Ketika Senin Menjadi Hari “Menyiksa”

Penulis: Darmansyah

Rabu, 9 September 2015 | 15:06 WIB

Dibaca: 0 kali

Apakah Anda menyadari bahwa hari Senin, setiap pekan, menjadi hari paling menyengsarakan?
Jawabannya pasti iya.

Kala hari Senin datang Anda pasti uring-uringan. Malas pergi ke kantor?

Beberapa studi menunjukkan demikian. Hari Senin sebagai hari paling menjenuhkan untuk bekerja bagi para pegawai.

Mengutip laman Magforwomen, dua hari libur selalu terasa berlalu begitu cepat, saat Anda kembali harus menghadapi tumpukan pekerjaan di awal pekan.

Banyak pegawai yang bahkan merasa hari Senin memberikan tekanan sendiri saat bekerja.

Ya! Juga, menurut studi dari Oxford University, Inggris, selalu dirasa sebagai hari yang paling berat. Menyengsarakan.

Bagaimana tidak. Di hari permulaan setiap pekan itu tidak ada lagi waktu saat santai.

Anda harus mempersiapkan diri bangun lebih pagi, lebih intens mempersiapkan diri, lebih ingat waktu dan lebih ingat bagaimana harus menghadapi kegaduhan di jalanan. Apalagi kemacetan.

Jangan stress?

Bagaimana tidak, memikirkannya saja sudah ribet. Meeting, kemacetan, & setumpuk pekerjaan. Ya akibatnya metabolisme tubuh menurun

Bagi ilmuwan di Oxford University studi mengenai kebiasaan kerja ‘9 to 5’ alias jam kerja yang dimulai dari pukul 9 pagi hingga 5 sore, menjadi obyek penelitian dikaitkan dengan tekanan yang dihadapi setiap pekerja.

Lantas apa yang dihasilkan oleh penelitian itu.

Sungguh mengejutkan.

Para ilmuwan menyimpulkan siklus kerja itu sangat berbahaya dan imbasnya bisa mempercepat “kematian.”

“Tubuh punya sistem sirkadian yang mengatur kapan kita harus bangun dan kapan kita harus tidur,” ujar Dr Paul Kelley, ketua studi, dilansir Metro.co.u, mencoba menjelaskan detil penelitiannya.

Menurut Kelley, tubuh yang dipaksa bangun pagi untuk bekerja membuat otak tidak bisa fokus. Akhirnya, tubuh semakin merasa lelah sehingga tidak produktif.

Untuk itu, Kelley menganjurkan agar jam kerja dimundurkan selama satu jam.
“Pukul 10 pagi adalah waktu yang tepat untuk mulai bekerja. Tubuh lebih segar dan otak lebih fokus,” kata dia.

Kelley menambahkan, karyawan yang merasa kekurangan tidur bukanlah karyawan yang produktif. Kekurangan tidur juga berpengaruh terhadap kesehatan tubuh secara umum.

“Itu memengaruhi fisik dan emosi. Kurang tidur menyebabkan banyak penyakit kronis yang dialami masyarakat sekarang ini,” ucap Kelley.

Tak banyak orang yang mampu menaklukkan rasa stres di hari itu.

Lantas apa jurus yang harus dipakai untuk sekadar menetralisirnya?

Pertama, mungkin, selalu dengan persiapan. Mempersiapkan diri dan segala kebutuhan sebelum melangkah bekerja merupakan salah satu kunci utama menggapai kesuksean.

Lebih dari itu, persiapan yang matang dapat mengurangi tekanan di pikiran, terutama menyambut pekerjaan usai berlibur.

Salah satu alasan besar mengapa banyak orang selalu merasa cemas adalah karena dirinya tidak siap.

Kedua, optimis saja. Pikiran positif seringkali dapat menimbulkan kegembiraan dan menjauhkan rasa stres. Tak heran, jika orang sukses selalu berpikiran optimistis.

Bahkan sembilan puluh persen orang sukses tercatat sangat baik dalam mengelola emosinya. Mereka tak mudah merasa cemas dan panik tapi lebih mendahulukan pikiran-pikiran positif.

Ini dia kunci utama. Sabar. Rasa tidak sabar ingin segera mengakhiri berbagai pekerjaan di hari Senin seringkali justru menambah tekanan dalam diri Anda. Orang sukses selalu belajar untuk tidak pernah tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu.

Jika stres, dirinya akan diam sejenak dan berpikir bagaimana seluruh pekerjaan dapat dituntaskannya. Bersabar adalah salah satu kuncinya.

Komentar