Menopause “Dosa” Fitrahnya Perempuan

Penulis: Darmansyah

Senin, 21 April 2014 | 09:49 WIB

Dibaca: 0 kali

Menopuase? Ya, itulah “dosa” perempuan. “Dosa” dalam tanda dua petik yang menjadi fitrahnya kehidupan. Dan, seperti di tulis oleh situs “heathy news.com,” dosa menopause adalah hak preoregatif seorang perempuan “mature” yang telah memiliki segalanya.

Memang, tulis “healthy,” banyak perempuan yang tidak siap dan tidak menyiapkan diri untuk menjalani masa menopause. Tapi masa itu pasti datang dan dinikmati dengan segala kenikmatan dan kesusahannya. Alami.

Banyak perempuan secara psikologis yang tidak siap memasuki masa menopause. Makanya, pengetahuan cukup dan dukungan keluarga diperlukan untuk itu.

Kekurangan pengetahuan membuat perempuan cemas jika memasuki masa menopause. Kecemasan berlebihan bisa menyebabkan depresi.

Menopause adalah berhentinya siklus menstruasi, di antaranya ditandai berhentinya menstruasi selama dua belas bulan.

Perempuan yang memasuki masa perimenopause hingga menopause, akan mengalami perubahan psikologis dan fisik, seperti mudah marah dan kondisi fisik melemah. Oleh karena itu, pemahaman keluarga diperlukan untuk membantu mereka menghadapi fase ini.

Kesehatan psikologis memengaruhi hormon dalam tubuh. Jika keadaan psikologis seseorang tidak sehat, hal itu dapat menstimulasi penurunan jumlah hormon, di antaranya memicu menopause.

Keluhan yang sering datang ketika masa menopause adalah berat badan yang meningkat dengan lebih cepat. Sebuah studi baru yang dilakukan pada tikus oleh para peneliti di Ohio State University, Amerika Serikat dapat menjelaskan mengapa hal itu dapat terjadi.

Menurut para peneliti, setelah menopause aktivitas enzim tertentu yang terlibat dalam produksi lemak, yaitu Aldh1a1 jadi meningkat. Enzim ini ditemukan baik pada manusia maupun tikus.

Studi ini melakukan percobaan terhadap tikus betina yang diberi makan lemak tinggi ternyata memiliki aktivitas Aldh1a1 yang tinggi pula, serta memproduksi lemak perut yang lebih banyak daripada tikus jantan yang makan lemak tinggi.

Sebaliknya, tikus betina yang secara genetika telah direkayasa untuk memproduksi enzim Aldh1a1 lebih sedikit, maka akan lebih sedikit pula memproduksi lemak perut yang menyebabkan bobotnya cenderung tetap. Demikian menurut studi yang publikasikan dalam jurnal Diabetes.

Wanita sebelum mengalami menopause tubuhnya memproduksi hormon estrogen yang ternyata memiliki kemampuan untuk menekan aktivitas.. Hal inilah yang memungkinkan wanita yang berusia lebih muda tidak terlalu terpengaruh oleh efek yang tidak diinginkan dari enzim ini. Namun, setelah menopause, karena tubuh wanita tidak lagi memproduksi estrogen, maka akan lebih rentan terhadap kenaikan berat badan.

Peneliti studi ini Ouliana Ziouzenkova, sekaligus asisten professor dari nutrisi manusia di Ohio State University mengatakan, “dengan mengetahui fakta ini, para peneliti mungkin dapat mampu untuk mengembangkan penanganan obesitas khusus wanita dengan memfokuskan pada enzim Aldh1a1.”

Bagi wanita menopause sering didatangi “hot flashes” atau rasa panas hingga berkeringat kerap terjadi pada wanita yang menuju usia menopause. Para peneliti mengatakan, hot flashes sebenarnya dikendalikan oleh area spesifik pada otak.

Vaibhav Diwadkar, peneliti yang juga profesor psikiatri dan ilmu saraf dari Wayne State University mengatakan, telah ditemukan perubahan aktivitas pada otak yang menjadi awal mula terjadinya hot flashes. “Aktivitas di area tertentu dalam otak berubah bahkan sebelum hot flashes terjadi,” ujarnya.

Temuan yang dipublikasi dalam jurnal Cerebral Cortex ini mungkin memberikan cara tertentu bagi para ahli untuk penanganan menopause yang tepat. Diwadkar mengatakan, di masa depan para ahli dapat mengetahui efektivitas penanganan menopause dengan mengukur aktivitas otak.

Menopause atau akhir masa siklus mentruasi pada wanita seringkali memberikan gejala yang tidak menyenangkan, seperti sulit tidur, lesu, dan hot flashes. Gejala-gejala tersebut terjadi karena adanya perubahan hormon yang drastis dan terjadi sementara.

Para peneliti menemukan, ada aktivitas khusus pada batang otak yang membuat terjadinya hot flashes. Batang otak menghubungkan bagian hemisfer otak kecil dengan sumsum tulang belakang. Bagian tersebut terlibat dalam regulasi suhu tubuh.

Dan hot flashes juga melibatkan aktivitas insula, bagian depan otak. Pada bagian ini, tercipta persepsi pribadi dan sesuatu yang dirasakan tubuh manusia.

Diwidkar mengatakan, para peneliti sudah lama menduga ada sesuatu yang terjadi pada otak saat timbulnya hot flashes. Namun dia cukup terkejut, karena aktivitas tersebut bahkan terjadi lebih awal, yaitu sebelum munculnya hot flashes.

Profesor di University of Melbourne Australia Robin McAllen mengatakan, temuan ini sangat bermanfaat karena dapat mengungkap aktivitas awal pada otak sebelum terjadinya hot flashes. Namun dibutuhkan studi lanjutan untuk menemukan jalur saraf yang memicu hot flashes.

Hot flashes selama ini ditangani dengan terapi hormon dan konsumsi obat-obatan antidepresan. Selain itu, pola makan juga membantu meringankannya. Makanan yang memicunya yaitu makanan pedas, minuman berkafein, dan merokok.

sumber: healthynews, health science dan the mirror

Komentar