Kopi Mampu Mempengaruhi Mental Anda

Penulis: Darmansyah

Senin, 24 Juli 2017 | 08:08 WIB

Dibaca: 0 kali

Apakah Anda seorang penggemar kopi pahit?

Kalau jawabannya iya, maka ada  kemungkinan kepribadian  Anda seorang psikopat.

“Tuduhan”  ini tidak main-main. Karena ia berdasarkan hasil sebuah studi terbaru dan ditulis oleh majalah sangat prestideus “reader’s digest”

Menurut studi terbaru itu orang yang menyukai kopi hitam dan pahit cenderung memiliki kepribadian psikopat.

Tulisan itu didasarkan atas  survei yang dilakukan tim dari Universitas Inssbruck Austria terhadap seribuan orang dewasa seputar pilihan rasa.

Selain itu, para responden juga mengikuti empat tes kepribadian untuk mengetahui apakah mereka memiliki karateristik kepribadian machiavelianism seperti narsisme, psikopat, sadisme, dan agresif.

Ternyata ditemukan korelasi antara kopi hitam dan rasa pahit lainnya dengan tipe kepribadian psikopat atau sadistik.

Selain itu, orang yang lebih menyukai kopi manis atau dicampur susu, serta minuman manis lainnya, secara umum punya tipe kepribadian “menyenangkan” seperti simpati, bekerja sama, dan baik.

Orang yang psikopat pada umumnya memiliki tingkat kepercayaan diri dan kecerdasan di atas rata-rata.

Namun, mereka minim empati.

Mereka cenderung memanipulasi orang lain.

Kaitan paling dekat ditemukan antara makanan pahit seperti lobak dan air tonik, dengan “sadisme sehari-hari” atau kenikmatan melihat kesakitan tingkat moderat pada orang lain.

Meski begitu, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Appetite ini menyebutkan bahwa “pahit” adalah istilah yang subjektif dan mungkin pengertiannya sangat terbatas dalam studi tersebut.

Para peneliti itu juga tidak yakin apa yang menyebabkan kaitan antara pilihan rasa pahit dengan tipe kepribadian “tidak menyenangkan”.

Penting juga diketahui bahwa pilihan rasa seseorang sangat dipengaruhi oleh budaya dan pengalaman, jadi bukan hanya oleh tipe kepribadian.

Pilihan rasa kita pada makanan dan minuman juga terus mengalami perubahan.

Misalnya saja saat kecil kita mungkin tidak menyukai sayuran, atau sebagian besar orang tidak suka rasa kopi saat pertama mencobanya.

Peminum kopi hitam pada umumnya adalah orang yang lebih peduli kesehatan.

Kopi murni, tanpa tambahan gula atau susu, memiliki banyak manfaat bagi tubuh.

Banyak penelitian telah memelajari efek minuman terhadap kesehatan fisik

Kopi, bukan hanya mengandung antioksidan yang bagus untuk tubuh, tapi juga punya manfaat untuk kesehatan mental

Menurut Vinita Mehta Ph.D., Ed.M., psikolog klinis di Washington D.C. ada beberapa  manfaat minum kopi bagi psikologis kita.

Ada penelitian yang menyebutkan bahwa kafein dalam dosis normal dapat meningkatkan kinerja perilaku dan kognitif sederhana.

Peneliti menemukan bahwa ketika mengonsumsi dua ratus miligram kafein atau setara dengan dua sampai tiga cangkir kopi tiga puluh  menit sebelum melakukan tugas verbal, kemampuan relawan mengingat kata-kata dengan konotasi positif meningkat.

Menariknya, hal yang sama tidak terjadi pada pada kemampuan memroses kata-kata netral atau negatif.

Para peneliti menduga, mungkin ini terjadi karena kemampuan kafein membangkitkan neurotransmiter dopamin.

Dopamin adalah hormon yang dikenal sebagai hormon kesenangan atau hormon pengatur rasa senang.

Telah ada berbagai penelitian yang menekankan pentingnya kontak fisik yang penuh kasih sayang ketika manusia berada di awal-awal kehidupannya.

