Kuat Hubungan Diabetes dengan Demensia

Penulis: Darmansyah

Selasa, 30 Agustus 2016 | 14:56 WIB

Dibaca: 5 kali

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan terjalinnya hubungan yang sangat erat antara  penyakit diabetes dengan daya ingat manusia.

Dan kesimpulannya adalah orang dewasa dengan riwayat penyakit diabetes yang jarang dikontrol sangat mungkin mengalami kesulitan mengingat hal tertentu dalam hidupnya secara mendetil.

Kondisi tersebut lebih dikenal dengan istilah memori episodik atau ingatan rinci masa lalu.

Sebetulnya tidak hanya kenangan di masa lalu saja, namun juga bisa kejadian yang baru-baru ini.

Kendalanya terletak pada perincian dari kenangan tersebut. Penderita cenderung mengalami kesulitan menjelaskan kenangan tersebut secara mendalam dan hanya sebatas garis besar saja.

Seperti ditulis laman situs “fox news,” Selasa, 30 Agustus 2016,  para ilmuwan menganalisis hasil dari serangkaian tes memori yang dilaksanakan selama   enam tahun

Empat sesi tes memori tersebut melibatkan seribuan  penderita diabetes usia dewasa dan empat ribu  orang dewasa tanpa diabetes.

Peserta yang merupakan penderita diabetes kemampuannya sudah terbukti memburuk bahkan di putaran pertama tes memori.

Terlebih, sebagian besar dari mereka juga mengalami penurunan drastis pada fungsi daya ingat saat penelitian berakhir.

“Kami menyadari bahwa penyakit diabetes tidak hanya membawa dampak buruk pada kesehatan fisik kita saja, namun juga mempengaruhi hal lain,” ujar Colleen Pappas, Ilmuwan dari University of South Florida, Tampa, AS.

Ia menambahkan, “Penelitian kami menguak pengaruh buruk diabetes pada hal lain seperti daya ingat manusia yang fungsinya menjadi kurang efektif dari waktu ke waktu.”

Meski penelitian belum bisa secara akurat memastikan alasan di balik adanya dampak buruk diabetes pada daya ingat atau memori manusia, namun dugaan kuat terpaku pada peningkatan gula darah dalam tubuh.

Saat kadar gula dalam darah melampaui batas normal, sel dalam otak kita akan terganggu kerjanya dan jaringan pembawa pesan ke hippocampus, bagian dari otak yang mengendalikan memori, semakin lama semakin rusak dan tidak berfungsi seperti semestinya.

Orang-orang dengan diabetes memang berisiko tinggi terkena komplikasi berbagai penyakit lain seperti serangan jantung atau stroke, pada usia yang relatif masih muda. Tapi ternyata risikonya tidak hanya itu.

Sebuah penelitian lainnya  di Jepang menunjukkan bahwa penderita diabetes juga sangat rawan terkena penyakit alzheimer.

Studi terhadap lebih dari seribu pasien laki-laki dan perempuan berusia di atas enam puluh menunjukkan, bahwa mereka yang terkena diabtes memiliki risiko dua kali lebih besar terkena alzheimer dibanding mereka yang tidak memiliki diabetes, untuk kurun waktu lima belas tahun.

Penderita diabetes itu juga punya resiko satu koma tujuh puluh lima kali lebih tinggi terkena demensia.

Demensia adalah gangguan intelektual/daya ingat yang umumnya progresif dan ireversibel. Umumnya terjadi pada orang berusia di atas enam puluh lima.

“Penting untuk dimengerti bahwa diabetes sangat signifikan resikonya terkena semua tipe demensia,” kata Rachel Whitmer, PhD, ahli epidemiologi pada divisi riset Kaiser Permanente Northern California, sebuah organisasi kesehatan nonprofit yang bermarkas di Oakland.

Namun Whitmer juga mengakui, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai kaitan antara diabetes dan demensia.

“Studi baru itu berhasil dengan baik, dan memberikan bukti yang bagus, bahwa orang dengan diabetes punya risiko yang lebih besar,” ujarnya. “Tapi kita harus melihat studi-studi yang lain untuk mencari tahu mengapa?”

Diabetes bisa menyebabkan demensia melalui beberapa cara, yang oleh para peneliti masih dipilah-pilah.

Resistensi pada insulin yang menyebabkan gula darah tinggi, dan pada sejumlah kasus mengarah pada diabetes tipe 2, bisa saja merusak kemampuan tubuh untuk mem-break down protein (amyloid) yang membentuk plak otak yang terkait dengan alzheimer.

Gula darah yang tinggi juga memproduksi molekul yang mengandung oksigen yang bisa merusak sel-sel, dalam proses yang disebut stress oksidatif.

Selain itu, gula darah dan kolesterol yang tinggi berperan untuk memperkeras dan mempersempit arteri pada otak.

Kondisi yang dikenal sebagai atherosclerosis ini bisa menyebabkan vascular demensia, yang terjadi saat arteri yang tersumbat membunuh jaringan otak.

“Memiliki glukosa yang tinggi merupakan pemicu stres bagi sistem saraf dan pembuluh darah,” ujar  David Geldmacher, MD, Professor Neurology pada Universitas Alabama di Birmingham. “Informasi yang muncul pada penyakit alzheimer dan glukosa menunjukkan kepada kita, bahwa kita perlu untuk tetap waspada terhadap kadar gula darah seiring bertambahnya usia.

Bila penderita diabetes tidak peduli dengan kondisinya atau sembrono, yang diidap tak hanya kencing manis, melainkan beberapa penyakit lain yang berpotensi muncul akibat diabetes mellitus ini.

Di dalam tubuh diabetes tidak hidup sendiri. Ada diabetes dengan hipertensi, diabetes dengan asam urat, dan diabetes dengan kolesterol tinggi

Bila diabetesi  sudah mengalami komplikasi, pasti akan sering ke dokter, periksa gula darah dan bakal minum banyak obat kalau mau hidup nyaman.

Pradana mencatat, setidaknya diabetesi akan  lebih sering mengunjungi dokter atau klinik.

Sayang, sedikit sekali dokter yang memberikan pemahaman menyeluruh dan memadai mengenai penyakit yang diderita pasien-pasiennya.

Edukasi yang saya maksud adalah memberitahu soal bahaya diabetes kepada orang yang belum pernah terkena diabetes. Sedangkan untuk orang yang sudah terkena diabetes, edukasi itu penting untuk mengingatkan pasien agar rajin berobat.

Komentar