Mengenali Jenis Lemak Yang Paling Jahat

Penulis: Darmansyah

Kamis, 17 Mei 2018 | 10:14 WIB

Dibaca: 1 kali

Tidak semua lemak sama dan perlu dimusuhi.

Seperti ditulis laman “prevention,” tubuh kita juga membutuhkan lemak sehat untuk membentuk hormon, memproduksi energi dan menyerap nutrisi tertentu.

Tapi, ada juga lemak yang berbahaya.

Lemak trans artifisial merupakan contoh dari lemak yang perlu dihindari. Lemak ini biasanya ditemukan pada makanan yang diproses.

Organisasi Kesehatan Dunia  berencana menghilangkan lemak trans artifisial dari semua jenis makanan secara global pada lima tahun mendatang.

Secara umum ada dua jenis lemak trans: yang terjadi secara alami pada makanan dan juga lemak trans artifisial.

Hampir semua jenis daging dan produk susu secara alami menghasilkan lemak trans dalam jumlah kecil di ususnya.

Sehingga jika kita mengonsumsinya, akan ditemukan jejaknya dalam tubuh.

Tapi, menurut American Heart Association, belum banyak penelitian terhadap bahaya dari lemak ini. Lain ceritanya dengan lemak trans artifisial.

Lemak ini dihasilkan dari proses hidrogenasi, yaitu molekul hidrogen ditambahkan dalam lemak cair seperti minyak goreng untuk mengubahnya jadi lemak padat.

Biasanya lemak trans artifisial ini dipakai dalam makanan yang diproses seperti kue-kue kering, keripik kentang, krimer kopi, dan juga makanan yang digoreng.

Sebelum tahun sembilan puluhan, hanya sedikit riset yang meneliti efek lemak ini bagi kesehatan.

Itu sebabnya banyak perusahaan makanan yang menggunakannya karena murah, gampang dipakai, lebih awet, dan membuat makanan terasa enak.

Makanan yang mengandung lemak trans biasanya kadar kalori dan gulanya tinggi.

Dengan begitu bisa menyebabkan kegemukan dan risiko diabetes.

Penelitian tiga tahun lalu pada beberapa negara juga menyimpulkan bahwa konsumsi lemak ini meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung dan membuat kita beresiko sakit jantung.

Efek bahaya Lemak trans dianggap berbahaya karena akan meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) yang bisa menyumbat peredaran darah.

Pada saat yang sama, kadar kolesterol baik turun.

Menurut pakar diet dari UCLA Medical Center, Dana Hunnes PhD, karena kadar HDL rendah, maka kelebihan kolesterol tidak bisa diangkut kembali ke liver untuk dibuang.

“Ini bisa menyebabkan penyumbatan pembuluh darah yang memicu serangan jantung dan stroke. Lemak trans juga merusak lapisan dalam pembuluh darah, sehingga tidak bisa berfungsi optimal,” kata Hunnes.

Lemak trans juga dapat menyebabkan inflamasi peradangan dalam tingkat sel.

Ini merupakan pemicu lain dari penyakit kronis seperti diabetes, jantung, dan sindrom metabolik.

Di beberapa negera bagian Amerika dan Eropa pemerintahnya sudah melarang lemak trans.

Kebijakan itu membuahkan hasil positif.

Menurut data, angka kunjungan pasien serangan jantung dan stroke berkurang enam koma dua persen pada negara-negara yang sudah menjalankan pelarangan tersebut.

Meski begitu jangan keliru antara lemak jenuh dan tidak jenuh, dengan lemak trans. Tubuh kita tetap membutuhkan lemak jenuh dan tidak jenuh sekitar sepuluh persen.

Lemak jenuh dan tidak jenuh bisa ditemukan antara lain pada telur bersama dengan kuningnya, kacang-kacangan, alpukat, ikan berlemak, serta minyak zaitun

Selain itu perlu diperhatikan  faktor obesitas

Faktor ini  paling mengkhawatirkan bagi kesehatan manusia.

Mereka yang dianggap “kelebihan berat badan” biasanya langsung dicap tidak sehat. Namun, sebuah penelitian baru menunjukkan, seseorang tidak harus menjadi gemuk untuk dianggap tidak sehat.

Memang, jika orang tersebut memiliki perut yang “besar”, ada kekhawatiran soal risiko kesehatan, dan bisa berakibat buruk bagi jantung.

Seperti ditulis laman Techtimes, riset yang digelar dalam rentang waktu enam tahun terungkap, responden yang memiliki tingkat indeks massa tubuh  normal, tetapi lemak di perutnya berlebihan, dua kali lebih besar berisiko mendapatkan serangan jantung.

BMI adalah sistem yang digunakan untuk menghitung jumlah massa jaringan pada seseorang untuk mengkategorikan mereka dalam berat badan kurang, normal, atau berlebih.

Dr. Jose Medina-Inojosa dari Mayo Clinic menyatakan, perut adalah tempat pertama orang-orang biasanya menyimpan lemak.

Dari sana bisa muncul masalah jika orang tersebut memiliki jumlah lemak perut yang berlebihan.

“Perut biasanya adalah tempat pertama kami menyimpan lemak.”

“Sehingga orang-orang diklasifikasikan sebagai kelebihan berat badan secara BMI, tetapi tanpa lemak perut mungkin memiliki lebih banyak otot, dan kondisi kesehatannya baik.”

Otot di perut dapat membantu menyingkirkan kadar gula dan lemak. Jadi, jika kita memiliki lemak di sekitar perut dan ukurannya melebihi pinggul, maka Jose Medina-Inojosa menyarankan kita berkonsultasi ke dokter.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Medina-Inojosa menyarankan agar kita berolahraga sebanyak mungkin akan membantu membakar lemak di tubuh.

Kita juga perlu menghindari makanan yang penuh dengan karbohidrat untuk membantu meningkatkan massa otot.

Selain itu, dokter seharusnya tidak boleh berasumsi bahwa seseorang dengan BMI normal tak berisiko mengalami masalah jantung di kemudian hari.

Ia menganjurkan agar para dokter pun memeriksa pasien dengan obesitas sentral demi mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang risiko yang mungkin dialami oleh pasien.

Komentar