Mengenal Psikopat, Sosio dan Gila Kekinian

Penulis: Darmansyah

Senin, 6 Agustus 2018 | 08:20 WIB

Dibaca: 0 kali

“Psikopat” dan “sosiopat” adalah salah  istilah psikologi populer yang sering digunakan secara kasual untuk mendeskripsikan gangguan mental umum, sebagai kata ganti dari “gila” yang lebih kekinian.

Pergeseran makna akibat pengaruh budaya modern ini menjadikan perbedaan karakteristik antara “gila”, “psikopat”, dan “sosiopat” dianggap terlalu remeh dan acap kali bercampur aduk satu sama lain.

Penyakit mental adalah payung istilah medis yang sangat luas.

Sayangnya, banyak orang yang masih salah paham dalam mengartikan atau menggunakan istilah tertentu hingga mengaburkan makna sesungguhnya.

Kita menggunakan kata-kata bermuatan dalam ini dengan mudahnya, melempar ejekan santai yang sebenarnya tidak hanya penuh dengan hinaan, namun juga sangat ketinggalan zaman jika dilihat dari kacamata literatur medis dan kebudayaan.

Perlu dipahami bahwa gangguan mental timbul akibat berbagai macam faktor, sebelum lebih lanjut mengenali perbedaan antara seorang psikopat dan sosiopat.

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders  sosiopati dan psikopati adalah dua tipe gangguan mental yang berada di bawah naungan Antisocial Personality Disorders

Satu fitur kunci yang menempatkan kedua kelompok gangguan mental ini dalam satu kategori spesifik adalah sifat menipu dan manipulatif. Individu dengan psikopati atau sosiopati pada umumnya berperilaku kasar , namun cenderung beraksi menggunakan tipu muslihat untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Dalam berbagai film dan acara TV, psikopat dan sosiopat biasanya adalah penjahat yang senang menyiksa dan membunuh korbannya. Stereotip ini tidak salah-salah amat.

Dua individu berbeda pengidap sosiopati dan psikopati sama-sama memiliki rasa penyesalan dan empati yang minim terhadap orang lain, rasa bersalah dan tanggung jawab yang hampir nol besar, serta mengabaikan hukum dan norma-norma sosial.

Seorang yang mengidap psikopati memiliki semua karakteristik di atas, namun mereka bisa membaur dan menempatkan diri mereka dalam komunitas sekitar dengan sangat baik; sebagai seseorang yang memikat dan sangat cerdas.

Kemampuan sosial seorang psikopat adalah kamuflase dari sifat manipulatif yang penuh perhitungan.

Menurut L. Michael Tompkins, EdD., seorang psikolog di Sacramento County Mental Health Treatment Center, seorang psikopat tidak memiliki kerangka berpikir yang tepat untuk mengembangkan nilai etika dan moral akibat ketidakseimbangan genetik dan reaksi senyawa kimiawi dalam otak.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa otak seorang psikopat memiliki susunan yang berbeda (bahkan mungkin secara struktur fisik) dengan orang awam pada umumnya; sehingga akan sangat sulit untuk bisa mendeteksi seorang psikopat.

Lanjut Tompkins, perbedaan otak juga dapat mempengaruhi fungsi dasar tubuh. Contohnya, saat dihadapkan dengan adegan sadis penuh darah dalam film, detak jantung orang awam akan berdegup lebih cepat dan keras, napas terburu-buru, dan keringat dingin.

Namun semua hal ini tidak berlaku bagi seorang psikopat. Ia malah akan semakin tenang.

Aaron Kipnis, PhD, penulis The Midas Complex, berpendapat bahwa minimnya rasa takut dan penyesalan seorang psikopat dipengaruhi oleh lesi pada bagian otak yang bertanggung jawab untuk rasa takut dan penghakiman, yang dikenal sebagai amigdala.

Psikopat melakukan kejahatan dengan darah dingin. Mereka mendambakan kontrol dan impulsif, memiliki naluri predator, dan menyerang secara proaktif, bukan sebagai reaksi terhadap konfrontasi.

Sebuah studimenemukan kasus pembunuhan psikopat terjadi secara alami (artinya, kurang lebih rangkaian kejahatan tersebut sudah direncanakan dan dikalkulasikan sebelumnya).

Lain halnya dengan seorang sosiopat.

Sosiopati bisa timbul akibat faktor cacat otak bawaan layaknya seorang psikopat.

Namun, asuhan orangtua mungkin memiliki peran yang lebih dalam perkembangan gangguan mental ini.

Sosiopati sama-sama licik dan manipulatif, ia juga biasanya adalah seorang pembohong patologis, terlepas dari kepribadian yang mungkin terlihat tulus.

Bedanya, kompas moral mereka rusak berat.

Individu dengan sosiopati akan lebih memilih untuk tinggal di rumah dan mengasingkan diri dari lingkungan sekitar.

Individu pengidap sosiopati memiliki emosi yang labil dan sangat impulsif — perilaku mereka lebih terlihat sembrono daripada seorang psikopat.

Saat melakukan aksi kejahatan — kasar maupun tidak — seorang sosiopat akan bertindak atas dasar paksaan.

Seorang sosiopat tidak sabar, lebih mudah menyerah pada sifat impulsif dan spontanitas, dan minim persiapan yang mendetail.

Kesimpulannya, walaupun kedua gangguan mental ini disebabkan oleh ‘korslet’ otak yang memengaruhi fungsi kognitif, namun area kerusakannya sama sekali berbeda.

Psikopat tidak kenal takut; sosiopat masih punya rasa takut. Psikopat tidak punya kemampuan membedakan mana yang benar dan salah; sosiopat punya

Keduanya sama-sama mampu untuk merusak — dan mereka sama-sama tidak peduli.

Komentar