Mag, Penyakitnya Eksekutif

Penulis: Darmansyah

Jumat, 15 Februari 2013 | 15:48 WIB

Dibaca: 6 kali

SAKIT  mag, kini,  menjadi  favorit di kalangan eksekutif muda. Cobalah nimbrung ke dalam komunitas ini. Pasti akan menjalar keluhan  tentang perut perih, kembung, mulut masam dan pencernaan yang “nyut..nyut…”

Ketidakteraturan, stress akibat tekanan pekerjaan, dan sering melewatkan waktu makan merupakan jawaban yang spesifik sebagai identifikasi kalangan ini . Mereka, sepertinya, membual dengan ria tentang penyakitnya dengan gaya “entertainment” tanpa merasa bersalah dengan pola hidup yang dijalani.

Pakar kesehatan pencernaan dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Dr Ari Fahrial Syam, SpPD, KGEH, mengungkapkan, prevalensi terjadinya sakit mag pada masyarakat di Indonesia, terutama di perkotaan, yang menuntut kerja keras dan waktu yang tidak pernah cukup mengalami peningkatan yang sangat tajam selama lima tahun terakhir.

Penelitian  terakhir pada yang dilakukan lembaganya pada  masyarakat Jakarta  menemukan kasus yang mencengangkan. Hampir 50 persen masyarakat Jakarta menderita sakit mag.”Sebagian besar sakit mag yang terjadi di masyarakat adalah sakit mag fungsional,” kata Ari.

Hal ini terjadi karena keluhan sakit mag yang timbul pada pasien akibat ketidakteraturan makan, konsumsi makanan camilan, seperti makanan yang berlemak, asam, dan pedas sepanjang hari, konsumsi minuman bersoda dan minum kopi, merokok, serta faktor stres.

Ari menjelaskan, agar seseorang dapat terbebas dari sakit mag, selain obat-obatan, pengendalian stres, istirahat yang cukup, dan mengatur pola makan, mereka juga harus tetap melakukan olahraga yang teratur.

Selain itu, ada beberapa makanan dan minuman yang juga harus diperhatikan agar dibatasi atau dihindari untuk dikonsumsi.  Ari menyebut pola ini sebagai 4 H tambah 1 S yaitu:
Hindari makanan minuman yang banyak mengandung gas dan terlalu banyak serat, antara lain sayuran tertentu (sawi, kol), buah-buahan tertentu (nangka, pisang ambon), makanan berserat tertentu (kedondong, buah yang dikeringkan), dan minuman yang mengandung gas (seperti minuman bersoda).

Hindari makanan yang merangsang pengeluaran asam lambung antara lain: kopi, minuman beralkohol 5 persen-20 persen, anggur putih, sari buah sitrus atau susu full cream.
Hindari makanan yang sulit dicerna yang dapat memperlambat pengosongan lambung. Sebab, hal ini dapat menyebabkan peningkatan peregangan di lambung yang akhirnya dapat meningkatkan asam lambung, antara lain makanan berlemak, kue tar, cokelat, dan keju.

Hindari makanan yang secara langsung merusak dinding lambung, yaitu makanan yang mengandung cuka dan pedas, merica, dan bumbu yang merangsang. Makanan yang melemahkan klep kerongkongan bawah sehingga menyebabkan cairan lambung dapat naik ke kerongkongan, antara lain alkohol, cokelat, makanan tinggi lemak, dan gorengan.

Selain makanan minuman di atas, ada beberapa sumber karbohidrat yang harus dihindari oleh penderita sakit mag, antara lain beras ketan, mi, bihun, bulgur, jagung, ubi singkong, talas, dan dodol. Kegiatan yang meningkatkan gas di dalam lambung juga harus dihindari, antara lain memakan permen khususnya permen karet dan merokok.

Penyakit mag, kata Ari, adalah penyakit “gastritis” dimana kondisinya  sangat mengganggu aktivitas. Bila tidak ditangani dengan tepat dapat berakibat fatal. Sakit mag, seperti juga diamini  medical executive PT Kalbe Farma dr Helmin Agustina Silalahi, kini berkecendurangan  dialami oleh mereka yang masih dalam usia produktif. “Hasil survei yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) belum lama ini, sekitar 50 persen lebih  penduduk Jakarta yang termasuk dalam usia produktif sudah terkena maag.”

Bahkan, kata Helmin, pada anak-anak sendiri sudah ada sekitar 27 persen yang mengidap sakit mag. Helmin menduga, tingginya angka kejadian tersebut lantaran masih banyak masyarakat, khususnya anak-anak muda, yang menganggap sepele keberadaan penyakit maag.

“Bahkan kalau ditanya kamu sakit mag? Dia pasti tidak akan ngaku. Tetapi setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata gejala-gejala yang dialami benar-benar sakit maag,” imbuhnya. Diungkapkan Helmin, masalah kesehatan pada usia muda memang tidak terlalu diperhatikan. Pasalnya, banyak yang berpikir hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan dapat sembuh dengan sendirinya.

“Karena menurut mereka kalau ada gangguan mual-mual, sakit uluh hati enggak apa-apalah, nanti juga hilang,” jelasnya. Padahal, lanjut Helmin, apabila sakit maag dibiarkan berlarut-larut dan tidak ditangani dengan baik, bisa berujung pada kanker lambung.”Kalau sudah kanker, sulit untuk disembuhkan,” imbuhnya.

Sakit mag, papar Helmin, merupakan kumpulan dari beberapa gejala seperti nyeri di uluh hati, mual, muntah, lemas, perut kembung, dan cepat kenyang. Lebih lanjut Helmin mengatakan, tingkat keasaman (pH) di lambung pada orang sehat umumnya sekitar 4-5 (pH), namun pada penderita sakit maag bisa sampai 1 pH (sangat asam).

“Kalau sudah kena, banyak pantangannya. Harus hindari makanan yang pedas, asam, bersantan, serat tinggi, dan daging kambing. Karena dapat meningkatkan produksi asam lambung,” tandasnya.(Sumber Penlitian FKUI)

 

Komentar