Kualitas Tidur Itu Puncak Bahagia

Penulis: Darmansyah

Senin, 20 Maret 2017 | 09:47 WIB

Dibaca: 1 kali

Sebuah penelitian terbaru dari University of Warwick di Inggris, mengungkapkan kebahagiaan yang didapat ketika Anda rutin mendapatkan tidur yang berkualitas, bisa terasa seperti menang lotre.

Sehingga, kebiasaan tidur ini bisa menjadi investasi terbaik bagi kesehatan.

“Kebiasaan tidur yang sehat secara langsung terhubung ke peningkatan kesehatan dan kebahagiaan. Namun, kebahagiaan optimal sangat dipengaruhi oleh kualitas tidur ketimbang dari jumlah jam tidur yang Anda dapatkan,” kata Nicole Tang, penulis utama studi dan seorang profesor di Warwick’s Department of Psychology.

“Sehingga, komitmen untuk melakukan kebiasaan sehat yang meningkatkan kualitas tidur juga penting.”

Tidak mengherankan, bila sebaliknya, yaitu kesehatan tidur dan kebiasaan tidur yang buruk, seperti waktu tidur terlambat dan penggunaan alat bantu tidur, memiliki efek berlawanan pada peningkatan kebahagiaan.

Ini justru menyebabkan keadaan emosional dan mental memburuk.

Tang menganjurkan untuk menghindari obat tidur sama sekali, dan tentu saja melatih kebiasaan tidur yang baik setiap malam, untuk mendapatkan tidur malam yang sehat.

Bahkan, katanya, masalah tidur adalah masalah kesehatan yang harus ditangani secara serius.

Selain itu, menurut National Sleep Foundation, kebiasaan tidur yang sehat ialah termasuk mendapatkan waktu tidur yang teratur, termasuk jadwal bangun yang teratur, berlatih ritual tidur yang santai mencakup meredupkan lampu terang dan apa pun yang menyebabkan kecemasan.

Selain itu, menghindari tidur siang, tidur di kamar dan kasur yang nyaman, dan menurunkan suhu di kamar tidur Anda di malam hari.

Kurang tidur terbukti menjadi salah satu faktor sistem imun lemah. Akibatnya, penyakit pun lebih mudah menyerang.

Penelitian untuk membuktikan hal tersebut dilakukan dengan melibatkan sebelas pasang orang dewasa kembar, mayoritas wanita.

Masing-masing pasangan kembar memiliki rutinitas tidur yang berbeda.

Kembar yang sering kurang tidur ternyata memiliki daya tahan tubuh lebih lemah.

Penelitian sebelumnya juga mengungkapkan bahwa orang yang kurang tidur lebih gampang tertular virus flu. Tidur sama pentingnya dengan pola makan dan olahraga untuk kesehatan.

“Tidur sangat penting untuk meregenerasi dan produksi protein untuk sel-sel imun. Hal ini akan membantu sistem imun berfungsi optimal,” kata Dr.Nathaniel Watson, profesor neurologi yang melakukan studi ini.

Walau pun para ahli merekomendasikan kita untuk tidur tujuh hingga delapan jam setiap malam, tapi rata-rata orang tidur kurang dari enam jam di malam hari.

Penelitian menunjukkan kurang tidur dapat berakibat serius, yaitu hilangnya sel otak bahkan berisiko menyebabkan otak rusak permanen.

Studi pada tikus menunjukkan kurang tidur berkepanjangan menyebabkan 25 persen sel otak tertentu mati.

Menurut ilmuwan Amerika, pada manusia yang kurang tidur, hal yang sama bisa saja terjadi meskipun manusia berusaha mengganti waktu tidurnya atau mengonsumsi obat untuk melindungi otak.

Penelitian yang diterbitkan oleh The Journal of Neuroscience ini meneliti tikus di laboratorium. Perilaku tikus tersebut meniru jenis-jenis kurang tidur pada umumnya dalam kehidupan modern, seperti bekerja pada shift malam atau menghabiskan waktu berjam-jam di kantor.

Tim peneliti dari University of Pennsylvania School of Medicine mempelajari sel-sel otak tertentu yang terlibat dalam menjaga sistem peringatan otak.

Para peneliti mengatakan ini adalah bukti pertama bahwa kurang tidur dapat menyebabkan hilangnya sel-sel otak.

Tapi mereka menambahkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengetahui apakah orang-orang yang kehilangan waktu tidur mungkin juga berada pada risiko kerusakan otak permanen.

“Kami sekarang memiliki bukti bahwa kurang tidur dapat menyebabkan kerusakan permanen. Ini adalah contoh sederhana yang ditunjukkan pada hewan namun kita harus berhati-hati pada manusia,” kata Sigrid Veasey dari Center for Sleep and Circadian Neurobiology.

Dia mengatakan, perlu ada langkah berikutnya untuk menguji otak para pekerja shift setelah adanya bukti kematian dari hilangnya sel-sel otak.

Dampak negatif kurang tidur dan terkena pukulan ternyata sama berbahayanya bagi otak.

Menurut hasil penelitian, kondisi keduanya sama-sama menghasilkan senyawa kimia, yang mengindikasikan otak dalam kondisi bahaya.

Menurut para ahli dari Uppsala University, Swedia, Christian Benedict, senyawa tersebut adalah NSE dan S-100B

“Adanya racun dalam otak diindikasikan dengan NSE dan S-100 B yang meningkat. Tidur memungkinkan pembersihan otak dari racun, yang ditandai menurunnya kedua senyawa dalam otak,” katanya.

Menurut Benedict, hasil riset ini mendukung studi sebelumnya yang mengatakan, otak menggunakan tidur untuk membersihkan dirinya.

Hasil riset juga mendukung studi yang menghubungkan peningkatan risiko Alzheimer, Parkinson, dan multiple sclerosis, dengan kekurangan tidur.

Peningkatan produksi NSE dan S-100 B, kata Benedict, meningkatkan risiko kehilangan jaringan otak. Hal ini lebih mungkin terjadi pada orang yang kurang tidur, meski dalam kondisi sehat dan berusia muda.

“Pada akhirnya, riset ini membuktikan pentingnya kualitas tidur demi kesehatan otak yang lebih baik,” kata Benedict, yang risetnya dimuat dalam jurnal Sleep.

Saat ini sekitar sepertiga penduduk Inggris menderita penyakit akibat kekurangan tidur. Kebanyakan orang rata-rata hanya tidur tujuh jam sehari.

Padahal beberapa dekade yang lalu seseorang bisa tidur hingga sembilan jam sehari.

Hal ini diperparah dengan pola tidur yang tidak teratur.

Peneliti percaya, pola tidur yang tidak teratur dan kurang dari seharusnya, mengakibatkan beragam penyakit yang diderita masyarakat saat ini.

Penyakit ini mulai dari sekedar pegal atau sakit di bagian tertentu, hingga serangan jantung.

Komentar