Lemak Itu Menggoda, Tapi Bahaya

Penulis: Darmansyah

Senin, 18 Maret 2013 | 16:30 WIB

Dibaca: 3 kali

Coba, siapa yang mampu menolak godaan nasi Padang dengan menu rendangnya yang asyik. Atau soto Medan dengan kuah santannya yang mengapung lemak. Dan banyak orang yang bertekuk lutut dengan gulai kepala ikan kakap yang disiram kuah santan kental. Belum lagi kalau kenduri di Aceh, akan belum sah jika tidak disertai kuah “belangong” yang lemaknya mengapung ke permukaan.

Nah, ingin menurunkan berat badan tanpa diet lemak yang ketat? Tentu sulit syaratnya, dan omong kosong tanpa membatasi asupan kuliner seperti jenis diatas. Jangan berharap kalau ingin mengecilkan lingkaran pinggang tapi rutin mengisi lambung dengan makanan berlemak.

Asupan yang “uenak…” tak terkirakan itu selalu menggoda selera, tapi bisa pula mencelakakan. Tak percaya? Telusurilah para pemamah kuliner jenis ini dan catat berapa orang di antara mereka yang memiliki kelainan tekanan darah dan berapa angka kolesterolnya.

Tak perlu menunggu jawaban lanjutan, penelitian terbaru yang dilakukan tim dari Inggris membuktikan bahwa tanpa mengurangi lemak jangan pernah berharap bisa mengecilkan ukuran pinggang.

Dalam laporan di British Medical Journal, para peneliti mennganjurkan para pemilik lingkar pinggang yang melar untuk secara konsisten memilih asupan rendah lemak. Dengan memilih asupan ini akan bisa menurunkan berat badan sekitar 1,5 kilogram ditambah bonus penurunan kolesterol jahat dan pinggang yang lebih ramping.

Kesimpulan itu dihasilkan dari analisa 33 penelitian yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang melibatkan 70.000 partisipan. Penelitian itu dimaksudkan untuk memperbaharui rekomendasi global mengenai asupan lemak.

Penurunan asupan lemak terkait erat dengan penurunan kadar kolesterol dan tekanan darah. Karena itu para peneliti menyebutkan membatasi lemak juga akan menekan risiko penyakit jantung dan penyakit lain yang disebabkan oleh obesitas.

Secara umum, tujuan utama pembatasan lemak bukan pelangsingan. Tetapi para partisipan yang membatasi asupan lemaknya berhasil menurunkan berat badan 1,5 kilogram dan konsisten selama 7 tahun.

“Dalam berbagai penelitian, kami temukan fakta bahwa mengurangi asupan lemak bisa membuat penurunan berat badan bertahan lama. Mereka yang mengurangi lemak lebih banyak, berat badannya juga turun lebih banyak,” kata Lee Hooper, salah satu peneliti.

Dia menjelaskan bahwa membatasi asupan makanan berlemak memang tidak akan menghasilkan penurunan berat badan secara dramatis seperti halnya melakukan diet. Tetapi, makin sedikit lemak diasup, makin kecil risiko kegemukan.

Membatasi lemak bukan berarti menghindari lemak sama sekali. Tetapi misalnya memilih susu rendah lemak, atau memilih daging tanpa lemak. Kita juga bisa memilih makanan yang merupakan sumber lemak baik seperti ikan, kacang-kacangan, minyak zaitan, atau buah alpukat.

“Yang harus diingat, ini bukanlah diet sehingga hasilnya juga tidak ekstrem. Tetapi pola makan seperti ini lebih tahan lama dibanding diet,” katanya.

Jangan langsung merasa senang dulu jika ternyata berat badan Anda di timbangan termasuk ideal. Selain mengukur berat badan, kita juga perlu mengetahui komposisi lemak tubuh yang sangat penting untuk menentukan kesehatan dan penampilan.

Lemak tubuh memiliki konotasi yang negatif, padahal dalam proporsi yang tepat lemak merupakan bagian penting dari pola makan dan juga kesehatan.

Pada zaman nenek moyang kita, kemampuan mereka menyimpan ekstra lemak tubuh berpengaruh besar pada kemampuan bertahan hidup saat bencana kelaparan, yakni ketika makanan atau buruan sulit didapat.
Bahkan di masa sekarang lemak juga diperlukan untuk menjalankan fungsi tubuh, menjaga panas tubuh, dan melindungi organ dari trauma. Pada wanita, lemak tubuh juga dibutuhkan untuk mendukung fungsi kesuburan dan sistem hormonal.

Masalahnya adalah ketika tubuh kita menyimpang lemak terlalu banyak. Ini akan memancing berbagai masalah kesehatan, mulai dari kolesterol tinggi, hipertensi, intoleransi glukosa, sampai resistensi insulin. Lebih berbahaya lagi jika lemak tertimbun di bagian pinggang atau pinggul.

“Lemak tubuh pada pria normalnya sekitar 8-15 persen dari total berat badan, sedang pada wanita antara 20-30 persen,” kata Caroline Apovian, direktur Centre for Nutrition and Weight Management di Boston Medical Center.

Juga perlu menjadi perhatian, komposisi lemak berlebih ternyata tidak selalu terjadi pada mereka yang berat badannya berlebih. Ini berarti, orang yang berat badannya normal, atau bahkan tergolong kurus pun, bisa memiliki lemak tubuh yang tinggi.

Sebenarnya ada beberapa cara pengukuran lemak tubuh. Menurut Mary M.Flynn, peneliti bidang gizi, yang paling akurat adalah mengukur di bawah air, yakni melihat berat seseorang saat di darat dan di bawah air. “Tetapi peralatan untuk itu sangat mahal dan belum banyak tersedia,” katanya.

Cara lain yang cukup akurat adalah Bioelectric Impedance Analysis (BIA). Alat pengukuran ini mengandung elektroda yang ditempatkan di tangan dan kaki sementara arusnya melewati seluruh tubuh. Biasanya di pusat kebugaran atau rumah sakit terdapat alat ini.

Metode paling sederhana adalah mengukur lingkar pinggang dan menentukan indeks massa tubuh. Lingkar pinggang lebih dari 35 inchi pada wanita dan 40 inci pada pria harus diwaspadai.

Meski begitu, penghitungan indeks massa tubuh tidak bisa menjadi indikator lemak tubuh, terutama pada atlet dan para binaragawan. Anak berusia di bawah 18 tahun juga tidak tepat jika diukur memakai indeks massa tubuh.

Cara lain untuk menentukan lemak tubuh adalah menggunakan semacam jangka kulit untuk mengukur lemak pada tempat spesifik di tubuh. Tetapi cara ini lebih rentan keliru.

Komentar