Lapar Terus, Awas Itu Penyakit Lho!

Penulis: Darmansyah

Selasa, 4 Oktober 2016 | 08:42 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda terus merasakan lapar berkepanjangan?

Kalau iya ada sesuatu yang salah dan salah satunya, menurut laman situs “daily meal,” Selasa, 04 Oktober 2016, karena dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh

Bagi kebanyakan orang, urusan makan memang  dilakukan pada saat lapar saja.

Tapi ada sebagian lain merasakan hal yang berbeda: selalu ingin makan lagi dan lagi.

Untuk Anda tahu, kekurangan cairan dapat menyebabkan tubuh merasa lebih letih dibanding biasanya.

Kondisi ini merangsang tubuh untuk ‘meminta’ kalori lebih guna mengganti situasi letih yang dirasakan tubuh. Inilah yang merangsang timbulnya perasaan ingin makan.

“Kondisi ini terjadi di hipotalamus, atau bagian otak yang mengatur rasa ingin makan dan haus.”

“ Ketika dehidrasi yang dirasakan, sensasi tersebut saat melewati hipotalamus dapat diartikan untuk mengambil keripik kentang, alih-alih air mineral,” kata Alissa Rumsey, dari American Academy of Nutrition and Dietetics.

Dalam sebuah pengujian pada tikus yang dirilis di jurnal Cell Reports ditemukan fakta bahwa ketika hormon glukagon-like peptide-1  berkurang di pusat sistem saraf, tikus cenderung akan mengonsumsi berlebih dan tinggi lemak.

Sebaliknya, ketika kandungan hormon ini meningkat, tikus akan cenderung makan lebih sedikit dan kurang tertarik pada makanan berlemak.

Para peneliti percaya, sistematika ini sama seperti dalam kasus kecanduan obat dan alkohol.

Zhiping Pang, asisten profesor dari Rutgers University mengatakan bahwa makan secara berlebihan atau adiksi makanan, dapat dikategorikan gangguan pada saraf-psikiatrik.

Seperti yang dilansir Daily Meal, dengan memahami peran sistem saraf dalam pola konsumsi melalui GLP-1,

Pang mengatakan akan mungkin menyediakan terapi yang lebih spesifik dan minim efek samping.

Sebuah penelitian lainnya yang dilakukan oleh University of Princeton menemukan bahwa ketika seseorang mengonsumsi gula, gula akan merangsang pelepasan senyawa setara dengan opioid dan dopamin yang berpontensi menyebabkan ketagihan.

Kondisi ketagihan makanan ini terkait dengan perubahan senyawa kimia pada otak yang mirip ketika seseorang ketagihan obat-obatan.

Ini menegaskan anggapan bahwa mengonsumsi gula membuat seseorang ketagihan

Banyak makanan berkadar lemak tinggi yang selama ini ‘dituding’ menjadi biang keladi masalah kesehatan, terutama bila dikonsumsi dalam jumlah banyak. Keju, salah satunya.

Namun menurut hasil penelitian terkini yang dilansir American Journal of Clinical Nutrition, seperti yang ditulis laman situs “Huffington Post,” ternyata mengonsumsi olahan susu berupa keju berkadar lemak tinggi justru menyehatkan.

Para peneliti dari University of Copenhagen menemukan fakta si kuning nan lezat ini bermanfaat bagi jantung.

Ia ‘berjasa’ meningkatkan level high-density lipoprotein kolesterol baik yang melindungi dari penyakit kardiovaskular dan metabolis.

Dalam riset ini, para peneliti melibatkan seratusan responden dewasa selama periode dua belas pekan untuk mengetahui dampak konsumsi keju berkadar lemak tinggi bagi tubuh.

Para responden dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing dengan konsumsi keju berbeda.

Pembagiannya: Satu kelompok mengonsumsi delapan puluh gram berkadar lemak tinggi setiap hari, satu kelompok lain memakan delapan puluh gram keju berkadar lemak rendah setiap hari, dan satu kelompok lagi tidak menyantap keju, melainkan sembilan puluh gram roti selai setiap hari.

Lalu, para peneliti mengukur level HDL para responden di tiga kelompok. HDL dikenal sebagai kolesterol baik, sedangkan LDL populer sebagai kolesterol jahat.

Hasilnya, konsumsi keju berkadar lemak tinggi ternyata tak seburuk sangkaan orang.

Tak ditemukan adanya perubahan signifikan dalam level kolesterol jahat antara kelompok yang mengonsumsi keju berkadar lemak tinggi atau berkadar lemak rendah.

Juga tak ada perbedaan besar di kelompok dengan keju berkadar lemak tinggi atau tanpa keju.

Para penggemar keju bakal senang dengan hasil penelitian ini.

Sebab para responden yang memakan keju berkadar lemak tinggi justru memperlihatkan peningkatan level HDL kolesterol baik, dibandingkan para responden yang tidak memakan keju sama sekali.

Ketiga kelompok juga diteliti lebih lanjut untuk mengetahui faktor kesehatan, macam insulin, glukosa, triglycerides, tekanan darah dan lekuk pinggang, setelah memakan atau tidak memakan keju.

Hasilnya, tidak ada perbedaan signifikan antarkelompok.

Keju memang sumber yang baik untuk protein, kalsium dan vitamin D, asalkan Anda tidak mengonsumsinya secara berlebihan secara rutin.

Sejumlah penelitian terdahulu juga menyatakan keju baik bagi kesehatan. Ini tentu saja menguntungkan bagi pabrik susu.

Namun hasil penelitian ini hanya mengukur konsumsi banyak keju dalam kurun terbatas.

Sementara dampak konsumsi banyak keju dalam kurun lama, belum diketahui.

Komentar