Leukemia, Tentu, Bukan Hanya Cut Rika

Penulis: Darmansyah

Kamis, 18 April 2013 | 12:21 WIB

Dibaca: 1 kali

Leukemia, ternyata bukan hanya Cut Rika. Penyakit kanker darah yang berasal dari kata Yunani Kuno,  leukos dan alma, yang berarti  putih dan darah,  tercatat tidak hanya menyerang orang dewasa tetapi juga banyak diidap oleh anak-anak.

Leukemia yang oleh ilmu kedokteran dikatagorikan sebagai kanker pada darah dan sumsum tulang belakang ditandai dengan tak terkendalikannya pembiakan darah putih yang bertransformasi dalam pembentukan darai di limfoid. Sel-sel yang normal dalam pembentuka lekosit akan digantikan oleh sel abnormal.

Sel normal terusir dari sumsum tulang belakang dan ditemukan di dalam darah tepi yang istilah kedokterannya perifer. Akibat membiaknya darah  putih disumsum tulang belakang penderita mengalami degradasi imunitas akibat darah merahnya menipis. Uoaya pengobatan awalnya, biasanya dengan tranfusi untuk kemudian dilakukan terapi kemo.

Melalui kemotherapi ini, yang prosesnya sangat panjang, penderita bisa disembuhkan dengan tetap menjaga pertumbuhan darah merah dengan asupan makanan dan obat-obatan.

Dalam penelitian yang dilakukan di awal tahun 2000-an, sembilan persen dari penderita leukemia adalah orang dewasa. Tapi selama satu decade terakhir terjadi pergeseran nukan cuma orang dewasa yang bisa terkena kanker darah yang mematikan ini, tapi anak-anak pun tak luput dari penyakit paling ditakuti ini.

Jenis kanker yang paling sering ditemukan pada anak adalah leukemia atau kanker darah. Boleh dikatakan hampir 70 persen kanker pada anak adalah leukemia. Di urutan selanjutnya adalah kanker padat seperti kanker mata, ginjal, atau tulang.

Leukemia terjadi ketika sumsum tulang memproduksi sel darah putih (leukosit) secara berlebihan. Sebagian sel darah putih itu berubah sifat menjadi ganas. Akibatnya, sel darah putih yang seharusnya menjadi “tentara” untuk melindungi tubuh justru menekan trombosit (keping darah) dan eritrosit (sel darah merah).

Karena mengalir bersama darah, sel darah putih menyebar termasuk ke otak, gusi, kulit, tulang, hati, limpa, dan testis. Serangan sel darah putih yang mengganas itu bisa dilihat sebagai gejala.

Para orangtua mesti curiga dan waspada jika anak menunjukkan gejala-gejala 3P. Ada tiga gejala utama, yakni anak tampak pucat, panas atau demam tanpa diketahui penyebabnya, serta ada perdarahan dengan pembesaran organ atau benjolan di getah bening.

Petunjuk dari 3P ini pernah menyebabkan Cut Rika, seperti yang pernah di tulis “nuga.co,”  terpaksa mencari jawaban yang panjang hingga ke Penang dan Singapura untuk memastikannya sebagai penderita leukemia. Seperti dikatakan keluarga Cut Rika, jawaban ini mereka cari hampir satu tahun setelah anaknya drop ke tingkat paling rendah.

Kini Cut Rika, yang dulunya penghuni sebuah kamar di sal Seruni bagian  kemotherapi, di Rumah Sakit Zainoel Abidin, memang sudah bisa pulang untuk terus berobat jalan. Ia juga terselamatkan dari segi biaya oleh program Jaminan Kesehatan Aceh yang pengelolaanya ditangani Askes dengan sangat baik.

Belajar dari kasus Cut Rika, maka orang tua diingat apabila terjadi gejala perdarahan yang dialami anak  di gusi, hidung, atau bintik-bintik kemerahan di bawah kulit mirip dengan gejala demam berdarah haruslah di diagnose dengan cepat dan tepat. “Jika ada gejala-gejala itu hampir 80 persen adalah leukemia,” menurut jurnal kesehatan yang dituliskan oleh para dokter.

Untuk memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan darah tepi untuk mengetahui jumlah haemoglobin, leukosit, dan trombosit. Selain itu perlu diperiksa sumsum tulang belakang.

Pesatnya dunia kedokteran dan pengobatan menjadikan usia harapan hidup pasien kanker lebih tinggi dibandingkan satu dasawarsa terakhir. Hharapan hidup pasien leukemia, seperti yang pernah diderita oleh Cut Rika,  kini sudah lebih dari 50 persen.

Tinggi rendahnya harapan hidup pasien, jelas Bambang, ditentukan oleh dua hal, penemuan kanker pada stadium awal serta kepatuhan pasien dalam pengobatan. Pengobatan utama leukemia adalah kemoterapi.

Sayangnya bagi pasien yang tidak mampu, pengobatan seringkali terputus. Bahkan meski biaya pengobatan sudah ditanggung pemerintah, namun banyak dari mereka yang tak punya biaya untuk bolak-balik ke rumah sakit. Padahal, pengobatan leukemia memakan waktu berbulan-bulan bahkan tahunan.

Di Aceh, seperti ditelusuri oleh “nuga.co,” penderita leukemia tidak tercatat dengan rapi karena pasien kebanyakan beriobat ke luar daerah dan luar negeri. Di RSUD Zaiboel Abidin saja jumlah masih bisa dihitung dengan jari. Dan di rumah sakit daerah hampir sama sekali tidak ditemukan catatan penderita. Padahal, menurut seorang dokter kepada “nuga.co,” jumlahlnya bisa puluhan.

Khusus tentang penyebab dari semua kanker, termasuk leukemia, para ahli kesehatan belum menemukan, Secara final belum ada sebuah kesimpulan tentang penyebab penyakit ini. Para p[eneliti masih meraba dan sebagian lainnya mengatakan kemungkinan yang  berkaitan dengan peningkatan industri sehingga pencemaran pun meningkat.

 

 

 

 

Komentar