Kolesterol Baik Sering Dibuat Salahkaprah

Penulis: Darmansyah

Senin, 15 Agustus 2016 | 15:16 WIB

Dibaca: 0 kali

Sebuah studi  berskala besar yang dipublikasikan dalam Clinical Journal of the American Society of Nephrology, Senin, 15 Agustus 2016,  disebutkan bahwa kadar HDL yang tinggi tidak lebih baik seperti dipercaya selama ini.

Selam ini diyakini, kolesterol HDL disebut “baik” karena kerjanya membersihkan lemak dari pembuluh darah.

Setiap orang yang memiliki kadar HDL rendah beresiko tinggi menderita penyakit jantung, sebaliknya dengan orang yang kadar Kolesterol baiknya tinggi.

Clinical Journal of the American Society of Nephrology menyatakan kadar HDL yang tinggi belum tentu akan  lebih baik.

Menggunakan data selama satu dekade, diketahui bahwa walau kadar HDL yang rendah meningkatkan risiko kematian, tapi demikian juga halnya dengan orang yang level HDL-nya tinggi.

Risiko kematian dini ternyata lebih rendah pada mereka yang nilai HDL-nya sedang.

Studi tersebut mungkin memang perlu dikuatkan dengan penelitian lebih dalam, tetapi karena dilakukan dalam periode lama dan partisipan yang besar, maka studi tersebut cukup kuat.

Sebuah penelitian terkait obat untuk menaikkan kadar HDL juga memberi hasil yang mirip.

Walau obat itu didesain untuk meningkatkan Kolesterol baik, tetapi tidak ditemukan peningkatan dalam kesehatan jantung.

Ketika kita membicarakan Kolesterol, langsung ada dua kategorisasi yang muncul, yakni Kolesterol jahat  atau dikenal dengan LDL dan  Kolesterol baik yang disebut HDL

Jenis Kolesterol yang terakhir ini berdampak positif dalam peredaran darah.

Kolesterol LDL, HDL, dan trigliserida, menghasilkan Kolesterol total, angka ajaib yang mungkin akan dokter minta untuk Anda turunkan angkanya.

Dari ketiga komponen lemak darah itu, Kolesterol HDL harus kita tambah kadarnya.

Karena Kolesterol tidak bisa larut dalam darah, maka diperlukan lipoprotein untuk mengangkutnya ke dan dari sel.

Kolesterol baik bekerja untuk menyapu Kolesterol jahat dari pembuluh darah, lalu membawanya ke liver, ginjal, ovarium, dan testis.

Singkat kata, Kolesterol HDL adalah Kolesterol baik karena ia menyingkirkan Kolesterol jahat dari tubuh.

Kolesterol ini juga mengurangi risiko pengerasan pembuluh darah sehingga kita terhindar dari serangan jantung.

Penelitian juga menunjukkan, kadar Kolesterol baik yang kurang bisa meningkatkan risiko kehilangan memori dan demensia.

Pada orang yang sehat, tiga puluh  persen dari darahnya dibentuk dari Kolesterol baik.

Selama ini juga diyakini, Kolesterol identik dengan orang gemuk.

Padahal orang dengan badan kurus juga bisa terkena masalah kesehatan akibat Kolesterol.

Prevalensi orang kurus dan gemuk terkena masalah Kolesterol sama besarnya. Karenanya, orang yang berbadan kurus tetap harus waspada akan kadar kolesterolnya.

“Orang kurus terkena masalah Kolesterol biasanya diakibatkan oleh gaya hidupnya.

Misalnya, kebiasaan merokok atau minum alkohol. Bisa juga karena faktor keturunan,” ujarnya.

Cuma pada orang kurus sebetulnya penangananya lebih mudah karena tak harus menurunkan berat badan.

Kolesterol atau lemak buruk di dalam tubuh adalah penentu tinggi atau rendahnya risiko penyakit serius, seperti jantung, stroke, dan pembuluh darah.

Kolesterol tinggi sering disebut silent killer karena bagi kebanyakan orang, tidak ada tanda-tanda atau gejala awal yang terlihat atau terasa dengan jelas.

Secara umum, Kolesterol atau lemak buruk di dalam tubuh adalah penentu tinggi atau rendahnya risiko penyakit serius, seperti jantung, stroke, dan pembuluh darah.

Kolesterol tinggi sering disebut silent killer karena bagi kebanyakan orang, tidak ada tanda-tanda atau gejala awal yang terlihat atau terasa dengan jelas.

Namun, tidak semua orang dengan tanda-tanda ini akan memiliki Kolesterol tinggi.

Penting untuk diingat bahwa Kolesterol tinggi hanya salah satu faktor risiko

Komentar