close
Nuga Sehat

Menguap Itu “Penyakit” Yang Menular

Menguap itu “penyakit” menular?

Jawabannya, walau setengah canda, iya.

Ya, menguap itu memang bisa menular.

Lantas muncul pertanyaan, apa yang mendorong perilaku tersebut sehingga seseorang bisa ikut ‘tertular’ menguap?

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada akhir Agustus lalu mengungkap bagaimana fenomena itu bisa terjadi.

Peneliti menyebut jika perilaku tersebut muncul karena adanya aktivitas di bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi motorik.

Untuk mempelajari apa yang terjadi di otak seseorang saat melihat orang lain menguap, para peneliti melakukan pengamatan terhadap 36 orang dewasa.

Mereka diminta untuk menonton video orang lain yang sedang menguap. Dengan menggunakan stimuli magnetik transkranial, para peneliti lalu mengukur aktivitas otak partisipan selama percobaan.

Dalam satu percobaan, orang-orang diminta untuk mencoba dan menahan menguap saat melihat video orang yang menguap.

Pada percobaan lain, para peserta diberi instruksi yang sama, tetapi peneliti juga menambahkan arus listrik ke kulit kepala para partisipasan tersebut.

Arus ini dimaksudkan untuk merangsang korteks motorik yang diperkirakan bisa mengendalikan menguap.

Selama eksperimen, peserta juga diminta untuk memperkirakan keinginan mereka untuk menguap.

Hasilnya, peneliti menemukan jika kecenderungan seseorang untuk meniru menguap ini berkaitan dengan tingkat aktivitas otak di korteks motor seseorang. Semakin banyak aktivitas di daerah tersebut, maka kecenderungan seseorang untuk menguap semakin meningkat.

Hal ini terbukti ketika arus listrik dialirkan ke daerah tersebut. Dorongan untuk menguap turut meningkat.

Selanjutnya, para peneliti juga menemukan bahwa hanya sebagian yang sukses menolak keinginan untuk menguap. Saat partisipan diminta untuk menolak menguap, dorongan untuk menguap justru naik.

“Dengan kata lain dorongan untuk menguap meningkat seiring dengan keinginan diri sendiri untuk mencoba menghentikan aktivitas menguap itu,” kata Georgina Jackson, profesor neuropsikologi kognitif di Universitas of Nottingham Inggris yang terlibat dalam penelitian ini seperti dikutip Live Science

Dan itulah juga yang ditulis laman “tougthonco.com,” hari ini, Kamis, 26 Oktober, mengutip pendapat  Anne Marie Helmenstine, Ph.D, seorang penulis rubrik sains dan ahli matematika dan fisika

Ditegaskannya semua makhluk hidup yang bertulang belakang menguap.

Lalu, enam puluh hingga tujuh puluh persen manusia mengaku ikut menguap setelah melihat orang lain menguap, meskipun hanya melalui foto.

Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Sejumlah penelitian terkait topik tersebut menemukan beberapa hal unik.

Menurut penelitian pada tujuh tahun silam di Universitas Connecticut, anak-anak baru belajar untuk ikut menguap pada usia empat tahun.

Hal ini disebabkan oleh perkembangan mengolah rasa empati yang baru dimulai pada umur empat tahun.

Para peneliti juga mengamati para anak-anak penyandang autisme dan menemukan bahwa mereka lebih jarang terpengaruh untuk ikut menguap dibandingkan dengan anak-anak sebayanya.

Korelasi antara empati dan tertular menguap semakin dikuatkan oleh penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2015, kali ini terhadap orang dewasa.

Partisipan mengerjakan sebuah tes kepribadian dan diminta untuk melihat gambar atau video orang sedang menguap.

Hasilnya, orang yang memiliki kadar empati rendah, lebih jarang ikut menguap.

Akan tetapi, tidak semua studi menyetujui teori di atas. Menurut penelitian yang dilakuan oleh Pusat Penelitian Gen Manusia di Duke, dan sudah dipublikasikan di jurnal PLOS ONE, faktor umur sangat erat dengan permasalahan menguap tersebut.

Setelah mempelajari lebih dari tiga ratus orang dalam sebuah eksperimen, para peneliti mengonklusikan bahwa empati, waktu, dan kecerdasan seseorang tidak ada hubungannya dengan ketularan menguap.

Sebaliknya, para peneliti menemukan korelasi antara menguap dengan usia, di mana orang-orang yang lanjut usia lebih jarang ikut menguap setelah melihat orang lain menguap.

Namun, karena kelompok usia ini hanya delapan persen di antara partisipan, para peneliti berniat untuk mengembangkan eksperimen tersebut dan mencari faktor genetik.

Seperti dilansir pada laman www.thoughtco.com, kita bisa menemukan petunjuk penting yang menjelaskan mengapa manusia bisa ketularan menguap dengan meneliti perilaku menguap pada hewan.

Penelitian di Universitas Kyoto di Jepang, khususnya di Institut Penelitian Primata, mengamati enam simpanse. Dua diantaranya menunjukkan perilaku tertular menguap setelah menonton video simpanse lain menguap, sedangkan tiga bayi simpanse tidak terpengaruh menguap.

Ada kemungkinan bahwa, sama seperti anak manusia, bayi simpanse belum memiliki perkembangan intelektual yang cukup untuk ikut menguap.

Sementara itu, penelitian lain di London memilih anjing sebagai objek penelitian. 21 dari 29 anjing ikut menguap saat ada orang di depannya yang menguap. Anjing-anjing tersebut ternyata juga memilih.

Mereka hanya ikut menguap apabila orang menguap dengan sungguh-sungguh dan bukan hanya membuka mulut dengan lebar.

Sama seperti sebelumnya, dalam eksperimen ini hanya anjing yang sudah berumur lebih dari tujuh bulan yang terpengaruh.

Hingga kini, para peneliti mengakui belum sampai pada kesimpulan akhir untuk menjawab secara pasti mengapa menguap itu menular. Namun dari kesimpulan sementara, tidak semua orang serta merta akan mudah tertular menguap.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi.

Beberapa di antaranya adalah orang tersebut terlalu muda, terlalu tua, tidak memiliki gen mudah terpengaruh menguap, atau sekadar tidak punya rasa empati.