Kunci Mencegah Depresi Kambuh Kembali

Penulis: Darmansyah

Rabu, 9 Mei 2018 | 10:34 WIB

Dibaca: 2 kali

Depresi?

Ya, depresi i memang sebuah penyakit mental kronis yang menetap

Itu i bukan berarti gejalanya terus-terusan terjadi setiap saat.

Kebanyakan orang yang memiliki depresi bisa saja beraktivitas dan bekerja seperti biasa, tapi sebenarnya dalam hati sudah kehilangan minat dan makna akan hal-hal yang dilakukan.

Gejala depresi pun bisa kambuh kembali suatu saat. Orang yang sudah pernah mengalami depresi punya risiko lima puluh persen lebih besar mengalami kekambuhan, bahkan intensitasnya bisa lebih serius.

Maka, penting bagi Anda untuk mencegah depresi kambuh. Apa saja langkah-langkah mencegah depresi kambuh kembali? Simak di bawah ini.

Pengobatan adalah salah satu pilar penting untuk mencegah depresi kambuh kembali — baik itu lewat sesi konseling dengan psikolog kepercayaan Anda, minum obat antidepresan, maupun kombinasi keduanya.

Jika Anda diresepkan obat antidepresan, jangan berhenti mengonsumsinya secara mendadak tanpa sepengetahuan dokter.

Jangan pula sembarangan mengubah dosisnya sebagai upaya mempercepat penyembuhan atau menghindari risiko efek samping obat.

Melakukan hal ini justru akan berbalik merugikan kesehatan Anda ke depannya.

Selalu konsultasikan dengan dokter jika Anda mengkhawatirkan efek samping yang mungkin timbul ataupun ada kekhawatiran lainnya seputar kondisi Anda. Penting juga membekali diri dengan strategi coping untuk membantu mengurangi stress yang bisa memicu depresi kambuh.

Kurang tidur merupakan salah satu faktor munculnya depresi, sehingga gejala depresi akan lebih berisiko untuk kambuh ketika Anda sering begadang.

Untuk memastikan Anda selalu tidur cukup, setidaknya tujuh hingga delapan jam setiap malam, Anda bisa melakukan beberapa perubahan sederhana ala pedoman clean sleeping

Hindari makan porsi besar tiga jam sebelum tidur, termasuk minuman berkafein seperti teh, kopi, soda, dan minuman energi. Hindari juga minum alkohol dan merokok sebelum tidur.

Pastikan tidur dan bangun di waktu yang sama setiap hari, bahkan di hari libur sekalipun. Misalnya, jika Anda butuh bangun tidur pukul enam pagi maka Anda seharusnya sudah harus pergi tidur kurang lebih pukul sebelas malam.

Pasang alarm pengingat untuk membantu Anda.

Luangkan waktu untuk melakukan rutinitas persiapan tidur dalam sembilan puluh menit sebelum waktu tidur Anda.

Misalnya, jika Anda harusnya tidur pukul sebelas malam, hentikan apapun aktivitas fisik yang melelahkan fisik dan mental pada pukul sembilan tiga puluh malam, atau lebih cepat jika memungkinkan.

Batasi tidur siang maksimal hanya tiga p[uluh menit dan lakukan sebelum jam tiga sore.

Pastikan kamar tidur Anda adalah tempat yang gelap, sejuk, dan tenang

Anda sendirilah yang paling memahami seperti apa diri Anda, juga mengenali seperti apa orang-orang di sekitar Anda.

Kelilingilah diri Anda dengan orang-orang yang benar tulus mencintai dan peduli dengan Anda.

Kurangi interaksi dengan orang-orang yang membuat Anda mudah merasa tertekan dan rendah diri.

Jika Anda merasa lebih baik untuk memutuskan kontak dengan mereka, keputusan ada di tangan Anda sendiri dan Anda berhak atas itu.

Berbagai studi telah menunjukan penggunaan media sosial berlebihan berkaitan dengan ketergantungan yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas berinteraksi sosial. Pada akhirnya, hal ini dapat memicu depresi kambuh.

Tentukan durasi maksimal Anda berinteraksi di dunia maya dalam sehari, misalnya cukup 2 jam saja, dan gunakan alarm atau stopwatch untuk mengontrol penggunaan sosial media Anda.

Kurangi juga kunjungan ke berbagai web atau aplikasi yang biasa Anda gunakan

Mencari kegiatan lain juga bisa mengurangi intensitas Anda bermain di media sosial. Semakin sibuk Anda, tentu semakin sedikit waktu untuk Anda terpaku pada sosial media.

Coba alihkan perhatian Anda pada olahraga atau kumpul bersama orang-orang terdekat.

Lama-lama, Anda akan terbiasa hanya menggunakan media sosial ketika ingin melakukan sesuatu dan bukan karena membutuhkan suatu hal untuk dikerjakan.

Studi oleh CDC di Amerika Serikat menunjukan ada hubungan erat antara mengalami obesitas dengan depresi.

Hal tersebut juga berkaitan erat dengan pola makan. Pemilihan jenis makanan yang kurang sehat seperti tinggi lemak dan gula akan mengurangi keinginan untuk memilih makanan sehat.

Akibatnya secara tidak langsung tubuh akan mengalami kekurangan nutrisi penting lainnya untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.

Beraktivitas fisik dapat meningkatkan metabolisme dan meningkatkan suhu tubuh dan memicu efek menenangkan pada sistem saraf pusat.

Saat aktif bergerak tubuh membantu proses sekresi hormon endorfin yang dapat memperbaiki mood. Aktif beraktivitas fisik juga dapat menurunkan kimia tubuh yang dapat memperburuk kondisi depresi.

Untuk memulai aktif beraktivitas fisik dapat dilakukan dengan aktif bergerak dalam melakukan pekerjaan atau mengikuti kelas olahraga tertentu.

Menjadikan hal tersebut sebagai rutinitas merupakan hal terbaik untuk mencegah depresi kambuh.

Penyakit kronis seperti stroke dan diabetes merupakan penyakit yang dapat dengan mudah memicu gejala depresi.

Melakukan manajemen penyakit dengan tepat seperti dengan pengobatan teratur dan penanganan dini diperlukan untuk mencegah penyakit bertambah parah.

Selalu konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat ketika penyakit kronis dialami bertambah buruk.

Hal ini memerlukan pengenalan terhadap faktor pemicu depresi dengan tepat.

Suatu kondisi seperti mengingat orang terdekat yang telah meninggal, mengingat perceraian atau interaksi yang tidak bisa dihindari dengan seseorang yang membuat Anda tidak nyaman dapat memicu gejala depresi kambuh.

Komentar