Kenali Secara Fisik Gangguan Kecemasan

Penulis: Darmansyah

Senin, 23 April 2018 | 10:48 WIB

Dibaca: 3 kali

Anda, mungkin, termasul salah seorang yang “menderita” penyakit kecemasan.

Kalau maka Anda perlu mengetahui gejala “penyakit” itu secara fisik untuk memudahkan adaptasinya.

Untuk Anda tahu, setiap jenis gangguan kecemasan memiliki gejala yang unik.

Gangguan kecemasan biasanya mudah diketahui saat Anda merasa takut dengan suatu objek atau suatu kejadian yang sebenarnya tidak mengancam, tapi tiba-tiba berubah menjadi ekstrem dan tidak terkendali.

Meskipun kecemasan adalah masalah pikiran, gejala gangguan kecemasan juga bisa Anda lihat secara fisik. Apa saja gejalanya dan bagaimana cara diagnosisnya?

Salah satu gejala gangguan kecemasan yang dapat dilihat secara fisik adalah munculnya rasa sakit di sekujur tubuh.

Sakit yang dirasakan mulai dari migrain hingga nyeri pada persendian.

Hal ini akan terlihat jelas saat penderita secara tidak sadar menggertakan atau menekankan rahang, mengepalkan jari, atau menunjukkan posisi tubuh yang buruk.

Berbagai hal ini disinyalir menjadi penyebab ketegangan otot pada penderita gangguan kecemasan.

Salah satu penelitian menyebutkan bahwa orang dewasa dengan masalah jerawat ditemukan mengalami kecemasan yang relatif tinggi.

Ini disebabkan karena hormon stres saat dalam kondisi cemas cenderung meningkat sehingga produksi minyak di wajah pun ikut meningkat. Akibatnya, muncul jerawat-jerawat di sekitar wajah.

Dilansir dari Medical Daily, menurut Sandhya Ramrakha dari University of Otago, Selandia Baru, jerawat dan kecemasan adalah dua hal yang berbeda, tetapi memiliki kaitan satu sama lain.

Orang yang mengalami gangguan kecemasan memiliki kebiasaan untuk menyentuh wajah dan oenyebabkan iritasi.

Maka tidak heran bila kemudian jerawat mulai tumbuh subur di wajah.

Gangguan obsesif kompulsif  jelas ditandai dengan gejala pikiran dan perilaku kompulsif yang sulit dikendalikan.

Perilaku kompulsif ini akan terus dilakukan sampai mereka merasakan sensasi ketenangan tersendiri.

Contohnya adalah mengecek kunci pintu rumah, mematikan kompor atau lampu, mencuci tangan secara berulang-ulang sampai aktivitas harian Anda terhambat dan Anda tidak bisa mengendalikan rasa cemasnya.

Mengalami masalah tidur dapat dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis.

Jika Anda sering terbangun di tengah malam dengan keadaan gelisah tanpa sebab, ini mungkin merupakan salah satu gejala gangguan kecemasan.

Pasalnya, gangguan kecemasan sangat erat dengan kejadian insomnia, bahkan hampir separuh dari semua penderita gangguan kecemasan mengalami masalah tidur di malam hari.

Penderita gangguan kecemasan akan sering terbangun di tengah malam dengan pikiran yang terus berjalan dan tidak bisa tenang.

Menjadi hal yang wajar bila Anda merasa takut atau tidak percaya diri saat hendak wawancara kerja atau berbicara di muka umum.

Akan tetapi jika ketakutan ini terlalu kuat sehingga Anda malah menghindarinya, bisa jadi Anda mengalami gejala gangguan kecemasan sosial  atau dikenal dengan fobia sosial.

Fobia sosial adalah gangguan kecemasan yang membuat seseorang anti bersosialisasi, misalnya menjadi enggan berbicara melalui telepon atau mengobrol dengan orang lain di sebuah acara.

Penderita fobia sosial akan terus berusaha untuk menghindari keramaian dan memilih untuk menyendiri.

Atau bila penderitanya berhasil melewati masa-masa sulit dalam berinteraksi, mereka cenderung memikirkannya dan bertanya-tanya tentang penilaian orang lain terhadapnya.

Orang yang mengalami fobia sosial biasanya menunjukkan gejala gangguan kecemasan secara fisik dan mudah dikenali.

Gejala-gejala fisik tersebut di antaranya denyut jantung meningkat, berkeringat, mual, gagap, dan tangan gemetar.

Bila Anda merasa mulai menunjukkan salah satu atau beberapa gejala gangguan kecemasan di atas, segera konsultasikan pada dokter Anda.

Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan tes laboratorium untuk memastikan diagnosis, apakah Anda memang terkena gangguan kecemasan tertentu atau masalah kesehatan lainnya.

Jika Anda tidak menunjukkan gejala masalah kesehatan lainnya, dokter kemungkinan akan langsung merujuk Anda ke psikiater atau psikolog untuk diagnosis dan penanganan masalah kesehatan mental Anda.

Komentar