Kesepian? Risiko Kematian Pasien Jantung

Penulis: Darmansyah

Selasa, 26 Juni 2018 | 09:20 WIB

Dibaca: 1 kali

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa kesepian dapat meningkatkan risiko kematian pada pasien dengan penyakit jantung.

“Kesepian adalah prediktor kuat akan kematian dini, kesehatan mental yang buruk, dan rendahnya kualitas hidup pasien dengan penyakit kardiovaskular,” kata Anne Vinggaard Christensen, mahasiswa doktoral di Copenhagen University Hospital dikutip dari NDTV.

Studi dipresentasikan pada kongres tahunan perawat EuroHeartCarei Dublin Irlandia.

Studi mengungkap kesepian berkaitan dengan risiko kematian dua kali lipat pada perempuan dan kurang dari dua kali lipat pada laki-laki.

Tim periset memeriksa tiga belas ribu lebih pasien dengan penyakit jantung iskemik, aritmia, dan gagal jantung.

Mereka menginvestigasi kaitan jaringan kehidupan sosial dengan memburuknya kondisi kesehatan pasien.

Rasa kesepian ternyata berhubungan dengan kondisi buruk pasien penyakit jantung.

Kurangnya dukungan sosial berhubungan dengan memburuknya kondisi kesehatan.

Orang kadang merasa kesepian menurut penelitian ternyata juga memiliki gaya hidup tak sehat dan banyak dipengaruhi stres.

“Tetapi saat kami menyesuaikan dengan gaya hidup dan banyak faktor lain di analisis kami, kami masih menemukan bahwa kesepian buruk untuk kesehatan,” imbuhnya.

Menurut petunjuk pencegahan penyakit kardiovaskular di Eropa, orang yang terisolasi atau tak terhubung dengan orang lain akan meningkatkan risiko kematian dini akibat penyakit arteri koroner.

Memastikan kesehatan jantung berkaitan dengan banyak faktor, salah satunya asupan makanan.

Beberapa pilihan makanan disarankan untuk jantung yang sehat seperti oatmeal, kacang-kacangan, beri dan flaxseed.

Selain itu, kesepian juga dapat memperburuk kondisi emosi seseorang sehingga memicu stress.

Tidak seperti stress pada umumnya, stress yang disebabkan kesepian cenderung bertahan lama dan selalu terjadi berulang saat seseorang sedang mengalami suatu masalah.

Stress kronis akibat merasa kesepian dapat menyebabkan kondisi depresi dan fobia sosial, bahkan meningkatkan kecenderungan seseorang untuk bunuh diri.

Seiring dengan pertambahan usia, seseorang orang yang mengalami kesepian akan lebih cepat mengalami penurunan fungsi kognitif.

Hal ini dikarenakan interaksi sosial juga berpengaruh terhadap cara kerja otak dan kekuatan memori, sehingga orang mengalami kesepian lebih berisiko mengalami penurunan fungsi pada sistem saraf pusat.

Suatu penelitian juga menunjukkan bahwa merasa kesepian meningkatkan risiko dementia sebesar enam puluh empat persen pada usia lanjut.

Salah satu dampak dari merasa kesepian adalah menurunnya kemampuan untuk mengendalikan pikiran dan emosi, sehingga memicu perubahan perilaku.

Pada umumnya, individu yang mengalami kesepian akan sulit untuk mempertahankan gaya hidup yang sehat.

Menurunnya kesehatan fisik merupakan efek samping dari merasa kesepian. Terdapat beberapa mekanisme tubuh yang merupakan suatu respon dari dampak kesehatan mental dan perubahan perilaku pada individu yang merasa kesepian.

Waktu tidur sangat diperlukan untuk tubuh beregenerasi secara optimal. Kurangnya waktu tidur dapat menurunkan kualitas tidur, kelelahan pada siang hari, dan perubahan pola tidur.

Salah satu penyebab gangguan tidur adalah gangguan emosi yang disebabkan oleh kesepian. Hubungan antara kesepian dengan gangguan tidur memiliki pola seperti siklus.

Rasa kesepian pada malam hari menyebabkan kesulitan untuk relaksasi dan menyebabkan terbangun di tengah-tengah waktu tidur.

Selanjutnya, hal tersebut menyebabkan kurangnya waktur yang berkualitas dapat meningkatkan efek stress akibat kesepian.

Pada kenyataannya, sistem imunitas tidak hanya bereaksi terhadap ancaman pathogen, namun kondisi emosi pada seseorang yang mengalami kesepian dapat mempengaruhi kinerja sistem imun.

Saat sedang stress kronis karena kesepian, otak merespon lingkungan sekitar sebagai ancaman, dan hal ini juga berpengaruh terhadap ketahanan tubuh.

Oleh karena itu, sistem imun tidak dapat bekerja optimal melawan pathogen yang bersamaan dengan kondisi stress.

Di samping gangguan psikologis, merasa kesepian memicu reaksi abnormal yang berdampak pada sistem kardiovaskuler.

Para peneliti dari Harvard seperti dilansir oleh Telegraph mengatakan bahwa tubuh juga merespon stress akibat kesepian dengan memproduksi protein fibrinoge,n yang biasanya diproduksi saat tubuh mengalami luka.

Selain itu, kondisi stress kronis juga memicu peningkatan hormon kortisol yang mempengaruhi kinerja jantung dalam memompa darah.

Mekanisme abnormal tersebut menyebabkan gangguan aliran, sehingga memicu kondisi arterosklerosis dan hipertensi.

Suatu penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa individu yang memiliki interaksi sosial yang buruk memiliki risiko terkena penyakit jantung koroner dan stroke lebih tinggi

Hingga saat ini, berbagai penelitian menunjukkan merasa kesepian adalah suatu penyebab penurunan kualitas kesehatan fisik seseorang.

Pada dasarnya kesepian itu sendiri bukanlah fakta, melainkan suatu persepsi atau keadaan emosi terhadap hubungan sosial seseorang, dan hal ini bukan disebabkan oleh kesendirian.

Komentar