang sudah dijepit akan mengalami perbaikan, karena aneurisma yang terjadi akan tersumbat secara permanen.

Jika tidak segera ditangani, perdarahan subarachnoid bisa memicu berkembangnya komplikasi.

Misalnya kerusakan pada otak yang disebabkan oleh menyempitnya pembuluh darah otak, sehingga persediaan darah untuk otak berkurang. Bisa juga terjadi perdarahan berulang, hingga hidrosefalus dan kematian.

Sebagai komplikasi jangka panjang, perdarahan subarachnoid juga bisa menyebabkan epilepsi, perubahan suasana hati seperti depresi, hingga gangguan pada fungsi kognitif otak.

“Bila curiga tumor otak, nyeri kepala yang dirasakan adalah yang kronis dan bertambah berat dari waktu ke waktu, disertai gangguan tingkah laku, gangguan neurologi dan kejang,” ucap Dokter Spesialis Saraf Condrad M. Pasaribu.

Sedangkan jika dicurigai infeksi otak, maka ada riwayat panas lebih dari satu minggu, batuk, bicara kacau, kesadaran turun dan kejang.

Sedangkan abses otak adalah infeksi bakteri yang mengakibatkan penimbunan nanah di dalam otak, serta pembengkakan pada organ tersebut. Kondisi ini biasa terjadi setelah bakteri atau jamur masuk ke jaringan otak akibat cedera kepala atau infeksi pada jaringan lain.

Gejalanya adalah nyeri kepala hebat, mual dan muntah, demam tinggi di atas 38 derajat celcius, menggigil, perubahan perilaku, leher terasa kaku, kejang-kejang, gangguan penglihatan dan sensitif terhadap cahaya.

Lalu, bagaimana cara membedakan nyeri kepala akibat migren dengan pecahnya aneurisma otak?

“Kalau migren, rasanya berdenyut di kepala dan berpindah-pindah bagian, lamanya antara empat hinggadua puluh jam. Dalam sebulan, biasanya terjadi minimal lima kali. Sedangkan ketika menjelang aneurisma otak pecah, rasa sakitnya ada di satu bagian saja, berdenyut sesuai dengan denyut jantung, dan semakin hari semakin hebat,” tutur Condrad.

Komentar