Kontak fisik hangat yang diterima seorang anak akan turut memengaruhi kemampuannya menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain, ketika si kecil beranjak dewasa.

Riset mengatakan, bagian otak yang disebut insula lah yang berperan dalam mengeratkan hubungan antara sentuhan hangat dengan kemampuan menjalin hubungan baik.

Berdasarkan studi ini, ada peneliti yang merasa penasaran, apakah ada hubungannya antara bersentuhan dengan benda panas/dingin dengan kemampuan seseorang berempati kepada orang lain.

Kemudian, peneliti merekrut beberapa relawan. Relawan-relawan itu diminta naik lift bersama peneliti sambil memegang secangkir kopi.

Ada yang memegang kopi panas/hangat, ada yang memegang es kopi. Sementara peneliti menuliskan beberapa informasi yang dilihatnya.

Tak lama setelah itu, peserta diminta untuk membaca deskripsi mengenai orang asing dan diminta untuk mengevaluasi kepribadian orang asing tersebut.

Ada juga penelitian yang menemukan persepsi rasa terhadap kopi, tergantung pada cangkir yang mewadahi kopi tersebut.

Penelitian ini melibatkan sejumlah relawan yang diminta minum café latte panas dari mug putih, biru, dan transparan.

Peserta diminta menilai “intensitas” rasa kopi yang mereka minum. Hasilnya, para peserta penelitian berkata bahwa kopi terasa lebih intens ketika diminum dari cangkir putih, dan terasa paling kurang intens jika diminum dari cangkir transparan.

Kopi juga terasa paling tidak manis jika ditempatkan di cangkir putih dan paling terasa manis jika diminum dari cangkir biru.

Para peneliti menegaskan, bahwa kekontrasan warna antara kopi dengan warna cangkir, mungkin memengaruhi intensitas dan manisnya kopi yang dirasakan para relawan.

Kopi yang berwarna hitam paling kontras dengan cangkir berwarna putih. Karena itulah, jika ditempatkan di wadah putih, kopi terasa paling intens dan kurang manis.

Selain masalah kaitan kopi pahit dengan tingkah psikopat, “reader’s digest,” juga menulis  bahwa kopi  memiliki kegunaan lain.

Menurut penelitian yang dimuat di Nature Medicine, kafein diyakini bisa membantu menghilangkan rasa sakit.

Dalam sebuah study, para peneliti memberi mainan dan berbagai aktivitas pada tikus percobaan agar mereka tetap bangun.

Hal ini dilakukan untuk meniru kondisi manusia yang kurang tidur. Setelah lima hari dibuat kurang tidur, para tikus ini ternyata menjadi lebih sensitif terhadap rasa sakit.

Lalu para peneliti memberikan obat penghilang rasa sakit seperti ibuprofen dan morfin untuk melihat apakah kedua obat itu menghambat rasa sakit ekstra yang diakibatkan kurang tidur.

Hasilnya ternyata ibuprofen tidak membantu menurunkan rasa sakit, sementara morfin yang sering digunakan untuk menghilangkan nyeri hebat, juga tidak terlalu efektif.

Ini memunculkan anggapan bahwa orang yang menggunakan obat-obatan serupa untuk menghilangkan rasa sakit saat mereka juga kurang tidur mungkin harus meningkatkan dosisnya agar efeknya terasa.

Namun hal itu memunculkan kekuatiran akan efek samping bila obat dipakai pada dosis tinggi.

Tetapi saat para peneliti memberikan obat-obatan agar mereka terjaga, seperti kafein dan modafinil, ternyata keduanya justru bisa memblokir rasa sakit yang dipicu kurang tidur.

Kafein dan modafinil memicu produksi dopamin di otak, yang mungkin memiliki peran untuk menghilangkan sakit, walau bagaimana keduanya bekerja masih belum jelas.

Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa tidur cukup dan mengkonsumsi zat yang membuat kita terjaga, seperti kopi, bisa menjadi strategi jitu untuk menghilangkan rasa sakit kronis.

Namun masih diperlukan riset lebih jauh terhadap manusia untuk menentukan berapa lama tidur yang dibutuhkan agar rasa sakit berkurang dan apakah kafein bisa membantu menghilangkannya.

Komentar