Lama Tidur Itu Ditentukan Oleh Kebiasaan

Penulis: Darmansyah

Selasa, 9 Februari 2016 | 09:40 WIB

Dibaca: 0 kali

Lama tidur?

Ya. Hampir seluruh hasil studi yang disepakati para ilmuwan, tujuh jam.

Apa itu “harga” mati?

Jawabannya, “nggak.”

Paling tidak itu yang dikemukakan para ilmuwan di Harvard University yang menegaskan waktu tidur itu ditentukan oleh banyak faktor.

Selain faktor usia waktu tidur sangat ditentukan oleh kebiasaan seseorang.

Menurut studi itu, seseorang bisa tidur dengan nikmat dan sehat hanya dalam waktu empat jam.

Sementara itu sebuah badan nirlaba, National Sleep Foundation dan puluhan ilmuwan medis terkemuka mengevaluasi lebih dari tiga ratus studi mengenai waktu tidur.

Jawaban singkat dari pertanyaan di atas adalah saman dengan hasil terbaru studi ilmuwan di Harvard. Tergantung.
Kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda, tergantung metabolisme dan aktivitas serta usianya.

Namun, laporan terbaru National Sleep Foundation yang diterbutkan dalam Sleep Health Journal mengungkapkan, daftar waktu tidur ideal yang telah diperbarui untuk setiap kelompok umur.

Lantas bagaimana dengan tidur yang tidak sempurna akibat karakteristik seseorang yang sulit tidur, atau biasa dikenal dengan sebutan insomnia?

Seperti kita tahu “insomnia” adalah sebuah kondisi seseorang sulit tidur.

Namun, perlu diketahui bahwa diagnosis insomnia sendiri tidak dapat diberikan begitu saja tanpa pemeriksaan oleh ahli kesehatan, seperti dokter, psikolog, atau psikiater.

Kemunculan insomnia dapat mengganggu fungsi harian orang yang mengalaminya, karena jumlah waktu tidur yang tidak efektif akan berakibat pada penurunan konsentrasi dan energi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Insomnia juga biasanya akan membuat orang menjadi lelah, baik secara fisik maupun psikologis.

Maka, tidak heran jika orang yang mengalami insomnia, selain akan terlihat lemas, juga bisa menjadi mudah tersinggung atau mudah marah daripada biasanya.

Itulah sebabnya, jika tidak ditangani dengan baik, insomnia dapat membawa pengaruh negatif kepada berbagai aspek dari kehidupan orang yang mengalaminya.

Insomnia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari alasan yang terkait dengan kondisi fisik atau fisiologis, hingga alasan psikologis.

Alasan yang terkait dengan kondisi fisik ini bisa jadi sangat sederhana seperti keadaan ruang tidur yang kurang nyaman, suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin, atau kebisingan.

Contoh lain misalnya disebabkan oleh adanya perubahan shift kerja hingga mengharuskan seseorang terjaga sepanjang malam, atau misalnya perubahan zona waktu setelah menempuh perjalanan lintas negara atau lintas benua.

Kondisi-kondisi yang memaksa perubahan dalam rutinitas tidur seperti ini dapat mengganggu ritme tidur seseorang hingga menyebabkan munculnya insomnia.

Sementara itu, faktor psikologis penyebab insomnia dapat berupa adanya beban pikiran yang menumpuk, tekanan dalam pekerjaan, dan alasan-alasan lain yang membebani kondisi psikologis seseorang hingga membuatnya sulit tidur.

Oleh karena itu, ada orang-orang yang mengalami insomnia sebagai konsekuensi dari kesulitan menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam hidupnya.

Dalam level yang akut dan kronis, insomnia biasanya perlu ditangani secara intensif dengan terapi atau pengobatan dari ahli kesehatan.

Selain dapat ditangani melalui medikasi atau obat-obatan yang diberikan oleh dokter atau psikiater, insomnia juga dapat ditangani dengan terapi psikologis oleh psikolog.

Namun, di luar penanganan ahli tersebut, ada pula cara-cara sederhana mengatasi insomnia yang dapat coba dipraktekkan secara mandiri, terkait dengan memperbaiki kebiasaan dan gaya hidup sehari-hari.

Langkah pertama bisa dimulai dengan memastikan bahwa kondisi ruang tidur telah dibuat senyaman mungkin dari sisi temperatur, pencahayaan, kesunyian, dan kebersihan.

Memasang aromaterapi juga dapat menjadi ide untuk menciptakan ruang tidur yang lebih nyaman, namun perlu diperhatikan bahwa aromaterapi yang dipilih aman untuk pernapasan.

Selain menyiapkan ruang tidur yang nyaman, kebiasaan sehari-hari juga perlu diperhatikan dan dimodifikasi menjadi lebih sehat.

Misalnya, makanan dan minuman yang mengandung kafein dan coklat perlu dikurangi dan tidak boleh dikonsumsi sama sekali sejak sore hari.

Kalaupun memang tidak bisa dihindari, konsumsi kafein perlu dikendalikan untuk hanya dikonsumsi di pagi atau siang hari saja.

Insomnia juga dapat coba diatasi dengan membiasakan latihan relaksasi atau yoga atau meditasi secara rutin.

Latihan-latihan tersebut dapat membantu mendatangkan efek rileks pada tubuh, pikiran, dan perasaan, hingga membuat tidur lebih teratur.

Melakukan relaksasi di atas tempat tidur menjelang tidur juga dapat mengundang rasa kantuk hingga perlahan jatuh tertidur.

Selain itu, mempelajari teknik menyelesaikan masalah juga dapat menjadi cara tidak langsung untuk mengatasi insomnia, terutama jika insomnia yang muncul utamanya disebabkan oleh tekanan akibat masalah yang sedang dialami.

Teknik menyelesaikan masalah biasanya difokuskan pada upaya mencari solusi-solusi konkret yang paling mungkin untuk dilakukan, serta mencoba melakukannya dan mengevaluasi hasil dari solusi tersebut, hingga masalah pun akan teratasi secara perlahan.

Jika dibutuhkan, saran dari orang terdekat yang dipercaya dapat juga mendukung upaya menyelesaikan masalah tersebut.

Cara-cara yang telah dijabarkan di atas dipercaya bisa membawa manfaat mengatasi insomnia.

Selain itu, yang juga penting, cara-cara tersebut dapat dilakukan secara mandiri dan bisa menjadi kebiasaan hidup yang sehat jika terus dipertahankan menjadi rutininas

Komentar